Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Kapitalisme Kolonial dan Penjajahan Baru di Tanah Papua
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Artikel > Kapitalisme Kolonial dan Penjajahan Baru di Tanah Papua
ArtikelCatatan Aktivis Papua

Kapitalisme Kolonial dan Penjajahan Baru di Tanah Papua

admin
Last updated: June 9, 2025 14:23
By
admin
Byadmin
Follow:
328 Views
1 year ago
Share
SHARE

Oleh: Victor Yeimo

Iklan Nirmeke

Bahlil Lahadalia dan Politik Identitas Apropriatif

Bahlil Lahadalia, seorang Menteri Investasi asal Sulawesi, kerap mengklaim diri sebagai “anak Papua” untuk mendapatkan legitimasi sosial dan politik. Secara teoritis, ia mewakili apa yang dapat disebut sebagai agen apropriatif kolonial—individu yang memanfaatkan klaim identitas demi menjalankan proyek hegemonik pusat atas wilayah pinggiran.

Sebagai pejabat negara, Bahlil tidak lagi sekadar pelaksana kebijakan, tetapi telah menjelma menjadi agen ideologis dan teknokratis dari kapitalisme kolonial. Ia menjadi manajer kekuasaan yang menyamarkan kolonialisme sebagai representasi lokal.

Proyek Strategis Nasional: Infrastruktur Perampasan

Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digulirkan di Papua sejatinya bukan pembangunan untuk rakyat, melainkan mega-infrastructure of dispossession. Proyek ini berfungsi sebagai mekanisme primitive accumulation (akumulasi primitif) ala abad ke-21—di mana negara menjadi alat legal untuk merampas tanah, hutan, dan ruang hidup rakyat Papua.

Di Merauke, 2,3 juta hektare lahan adat dirampas untuk proyek klaster pangan dan energi. Di klaster 2 (Wogikel–Wanam seluas 283.000 ha) dan klaster 3 (Tanah Miring–Jagebob seluas 39.579 ha), korporasi seperti Jhonlin Group menggunduli hutan dengan perlindungan aparat negara. Sementara di Fakfak, dibangun Kawasan Industri Pupuk seluas 2.000 hektare—ini adalah bentuk ekosida legal yang dilakukan atas nama pembangunan.

Baca Juga:  Breaking News! 21 Aktivis KNPB Ditangkap Polisi Saat Bagi Selebar di Sentani

Kapitalisme Predatorik dan Kekerasan Simbolik

Oligarki seperti Jhonlin Group bukanlah investor, mereka adalah corporate raiders—kapitalis predatorik yang tidak membangun, tetapi menjarah. Mereka menciptakan surplus bukan melalui inovasi, tapi lewat perampasan. Istilah yang lebih tepat bagi mereka adalah perampok ekologis (ecological looters) dan kapitalis parasit (parasitic capitalists).

Dalam kerangka accumulation by dispossession (David Harvey, 2005), tanah dan kehidupan masyarakat adat dijadikan komoditas, dimasukkan ke dalam sirkuit kapital global. Yang dirampas bukan hanya sumber daya, tetapi juga ontologi hidup masyarakat: makna, spiritualitas, dan relasi sakral dengan tanah.

Militerisme dan Necropolitik

PSN di Papua juga menunjukkan logika necropolitik (Achille Mbembe, 2003)—yakni kekuasaan negara yang menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang bisa dimatikan. Militerisme menjadi pendamping teknokrasi. Rezim yang terbentuk adalah rezim militer-kapitalis, di mana kekuatan uang dan senjata bersekutu dalam menduduki ruang hidup rakyat.

Elite Lokal: Kolaborator Kolonialisme

Bupati, gubernur, DPRP, MRP, hingga elite adat adalah kolaborator lokal dalam proyek kolonialisme neoliberal ini. Mereka adalah bagian dari apa yang Frantz Fanon (1961) sebut sebagai “kelas menengah terjajah yang bermimpi menjadi penjajah.” Mereka meniru gaya dan retorika kolonialisme, dan menjadi pelumas mesin penghancur bernama PSN.

Baca Juga:  Mewaspadai Sindrom Politik " Tiba-Tiba Baik" Jelang Pemilu 2024 di Wamena

Dalam perspektif Gramscian, mereka adalah agen hegemonik yang menyulap eksklusi menjadi “partisipasi”, dan menyamarkan perampasan menjadi “kemajuan.” Mereka adalah pengkhianat kelas yang menjilat kekuasaan pusat demi akses pada sisa-sisa kekayaan.

Intelektual Penjinak dan Pemuka Agama Kooptatif

Tidak kalah berbahaya adalah peran akademisi dan pemuka agama kooptatif—apa yang Edward Said sebut sebagai intelektual organik kekuasaan kolonial. Mereka menyebarkan kebingungan, menekan kesadaran kritis, dan menyamarkan perlawanan sebagai dosa atau tindakan irasional.

Mereka adalah penjaga narasi resmi kolonialisme, bagian dari blok historis hegemonik yang bekerja untuk menjinakkan radikalisme rakyat, membunuh semangat pembebasan, dan mengamankan proyek ekstraktif di Papua.

Kesimpulan: Melawan Kolonialisme Baru

Kita harus membongkar peran para elite komprador yang menjadi perpanjangan tangan Jakarta. Kita harus menghadapi intelektual penjinak dan pemuka iman kooptatif sebagai bagian dari mesin pembius rakyat. Kita harus menamakan para investor predatorik sebagai perampok ruang hidup dan musuh rakyat.

Bangsa Papua harus keluar dari ilusi pembangunan dan jebakan negara kesejahteraan. Jalan kita adalah jalan pembebasan. Tidak ada kemerdekaan tanpa kesadaran. Tidak ada pembebasan tanpa perlawanan. Dan tidak ada perlawanan yang menang tanpa organisasi rakyat yang ideologis dan revolusioner.

)* (Aktivis Papua, Juru Bicara Internasional KNPB)

Related

You Might Also Like

Ketika Kita Berkata Jujur Tentang Papua, Maka Papua Sesungguhnya Bukan Indonesia

Wamena Berdarah Sulit Dilupakan

Mengurai Fakta Kasus Penyanderaan Nduga Antara Tahun 1996 dan 2023

Bunuh Sandera Pilot Philip Mark Marthens

Ulasan Film Maria Gadis Ambaidiru

TAGGED:Aktivis PapuaBahlil Lahadalia dan Politik Identitas ApropriatifJuru Bicara Internasional KNPBProyek Strategis Nasional

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Semangat Mama-Mama Papua Warnai Konferensi Baptis, Bupati Lanny Jaya Serahkan Rp1 Miliar
Next Article TPNPB-OPM Kodap III Ndugama-Darakma Keluarkan Pernyataan Sikap untuk Warga Sipil di Wamena
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Ojek Pangkalan Tujuan Kalkhote Bersyukur, FDS XV Beri Tambahan Penghasilan
Ekonomi & Bisnis
2 hours ago
FDS XV, Pengguna Jasa Speedboat Menurun, Motoris Keluhkan Pendapatan
Ekonomi & Bisnis
2 hours ago
Mandenas Dorong Juknis MBG Disesuaikan dengan Kondisi Papua
Nasional Tanah Papua
1 day ago
Legislator Papua Minta BGN Evaluasi Total Tata Kelola MBG
Nasional Tanah Papua
1 day ago
Baca juga
Catatan Aktivis Papua

Pesan Perpisahan Untuk Pilot Philip Mark Merthens

2 years ago
Catatan Aktivis Papua

Konten Bobon Santoso Bentuk Eksploitasi Komodifikasi Atas Identitas Dan Penderitaan Bangsa Terjajah di Papua

2 years ago
Catatan Aktivis PapuaSiaran Pers

Hendaknya Uskup Agung Merauke Berpihak Pada Masyarakat Adat Wogikel dan Wanam

2 years ago
Catatan Aktivis PapuaSeni & Budaya

Kebudayaan Dan Kekuasaan

2 years ago
Artikel

Owatne Ewe Watlaiklek (Manusia Bisa Hidup Selamanya)

3 years ago
ArtikelSeni & Budaya

Mengapa Saya Tidak Suka Disebut Suku Dani?

4 years ago
Catatan Aktivis PapuaKesehatan

Ronny Situmorang, Si Maling Uang Rakyat Kabupaten Keerom 2020 Kini Berjaya Di Dinkes Papua Pegunungan

2 years ago
ArtikelCatatan Aktivis PapuaPerempuan & Anak

“Kami Bukan Sekadar Konten” Perempuan Papua Menggugat Objektifikasi di Media Sosial

1 year ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?