Wamena, nirmeke.com — Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Balim–Wamena, Balim-Barat, Ndugama, bersama sepuluh komunitas Selapago memperingati 64 Tahun Manifesto Politik Papua Barat pada 1 Desember 2025. Peringatan ini tidak hanya bernuansa sejarah, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi perjuangan politik dan pendidikan kritis bagi generasi muda Papua.
Acara yang dipusatkan di Sekretariat KNPB Balim–Wamena itu sekaligus dirangkai dengan perayaan Natal bersama. Tema iman “Kuatkanlah dan teguhkan hatimu” (Yosua 1:6) dipadukan dengan pesan politik dalam subtema “Melalui Natal bersama ini kami bersatu bersama generasi.”
Sekretaris KNPB Balim–Wamena, Yerinias Kabak, menyampaikan kembali sejarah Manifesto Politik 1 Desember 1961 — sebuah tonggak lahirnya identitas politik bangsa Papua Barat yang hingga kini menjadi dasar gerakan perlawanan rakyat Papua terhadap penindasan dan kolonialisme.
Penampilan drama dari berbagai komunitas Selapago menegaskan kembali memori kolektif Papua tentang perampasan ruang hidup, hilangnya martabat, serta kebutuhan untuk terus memperkuat perjuangan politik secara konsisten dan terorganisir.
Perwakilan Badan Pengurus Wilayah KNPB, Mardi Hiluka, menyampaikan seruan penting: bahwa usia 64 tahun perjuangan Papua Barat harus menjadi penanda kedewasaan gerakan dan panggilan bagi generasi ketiga untuk mengambil tanggung jawab sejarah.
“Perjuangan ini sudah berjalan lebih dari setengah abad. Sekarang generasi ketiga berdiri di garis depan. Karena itu generasi muda Selapago harus bersatu, tinggalkan ego dan ambisi pribadi. Kita memperjuangkan masa depan bangsa, bukan kepentingan kelompok,” tegasnya.
Pengarah komunitas Selapago, Eric Aliknoe, menegaskan bahwa pendidikan adalah kunci utama membangun kesadaran kolektif. Melalui kelas-kelas sejarah, diskusi, dan penyadaran politik di komunitas, mereka berupaya menyiapkan generasi yang kritis dan tidak mudah ditipu oleh informasi negara maupun kekuatan kapital.
Dalam kesempatan itu, Yerinias Kabak kembali mengingatkan pentingnya membuka ruang pendidikan akar rumput:
“Nelson Mandela bilang, senjata paling ampuh melawan kolonialisme adalah pendidikan. Karena itu kami membuka pendidikan gratis bagi anak-anak dan pemuda di komunitas Selapago. Tahun depan, siapa saja bisa bergabung. Ini bagian dari kewajiban moral kita sebagai generasi,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa KNPB dan komunitas Selapago tidak hanya bergerak di jalur demonstrasi, tetapi juga membangun basis perlawanan melalui kesadaran, literasi sejarah, dan penguatan kapasitas generasi.
Acara dilanjutkan dengan pemotongan kue ulang tahun perjuangan oleh Namene Elopere, didampingi Siram Padam Wendaa dan Firdaus Hilapok sebagai sesepuh KNPB. Perayaan ditutup dengan Rama Tama, foto bersama dan makan bersama masyarakat yang hadir.
Momen ini menjadi simbol persatuan antara generasi tua, generasi pejuang hari ini, dan generasi muda yang sedang dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan nasional Papua Barat.(*)
Pewarta: Grace Amelia
