Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Otonomi Khusus Papua, Mengapa Memiskinkan Papua?
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Kabar Daerah > Polhukam > Otonomi Khusus Papua, Mengapa Memiskinkan Papua?
EditorialPolhukam

Otonomi Khusus Papua, Mengapa Memiskinkan Papua?

admin
Last updated: August 19, 2025 12:05
By
admin
Byadmin
Follow:
3 years ago
Share
6 Min Read
Pasar Yibama Wamena - Dok
SHARE

Persoalan Papua sampai hari ini menggoreskan sejarah mendalam betapa rapuhnya hubungan Pemerintahan Pusat dengan daerah. Gejolak yang terjadi di Papua memperlihatkan betapa banyaknya masalah-masalah serius yang belum diselesaikan oleh pemerintah pusat sampai hari ini.

Daftar Isi
Kebahagaian yang ilusiMengurai atau mempertahankan konflik?
Iklan Nirmeke

Berbagai persoalan seperti kemiskinan, pendidikan, infrastruktur, kesehatan, pengelolaan sumber daya, ekonomi, sosial, politik, rasisme, kesejahteraan, Hak Asasi Manusia, pengangguran dan lainnya menjadi masalah yang mewarnai silang sengkarut gejolak-gejolak konflik di Papua. Masalah Papua tidak semudah dalam mengatur kebijakan desentralisasi asimetris seperti halnya di DI Yogyakarta, Aceh, atau DKI Jakarta.

Namun, dengan format ekonomi, geografis, politik, sosial, dan budaya yang ada di Papua justru akan menambah keruwetan konflik di Papua. Pemerintah pusat dalam hal ini dituntut untuk menemukan format dalam mengatur hubungan pemerintah pusat dengan daerah, khusus Papau. Ada perlakuan yang memang harus ditemukan bagaimana meredam dan meminimalisir gejolak di Papua.

Berbagai kebijakan telah ditempuh untuk meredam masalah di wilayah ini, seperti yang santer didengung-dengungkan adalah kebijakan desentralisasi asimetris melalui turunan kebijakan yang dikenal dengan otonomi khusus Papua. Pertanyaanya adalah setelah dua dekade berjalan, apakah otonomi khusus Papua dalam rangka implementasi kebijakan desentralisasi asimetris sukses dan berhasil di laksanakan di Papua?

Kebahagaian yang ilusi

Perjalanan dana otonomi khusus Papua tidak mampu mengubah Papua menjadi lebih baik. Jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia, Papua menjadi cenderung tertinggal dari segala aspek. Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah Papua menjadi salah satu wilayah di Indonesia dengan kaya akan sumber daya alam yang melimpah? Ke mana kekayaan itu mengalir?

Pertanyaan yang kerap kali membingungkan jika diukur secara logika. Hal ini didasarkan pada asumsi kesejahteraan bagi Papua. Bagaimana bisa merasa miskin di wilayah yang kaya sumber daya alam. Semestinya kekayaan sumber daya alam itu justru semakin menguatkan kapasitas fiscal di Papua itu sendiri.

Baca Juga:  TPNPB-OPM Kodap III Ndugama-Darakma Keluarkan Pernyataan Sikap untuk Warga Sipil di Wamena

Hari ini otonomi khusus hanya menjadi wacana kesejahteraan Papua belaka. Terlebih isu actual Gubernur Papua tersandung kasus korupsi dana otonomi khusus. Data BPS menunjukkan bahwa Papua di tahun 2020 menjadi provinsi termiskin di Indonesia dan diikuti oleh angka Human Development Index (IPM). Tingkat kemiskinan di Bumi Cenderawasih ini mencapai 26,8% dengan diikuti oleh Papua Barat sebesar 21,7%. Angak tersebut di atas rata-rata nasioan pada Sepetember 2020 yang hanya mencapai 10,19%. Sementara dalam angka HDI di Papua tahun 2020 sebesar 60,44.

Angka tersebut menurun sebesar 0,40 poin dibandingkan tahun 2019. Jika keadaan tersebut terus berlanjut maka kesejahteraan Papua tidak akan terwujud dengan baik. Hadirnya desentralisasi asimetris mungkin bisa menyelesaikan persoalan di Yogyakarta, Aceh, namun tidak untuk Papua. Maka dalam hal ini perlu kesungguhan pemerintah pusat dalam menemukan format yang cocok dalam menyelesaikan masalah Papua. Ini adalah pembelajaran berharga bagi pemerintah pusat untuk menyelaraskan kebijakan yang adaptif bagaimana menata hubungan pusat dan daerah.

Mengurai atau mempertahankan konflik?

Kebijakan otonomi khusus Papua sebetulnya diciptakan untuk mereduksi gejolak konflik di Papua. Namun, nampaknya pemerintah gagal memahami bahwa otonomi khusus Papua tidak mampu menyelesaikan berbagai persoalan. Ada kegagapan Pemerintah Pusat dalam menata Papua sebagai satuan pemerintahan daerah.

Justru dengan otonomi khusus yang tidak dikawal dengan baik dan cenderung dikelola secara elitis maka akan semakin melebarkan kesenjangan yang ada di Papua. Refleksi kritis kebijakan otonomi khusus Papua hanya menjadi kebijakan jangka pendek dan itu tidak mampu menjangkau kesejahteraan di tingkat bawah. Jika kondisinya seperti itu, maka konteks dan realitas itu sangat bertentangan dengan semangat desentralisasi asimetris.

Baca Juga:  Harta Benda Milik Masyarakat Sipil di Kwiyawage Dijarah Militer Indonesia Ketika Melakukan Pencarian Pilot Susi Air

Desentralisasi yang digadang-gadang mampu menjadi penyelesaian atas segala persoalan hubungan pemerintah pusat dan daerah dengan melihat faktor kewilayannya. Oleh karenanya otonomi khusus sebagai kepanjangan desentralisasi asimetris perlu dikaji kembali dengan mempertimbangkan kembali format apa yang sesuai dengan karakter persoalan yang ada di Papua.

Kebijakan otonomi khusus Papua setelah berjalan dua dekade lamanya nampaknya tidak mengubah keadaan Papua yang sangat signifika. Padahal bersamaan dengan otonomi khusus maka berimbas pada digelontorkanya dana otonomi khusus bagi Papua. Tidak maian main bahwa jumlahnya dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat fantastis.

Tahun ini dana otonomi khusus bagi Papua akan habis di tahun ini. Namun lagi lagi dana otonomi khusus Papua dan Papua Barat oleh pemerintah pusat akan diperpanjang kembali hingga 20 tahun ke depan. Dana otonomi khusus tersebut dinaikkan dari 2% menjadi 2,25% dari dana alokasi umun (DAU) sehingga total dana yang akan dikucurkan hingga 2041 berpotensi mencapai Rp. 234,6 triliun.

Semangat UU No 21 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Papua yang kemudian diterjemahkan dalam kebijakan turunan seperti pengucuran dana otonomi khusus perlu dievaluasi kembali. Jika melihat capain dan output yang diharapkan dengan adanya regulasi ini, maka ada pertentangan dengan seharusnya.

Melalui kucuran dana otonomi khusus Papua yang dari tahun semakin meningkat, maka secara rasional juga akan diikuti oleh elemen lainya. adanya peningkatan kehidupan warga Papua yang layak, akses kesehatan yang merata, akses pendidikan yang kredibel, bahkan pembangunan sarana dan prasarana yang menutup kesenjangan antara Papua dengan wilayah lainya. itu adalah realitas yang seharunya terjadi. Namun lagi dan lagi kebijakan otonomi khusus terus dilanjutkan tanpa hasil yang tidak cukup menggembirakan. (*)

Sumber: www.geotimes.id/

Related

You Might Also Like

Lambat Tangani Banjir Meborok, Anggota DPRK Nduga Kritik Pemerintah dan Minta Hentikan Operasi Militer

Senator Yeimo: Transmigrasi Akan Menimbulkan Kecemburuan Sosial dan Potensi Konflik Baru

Cycloop Bukan untuk Digali: Menolak Tambang demi Masa Depan Papua

AMP mendukung mahasiswa Uncen tolak MoU

KNPB dan AMP Serahkan Surat Pemberitahuan Aksi ke Polrestabes Makassar

TAGGED:Kemiskinan di PapuaKonfik Bersenjata di PapuaOtonomi Khusus PapuaTPNPB-OPM

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Dies Natalis Ke-17 Tahun, IMPI Jayapura Komitmen Terus Mengkadernisasi Mahasiswa
Next Article Demion Tabuni Pimpin KMPPJ Kota Studi Jayapura Masa Bakti 2023-2025
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

Unika Fajar Timur Papua Resmi Diluncurkan pada Penutupan Sinode Keuskupan Jayapura 2026
Pendidikan Tanah Papua
14 hours ago
12 Klub Resmi Lolos Screening, Liga 4 Papua Pegunungan Siap Bergulir
Olaraga
2 days ago
HMPJ Gelar Raker dan POF 2026–2027, Dorong Kualitas Mahasiswa di Era Globalisasi dan Digitalisasi
Pendidikan
3 days ago
Sekolah Adat Hugulama Diharapkan Jadi Rumah Belajar Budaya bagi Generasi Muda
Papua Pegunungan Pendidikan Seni & Budaya
3 days ago
Baca juga
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Transmigrasi Sebagai Alat Kolonisasi di Melanesia Barat (Papua Barat)

1 year ago
Kabar DaerahPolhukamTanah Papua

Senator Agustinus R. Kambuaya Soroti Ketimpangan Solidaritas: ‘Bantu Palestina, Tapi Lupakan Pengungsi Papua’

3 months ago
LingkunganPolhukamTanah Papua

Koalisi HAM Papua: Presiden Harus Cabut PSN yang Rampas Tanah Adat di Merauke

4 months ago
PolhukamTanah Papua

KNPB Konsulat Indonesia Wilayah Makassar Resmi Melantik Sektor Palopo

10 months ago
PolhukamTanah Papua

Kuasa Hukum Nilai Vonis Kasus Penembakan di Yahukimo Belum Maksimal

3 months ago
PolhukamSiaran Pers

Tim HAM Temukan Bukti Peluru dan Ganja di Lokasi Konflik Yahukimo

8 months ago
PendidikanPolhukamTanah Papua

Mahasiswa Lanny Jaya Gelar Diskusi Tentang Dampak Revisi RUU TNI di Jayapura

10 months ago
Editorial

Seharusnya Wio Silimo Menjadi Nama Ibukota Di Wamena

4 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?