Oleh: Maiton Gurik
DEWASA ini, kita sedang mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif ada dalam puncak piramida dalam sejarah demografi dunia. Di puncak paramida tersebut bertengger pemuda pemuda hebat dengan karakteristik unik dan langka. Generasi ini sering disebut generasi milenial atau generasi jaman baru (new).
Generasi ini ingin semuanya serba cepat dan cenderung instan. Mereka generasi yang mudah bosan. Anti-kemapaman dan anti-mainstream. Selalu ingin hal-hal baru. Loyalitas mereka pada perubahan itu sendiri. Meski begitu, mereka generasi yang suka bekerja sama. Watak umum mereka berkumpul dan berkolaborasi dalam kerja-kerja kolaborasi. Mereka bukan tipologi ‘RONIN’, yang suka bertarung sendiri. Mereka lebih suka berkolaborasi dalam sebuah tim, yang masing-masing mereka membagi diri dalam unit-unit tugas yang saling menopang dan menguatkan.
Generasi milenial suka menghasilkan karya bersama dan menjadi juara bersama dari pada menjadi juara kesepian. Ada yang atas nama organisasi kepemudaan, ada juga yang atas nama paguyuban sosial, ada juga yang atas nama tim mahasiswa perakit dan lain-lain. Sedikit sekali yang atas nama pribadi atau perorangan. Hal ini melegitimasi tesis tentang karakteristik generasi milenial dengan berbagai fenomena dan dinamika saat ini.
Bonus demografi penduduk dunia pada awal millenium ini membesar di tengah, mengindikasikan besarnya jumlah pemuda berusia kerja. Katakan, jumlah penduduk berusia 16 sampai 30 tahun tak kurang dari 65 atau 70 juta. Jumlah besar penduduk usia produktif ini jika benar kelola bisa menjadi bonus demografi. Sebaliknya, jika salah kelola, bisa berubah menjadi bencana demografi. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya pemuda merupakan prioritas penting yang harus menjadi kepedulian semua pihak jika bangsa ini ingin kembali bangkit dari keterpurukan dan kemiskinan.
Isu utamanya di sini bukanlah pengembangan sumber daya manusia dalam arti konvensional yang semata-mata diukur berdasarkan pendidikan formal, melainkan pada kemuliaan daya-daya (etos) kreatif dan inovatif, kerja-kerja sederhana yang berdampak sesuai potensi kecerdasan manusia masing-masing.
Kreativitas adalah segala tindakan, ide, atau produk yang mengubah domain yang ada, atau transformasikan domain yang ada, menjadi sesuatu yang baru. Orang-orang berbakat hanya akan menjadi pribadi kreatif apabila menemukan ekosistem kreativitas yang dihasilkan oleh interaksi dari suatu sistem yang berdiri atas beberapa elemen. Berikut menurut beberapa sumber diantaranya.
Pertama, domain simbolik yang berisi seperangkat aturan prosedur pengetahuan dan informasi sebagai titik tolak sekaligus titik ubah dari kreativitas.
Kedua, bidang pendukung (field) yang meliputi segala orang, institusi, dan jaringan yang bertindak sebagai gate keepers yang mendukung, menyaring, dan menvalidasi setiap inovasi untuk bisa masuk dan membawa perubahan dalam domain budaya.
Ketiga, barulah faktor kehadiran orang kreatif; yakni seseorang yang pikiran dan tindakan nya mengubah suatu domain atau membentuk domain baru (baca: Mihaly Csikszentmihalyi, 2013). Kurang berkembangnya kreativitas di negeri ini, karena kurangnya dukungan politik terhadap reproduksi pengetahuan dan pengembangan minat bakat, pemulihan warisan budaya, serta kegiatan riset dan pengembangan. Kegiatan riset berhenti sebagai kertas laporan penelitian yang dilakukan lembaga-lembaga riset negara tanpa kemampuan membangun budaya riset dan inovasi ditengah masyarakat. (baca: Kompas: Yudi Latif, 2016).
Di negeri ini peradaban sangat rentan robek setiap saat. Para perobek peradaban bisa pengutil duit negara, pemburu rental politik/kekuasaan, penjual regulasi, pemasok narkoba, pedagang undang-undang, kedangkalan di televisi, penceger pasal-pasal hukum, para komprador, hingga mereka yang suka mereproduksi kekerasan demi memaksakan egoisme kebenarannya secara radikal. (baca: Tranggono, 2016).
Disaat kondisi bangsa seperti ini peranan pemuda sebagai penggerak dan pendobrak dalam pembangunan bangsa sangatlah diharapkan dengan membentuk suatu organisasi yang tentunya harus positif yang dapat membangun dan peran yang lebih besar. Pada zaman perjuangan bangsa Indonesia, misalkan gerakan pemuda dan mahasiswa sering menjadi tombak perjuangan nasional. Beberapa gerakan pemuda dan mahasiswa yang dicatat dalam sejarah adalah budi utomo, sumpah pemuda dan sebagainya. (baca: sejarah Indonesia).
Namun, permasalahan yang dihadapi saat ini adalah banyak di kalangan pemuda yang melakukan hal-hal yang negatif, cuek, tidak mau belajar, tidak suka diskusi dan acapkali tidak peka terhadap lingkungan. Padahal, melalui gerakan pemuda terlahir inspirasi untuk mengatasi berbagai kondisi dan permasalahan yang ada, dan sudah saatnya pemuda menempatkan diri sebagai generasi muda yang aktif, kreaktif dan produktif untuk memimpin proses perubahan bangsa ini yang dicita-citakan para pemuda pendahulu. Jadi pada intinya peran pemuda sekarang ini sangat diharapkan seperti banyak pemuda yang jalan bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat sekitar. Tetapi sebenarnya peran pemuda dalam masyarakat dapat ditingkatkan dengan mengadakan acara berupa bakti sosial, gerakan bangun Literasi, pelatihan dengan sesama pemuda dan sebagainya.
Kebangkitan suatu peradaban manusia di manapun tempatnya dan kapanpun waktunya tidak dapat terlepas dari peran pemuda di dalamnya. Dalam sejarah berbagai peradaban tidak bisa dipungkiri pemuda merupakan rahasia kebangkitan yang mengibarkan panci panci kemenangannya. Maka peradaban bangsa ini akan kembali bangkit dengan pemuda sebagai tonggak pembangkit dan pendobrak perubahan.
Akan tetapi semua menjadi tidak berarti jika pemuda dalam hal ini masih berpikiran pragmatis, sibuk dengan diri sendiri, angkuh, apatis, tidak peduli dengan keadaan bangsa ini, minimal dengan masyarakat disekitar rumahnya dan sombongnya dengan titel mahasiswa yang menghiasi hatinya. Bangsa ini bak kehilangan nakhoda muda yang seharusnya menjadi pilar keadilan dan perjuangan kebenaran.
Tidak berlebihan kiranya bila dikatakan pemuda adalah masa depan bangsa dan negara, setelah generasi tua yang tidak produktif, rakus akan kekuasaan, mental korup, suka makan puji, gila hormat dan perampok uang negara.
Karena itu, ada beberapa peran mahasiswa yang harus dilakukan saat ini, pertama mahasiswa memiliki peran sebagai intelektual akademisi. Ini memang tugas mahasiswa yang harusnya dimiliki. Seorang mahasiswa intelektual akademisi selayaknya tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual saja, tapi juga kecerdasan spiritual.
Kedua, mahasiswa berperan sebagai agen perubahan (agent of change). Mahasiswa berpendidikan baik akan menjadi faktor perubah dalam masyarakat ke depan. Apa yang dilakukan mahasiswa saat ini akan menjadi cerminan bangsa di masa yang akan datang. Jika saat ini mahasiswa berleha-leha, malas, dan urung belajar maka hasilnya akan berakibat buruk pada masa depan bangsa. Sebaliknya jika mahasiswa rajin, terus belajar, tiada henti berjuang membela keadilan dan kebenaran maka dapat ditembak kemudian, bangsa ini akan menjadi bangsa yang jaya.
Ketiga, mahasiswa berperan sebagai calon pemimpin masa depan. Demi waktu yang terus-menerus menerjang tanpa ada yang mampu menghentikannya, maka regenerasi merupakan keniscayaan kehidupan. Demikian pula dengan kelangsungan kehidupan bangsa dan negara. Semoga!
Jayapura, 02 April 2024.
Penulis: Maiton Gurik, Salah Satu Pengiat Literasi Papua. Laki-Laki Lani Asli, Suka Makan Kacang Tanah. Hobi Baca dan Suka Otak Atik Status Quo.
