Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Perjalanan Wisisi Asep Nayak
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Artikel > Perjalanan Wisisi Asep Nayak
Artikel

Perjalanan Wisisi Asep Nayak

admin
Last updated: March 4, 2023 10:18
By
admin
Byadmin
Follow:
4 years ago
Share
6 Min Read
SHARE

Asep Nayak lahir di Wamena pada 11 Januari 1999. Ia merupakan seorang mahasiswa broadcasting dan fotografi. Sehari-hari, sepulang dari kampus, Asep sering melanjutkan kegiatannya dengan hunting foto. Malamnya, ia akan suntuk dengan software Fruity Loop untuk menciptakan nada-nada Wisisi.

Iklan Nirmeke

Bagi Asep, panggilan akrabnya, fotografi adalah minat kedua yang ditempuh secara akademik, setelah musik yang dipelajari secara otodidak. Untuk mengasah minat yang kedua, ia mengikuti komunitas fotografi di mana anggotanya terdiri dari beberapa daerah seperti Pulau Jawa, Papua Barat, dan beberapa lainnya, yang paling tidak pernah tinggal di Papua. Di komunitas yang berbasis di media sosial Facebook inilah, Asep kemudian memamerkan karyanya. Meski demikian, yang melambungkan namanya adalah minat pertamanya, hingga terlibat dalam gelaran Biennale Jogja (BJ) XVI Equator #6 2021.

Keterlibatan Asep di BJ bukan sesuatu yang ujug-ujug. Beberapa tahun sebelumnya, ketika Asep keranjingan menciptakan musik Wisisi dan mengunggahnya di YouTube, muncul notifikasi komentar yang mengajak berdiskusi. Perkenalan berlanjut hingga bertukar nomor telepon.

Adalah Wok The Rock (Radio Isolasido) yang menghubunginya untuk datang ke Jogja dan tampil dalam Opening Ceremony Biennale Jogja XVI. Tawaran itu disambut Asep dengan senang hati. Tepat pada 3 Oktober 2021, ia tiba di Yogyakarta. Sepanjang di kota budaya ini, ia tinggal di Ruang Mes 56 dan ditemani oleh Kaler.

Bersama Kaler, kegiatan pertama Asep adalah hunting foto di bilangan Gunung Merapi, dua jam perjalanan dari kota Yogyakarta. Setelahnya, selayaknya wisatawan, ia mengunjungi Malioboro.

Tiga hari berselang, Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 resmi dibuka. Pada malam Opening Ceremony, Asep Nayak tampil di urutan terakhir dan berhasil menghentak panggung Jogja National Museum (JNM). Ia menampilkan kemampuannya dalam memainkan musik Wisisi dengan menggunakan DJ set untuk kali pertama, setelah sebelumnya hanya menggunakan komputer jinjing.

Musik Wisisi merupakan musik instrumental yang digunakan sebagai hiburan. Sejarah Wisisi atau Sapusa merupakan sebuah tarian dan budaya yang secara turun-temurun diwariskan oleh leluhur. Sebagaimana dilansir berita.papua.us, Wisisi adalah suatu ritual untuk melambangkan kebersamaan, kekompakan, dan antusiasme. Namun pada dasarnya, ritual ini digunakan untuk menghibur keluarga yang berduka.

Baca Juga:  Melihat 7 Buku Karya Markus Haluk Tentang Perjuangan dan Masa Depan Papua

Sekitar 1998, Wisisi ini dibawa oleh siswa-siswi Suku Moni dan Dani dari Intan Jaya ke Paniai untuk menempuh pendidikan. Pada 2002, Wisisi ini mulai popular dan kemudian diadopsi oleh masyarakat umum. Tidak hanya tarian dan nyanyiannya, musiknya pun kemudian diinovasikan oleh para pemuda, bedanya musik Wisisi sekarang tidak diperbolehkan diputar atau dimainkan pada acara duka, melainkan hanya digunakan untuk bersenang-senang. Wisisi dipandang sebagai suatu tradisi multifungsi, artinya ia bisa ditampilkan di mana saja, kapan saja, dan dalam situasi apa saja. Secara tidak sadar, akulturasi budaya akan menciptakan sebuah momen “dicoba” dan “mencoba”.1

Asep Nayak menjadi salah satu pemuda yang menciptakan musik Wisisi sesuai versinya, mengaransemen musik modern yang kemudian ia inovasikan sendiri. Berawal dari karya-karya Nikolas Wiligma, musisi Wisisi yang pertama kali didengar oleh Asep, yang dirasa keren dan bagus, ia tergugah untuk membuatnya juga. Mengulik-ngulik bagaimana cara membuatnya, apakah membutuhkan keyboard atau alat lainnya, atau apa saja yang diperlukan.

Beruntunglah ada yang membantu Asep dan memperkenalkannya dengan software Fruity Loops. Ia kemudian mempelajarinya sendiri secara otodidak. Sebagai dasarnya, Asep mengandalkan kemampuannya dalam bermain gitar sehingga lebih mudah dalam memainkan nada-nada dalam musik Wisisi.

Sudah sejak 2014 ia mempelajari musik Wisisi. Tak jarang ia mengerjakannya hingga larut malam, bahkan hingga pagi menjelang karena keasyikan dalam menciptakan musik tersebut.

Perjalanan Asep bersama musiknya itu tidak selalu diterima oleh masyarakat. Ada orang-orang yang tidak menyukai, menyepelekan, hingga dianggap hanya membuang-buang waktu karena hanya di depan laptop sepanjang hari. Namun hal tersebut tidak mematahkan semangatnya dalam berkarya. Ia yakin, apa yang dilakukannya bukan suatu hal yang merugikan orang lain.

Baca Juga:  Diam yang Terluka

Pada 2018, saat kuliah ke Jakarta, ia mendekati seorang.  Dari perkenalannya itu, ia kemudian dikenalkan dengan barang asing berupa handphone dengan segala fitur dan fasilitasnya.  Asep pun disarankan untuk mengunggah karya-karya musiknya ke media sosial. Dari sanalah awal mula Asep membuat akun YouTube.

Melalui Channel “Asep_Nayak”, karya-karya itu diunggah dan sekarang sudah memiliki 2.007 subscribers serta 271 video Dengan berbekal kesenangan dalam mengaransemen musik Wisisi, Asep berharap musiknya juga dapat dinikmati orang banyak. Kesuksesan Asep dalam memperkenalkan Wisisi ini rupanya memancing kemunculan musisi Wisidi lainnya, khususnya dari Papua.

Pada 2019, Asep Nayak mulai dikenal banyak orang, salah satunya adalah Ican Harem, yang berkomentar positif mengenai karyanya. Dari Ican, tumbuh pertemanan dan persahabat lainnya yang juga membawanya ke kota pelajar ini.

Tidak hanya tampil di pembukaan Biennale Jogja XVI Equator #6 2021, kegiatan Asep lainnya adalah lokakarya musik Wisisi yang diselenggarakan pada Ahad, 17 Oktober 2021 di JNM. Pada forum itu, ia akan membagikan ilmunya tentang  proses pembuatan musik wasisi menggunakan aplikasi Fruity Loops atau FL Studio yang memiliki berbagai versi. Aplikasi ini dipilih karena dirasa tidak terlalu berat jadi dapat diinstal pada laptop dengan spesifikasi yang tidak terlalu tinggi.

Di samping itu, Asep juga merasa dirinya sudah lebih menguasai aplikasi tersebut dibanding aplikasi lainnya. Durasi yang dialokasikan dalam lokakarya yaitu selama 3 jam, dengan pembagian waktu 2 jam untuk belajar menggunakan aplikasi Fruity Loops dan 1 jam untuk belajar tari Wisisi. Musik dan tari Wisisi bagai dua sisi mata uang yang memang tidak bisa dilepaskan .

Asep mengaku senang di Yogyakarta, khususnya dalam kegiatan Biennale Jogja XVI Equator #6 2021. Terinspirasi dari perkenalannya dengan banyak orang di Jogja, ia berharap dapat membentuk komunitas di Papua, dengan fokus utama mengembangkan musik Wisisi. (*)

Related

You Might Also Like

Melihat 7 Buku Karya Markus Haluk Tentang Perjuangan dan Masa Depan Papua

Allpino Tabuni: Dari Lanny Jaya Mengelilingi Dunia, Membuktikan Fotografi Bukan Sekadar Hobi

Peran Gereja Katolik Menuju Papua Mandiri dan Sejahtera

Mengapa Saya Tidak Suka Disebut Suku Dani?

Pulang Kampung Menjalankan Kelas Literasi Demi SDM Lanny Jaya

TAGGED:Asep NayakSeni Music PapuaWisisi Papua

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Asep Nayak Tampil di Nasional Opening Ceremony BJXVI Bienalle Jogya Equator
Next Article Tim Futsal Nindi Papua Juara I Turnament IPMNI CUP I Di Jayapura
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

12 Klub Resmi Lolos Screening, Liga 4 Papua Pegunungan Siap Bergulir
Olaraga
1 day ago
HMPJ Gelar Raker dan POF 2026–2027, Dorong Kualitas Mahasiswa di Era Globalisasi dan Digitalisasi
Pendidikan
2 days ago
Sekolah Adat Hugulama Diharapkan Jadi Rumah Belajar Budaya bagi Generasi Muda
Papua Pegunungan Pendidikan Seni & Budaya
2 days ago
Sidang Pleno II Musda I HIPMI Papua Pegunungan Tetapkan Antonius Wetipo sebagai Ketua Umum
Ekonomi & Bisnis Papua Pegunungan
3 days ago
Baca juga
ArtikelCerpen Papua

Mayat Turis Jepang di Biak Berdarah

1 year ago
ArtikelOlaraga

Norfince Boma, Mutiara Dari Papua

2 years ago
Artikel

Memaknai Tujuan Otsus Papua di Usia 80 Tahun RI

6 months ago
ArtikelCatatan Aktivis PapuaPerempuan & Anak

“Kami Bukan Sekadar Konten” Perempuan Papua Menggugat Objektifikasi di Media Sosial

7 months ago
ArtikelCatatan Aktivis Papua

Simbol Sakral Bukan Kostum Politik

4 weeks ago
ArtikelCatatan Aktivis Papua

Kapitalisme Kolonial dan Penjajahan Baru di Tanah Papua

8 months ago
ArtikelCatatan Aktivis Papua

Nies Words dan Gerakan Literasi di Papua: Membangun Masa Depan dengan Pendidikan yang Inklusif dan Berkualitas

10 months ago
Artikel

Dasar Gereja Katolik di Asmat: Mengangkat Kembali Nama-Nama yang Terlupakan

5 months ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?