Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: “Kami Bukan Sekadar Konten” Perempuan Papua Menggugat Objektifikasi di Media Sosial
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Artikel > “Kami Bukan Sekadar Konten” Perempuan Papua Menggugat Objektifikasi di Media Sosial
ArtikelCatatan Aktivis PapuaPerempuan & Anak

“Kami Bukan Sekadar Konten” Perempuan Papua Menggugat Objektifikasi di Media Sosial

admin
Last updated: August 25, 2025 10:57
By
admin
Byadmin
Follow:
405 Views
11 months ago
Share
Foto Wanita Papua - Istimewa
SHARE

Kami sebagai orang Papua, berdaya dan memiliki hak yang setara. Kami mampu bersuara dan merepresentasikan diri kami termasuk di media sosial. Tidak ada siapapun yang pantas mengobjektifikasi dan mendikte kami, hanya agar kami dikasihani.

Di tengah gempuran “konten kemanusiaan” yang menyasar orang Papua di media sosial, muncul kritik dari seorang perempuan muda Papua.

Daftar Isi
Kami sebagai orang Papua, berdaya dan memiliki hak yang setara. Kami mampu bersuara dan merepresentasikan diri kami termasuk di media sosial. Tidak ada siapapun yang pantas mengobjektifikasi dan mendikte kami, hanya agar kami dikasihani.Representasi dan Kuasa: Papua sebagai Objek, Bukan SubjekPeminggiran Suara Perempuan Kritik Lokal dan Ruang Solidaritas yang Setara
Iklan Nirmeke

Ia mempertanyakan kehadiran seorang influencer perempuan dari luar Papua yang datang ke Wamena, memasak dan membagikan makanan kepada warga setempat. Lalu membagikannya dalam bentuk video yang viral.

Kritik ini segera menuai respons keras. Sebagian orang menuduhnya tidak tahu berterima kasih, terlalu sinis, atau bahkan menolak kebaikan. Padahal, kritik itu tidak pernah diarahkan pada niat personal seseorang. Melainkan pada cara sebuah wilayah yang selama ini terpinggirkan kembali dihadirkan sebagai latar dari narasi heroik orang luar.

Kasus ini membuka percakapan penting tentang siapa yang punya kuasa untuk bercerita, siapa yang diberi ruang untuk bicara, dan siapa yang terus-menerus dijadikan objek representasi. Baik dalam proyek-proyek kemanusiaan maupun konten digital. Lebih dari itu, ia memperlihatkan betapa sulitnya bagi perempuan muda dari pinggiran untuk menyampaikan suara kritis. Tanpa segera dibungkam oleh tuduhan bahwa ia “tidak tahu terimakasih”.

Tulisan ini lahir dari kegelisahan tersebut. Bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk merenung bersama: apakah semua bentuk kebaikan selalu bebas dari bias kuasa? Bagaimana kita, terutama Perempuan, baik yang berada di pusat maupun pinggiran, bisa membangun solidaritas yang setara, bukan hanya empati yang cepat lalu hilang?

Representasi dan Kuasa: Papua sebagai Objek, Bukan Subjek

Dalam bukunya Orientalism (1978), Edward Said menjelaskan bagaimana dunia Barat (Eropa dan Amerika) membangun gambaran tentang “Timur” (Asia, Timur Tengah, dan wilayah jajahan lainnya) sebagai sesuatu yang primitif, eksotik, tidak rasional, dan perlu diselamatkan atau dijelaskan oleh Barat.

Orientalisme bukan sekadar cara pandang. Ia adalah sebuah sistem kuasa dan pengetahuan, di mana dunia Barat memproduksi narasi tentang Timur bukan berdasarkan kenyataan, melainkan berdasarkan hasrat dan kepentingan mereka sendiri. “Orang Timur tidak berbicara; mereka dibicarakan. Mereka tidak menulis sejarah mereka sendiri karena sejarah mereka ditulis oleh orang lain,” tulis Said.

Sekalipun konteks yang dibahas Said adalah “Orient” dalam artian geografis dan historis tertentu, pola ini juga berlangsung di banyak wilayah bekas jajahan lainnya, termasuk Papua dalam konteks Indonesia. Papua sering kali dibingkai sebagai alam liar yang perlu dijelajahi; masyarakat terbelakang yang perlu dibantu; atau ruang spiritualitas yang “murni” namun belum modern.

Ketika influencer dari luar Papua datang membawa kamera dan narasi kemanusiaan, tanpa sadar mereka mereproduksi posisi itu: Papua sebagai “yang lain” (the Other). Bukan sebagai subjek yang bicara tentang dirinya sendiri, tetapi sebagai objek yang ditampilkan untuk membangun citra dan empati si pencerita.

Bayangkan seseorang datang ke rumah kita, lalu memotret dapur kita yang sederhana dan mengunggahnya dengan caption: “Sangat terharu melihat rumah ini, mereka tidak punya banyak tapi tetap bahagia.” Padahal kita sendiri tidak merasa “miskin” atau “sedih”—kita hanya belum diajak bicara. Tapi dunia sudah punya narasi tentang kita.

Itulah representasi yang tidak adil. Seperti yang dikatakan Said, representasi bukan tentang kenyataan, tapi tentang kuasa: siapa yang berhak bicara atas nama siapa.

Dalam banyak percakapan soal kemanusiaan atau kegiatan sosial, suara dari luar sering lebih cepat didengar. Mungkin karena mereka lebih mudah mengakses media, cara bicaranya lebih sesuai dengan selera publik, atau karena posisi sosial mereka dianggap lebih layak dipercaya. Penampilan fisik juga bisa ikut menentukan, wajah yang dianggap “cantik” menurut standar masyarakat, sering kali membuatnya lebih mudah diterima dan didengarkan.

Baca Juga:  Menguak Simbolisme Kuno Noken dalam Tradisi Pernikahan Adat Lembah Baliem

Sebaliknya, ketika suara lokal ikut bicara dan mengajukan kritik, sering kali justru dianggap terlalu keras, tidak penting, atau seolah-olah menolak niat baik. Namun, di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang dianggap paling layak mewakili Papua? Siapa yang berhak menentukan cara Papua dilihat dan diceritakan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menyingkirkan siapapun dari ruang solidaritas. Justru sebaliknya ini menjadi ajakan untuk memikirkan kembali bagaimana narasi tentang Papua dibentuk. Apakah sungguh melibatkan orang-orang Papua sendiri sebagai subjek yang berbicara, atau masih menjadikan kehadiran mereka sekadar latar dalam konten terlihat? Tapi tidak benar-benar dilibatkan dalam arah cerita yang dibangun.

Sering kali, meskipun wajah-wajah lokal hadir dalam konten bahkan ketika suara mereka terdengar. Arah narasi tetap disusun dari luar pengalaman hidup yang mereka jalani sehari-hari. Yang ditampilkan adalah potongan-potongan tertentu, dipilih untuk mendukung pesan atau kesan tertentu, yang kadang tidak memberi ruang bagi kerumitan realitas yang sebenarnya.

Dalam konteks seperti ini, kehadiran dalam gambar atau ajakan untuk berbicara tidak serta-merta berarti keterlibatan penuh dalam makna dan arah cerita. Di sinilah muncul kegelisahan yang wajar: sebuah dorongan untuk melihat representasi yang lebih adil, di mana orang-orang yang hidup di tempat itu tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga turut menentukan bagaimana kisah tentang mereka disampaikan.

Peminggiran Suara Perempuan 

Bell Hooks, seorang sosiolog dan penulis feminis, menyebut bahwa ketika perempuan dari kelompok terpinggirkan, seperti perempuan kulit hitam, perempuan miskin, atau dalam konteks tulisan ini perempuan Papua, menyuarakan pendapat yang berbeda dari harapan umum, suara mereka sering kali dianggap terlalu keras, terlalu emosional, atau bahkan mengganggu. Padahal bagi Hooks, bicara balik (talking back) adalah tindakan politis. Perempuan tidak sekadar menyampaikan opini, tetapi sedang menantang struktur yang selama ini mengharapkan mereka untuk diam.

Dalam kerangka feminist media critique, suara perempuan dari pinggiran sering kali dibaca secara keliru. Ia tidak dilihat sebagai pengetahuan yang berharga, melainkan sebagai ancaman terhadap kenyamanan. Kritik dianggap sebagai kemarahan. Kejujuran dianggap kasar. Dan ketegasan dianggap menyerang. Padahal sering kali, itulah satu-satunya cara agar suara dari pinggiran bisa terdengar di ruang yang tak pernah benar-benar memberinya tempat.

Senada dengan Hooks, Gadis Arivia sebagai feminis Indonesia dalam buku Feminisme: Sebuah Kata Hati (2006), secara mendalam membahas persoalan representasi dan suara perempuan dalam masyarakat Indonesia, yang sangat relevan dengan pertanyaan “Can the Subaltern Speak?” dari Gayatri Spivak.

Gadis mengkritisi bagaimana perempuan, terutama dari kelompok terpinggirkan, sering kali tidak memiliki ruang untuk menyuarakan pengalaman dan perspektif mereka sendiri. Dalam konteks ini, suara perempuan Papua yang mengkritik narasi dominan tentang daerahnya dapat dipahami sebagai upaya untuk merebut kembali agen dan representasi diri.

Oleh sebab itu, mengacu pada pemikiran Gadis Arivia, penting untuk memberikan ruang bagi perempuan dari berbagai latar belakang untuk berbicara dan didengarkan, serta mengakui kompleksitas identitas dan pengalaman mereka dalam wacana publik.

Bagi saya, suara perempuan muda Papua yang mengkritik aksi konten kreator mukbang (makan besar yang interaktif sebagai hiburan) di daerahnya bukan sekadar opini pribadi. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam dan struktural. Tentang bagaimana Papua, sekali lagi, dikonsumsi secara visual, kultural, dan simbolik oleh orang luar. Tanpa keterlibatan bermakna dari masyarakat lokal.

Baca Juga:  5 Perempuan Papua Hebat Yang Layak Disebut “Kartini Papua”

Mengapa orang Papua begitu sering diposisikan untuk tetap ramah, menerima, dan diam agar tetap disukai? Mengapa saat suara kritis muncul, apalagi dari seorang perempuan muda, ia justru dianggap terlalu vokal, tidak tahu berterima kasih, atau bahkan tidak tahu cara bersyukur?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada persoalan yang lebih luas: bagaimana memastikan bahwa representasi tentang Papua dan tentang siapa pun yang berada di pinggiran struktur sosial, tidak berhenti pada visual dan empati. Tetapi benar-benar membuka ruang partisipasi yang bermakna.

Dalam situasi di mana suara kritis sering kali ditanggapi dengan kecurigaan, dan keberanian untuk berbicara dianggap sebagai ketidaktahuan akan tata krama sosial, penting untuk mengingat bahwa kritik bukanlah penolakan terhadap niat baik. Ia adalah bagian dari percakapan yang sehat dalam masyarakat yang ingin bertumbuh. Masyarakat yang tidak hanya memberi tempat untuk tindakan, tetapi juga untuk pertanyaan.

Bukan soal siapa yang berbicara lebih dulu atau lebih keras. Tetapi bagaimana ruang bicara itu dibentuk: apakah ia terbuka bagi yang selama ini didiamkan. Sebab hal itu justru kembali mengulang pola lama, di mana yang paling dekat dengan pengalaman, justru paling sedikit didengar.

Kritik Lokal dan Ruang Solidaritas yang Setara

Kritik bukanlah bentuk kebencian, melainkan sebuah panggilan etis untuk membangun solidaritas yang setara. Solidaritas yang ideal seharusnya tidak mendikte siapa yang boleh bicara, atau bagaimana suara disampaikan. Sebaliknya, ia memberi ruang untuk bertanya, untuk meragukan, dan untuk membangun bersama secara lebih bermartabat.

Dalam konteks ini, kritik dari perempuan muda Papua tidak semestinya dibaca sebagai penolakan terhadap kebaikan. Tetapi sebagai harapan agar bentuk-bentuk keterlibatan ke depan tidak hanya berorientasi pada membantu. Mestinya juga pada keberjalanan bersama sebagai sesama yang setara.

Isu tentang Papua dan kesenjangan kesejahteraan di Papua memang perlu terus disuarakan—oleh siapa pun, baik dari dalam maupun luar Papua. Namun, solidaritas itu akan bermakna jika tumbuh dari ruang dialog yang setara. Bukan dari relasi yang timpang antara “yang menolong” dan “yang ditolong”.

Ruang-ruang keberpihakan perlu dibangun di atas ketulusan yang peka terhadap konteks sosial, politik, dan budaya yang nyata. Bukan sekadar pada apa yang tampak di permukaan.

Kita tentu tak bisa menaruh ekspektasi besar pada konten yang lahir dari interaksi singkat selama beberapa hari. Namun ketika pola yang sama berulang: konten eksplorasi kuliner, mukbang, dan narasi “Papua yang lapar”. Maka perlu ada jeda untuk bertanya: benarkah ini solidaritas, atau sekadar pengulangan dari cara lama dalam melihat Papua sebagai wilayah eksotik yang tertinggal?

Alih-alih mengukuhkan stereotip lama, para pembuat konten bisa memilih untuk membangun narasi yang lebih adil dan edukatif. Platform digital bisa menjadi ruang belajar bersama, bukan hanya panggung satu arah. Termasuk belajar untuk tidak menjadikan satu kali makan siang sebagai simbol kepedulian yang selesai setelah kamera dimatikan.

Kritik dari orang Papua, terutama perempuan muda, sering kali tidak dinilai dari isinya, tapi langsung dicurigai, diasosiasikan dengan separatis. Ini mencerminkan cara pikir yang sempit dan menutup ruang dialog.

Padahal berpikir kritis bukan berarti melawan, dan bertanya bukan berarti menolak. Bila kita ingin membangun solidaritas yang sejajar. Maka dengarkanlah suara Papua tanpa prasangka. Karena setiap orang, termasuk dari tanah yang sering dibungkam, berhak bicara tentang dirinya sendiri.

Mendengarkan tanpa prasangka adalah langkah awal dari solidaritas yang sejati. Bukan sebagai bentuk belas kasihan, tetapi sebagai pengakuan atas kesetaraan manusia.

Penulis: Selina Aurora – Pengajar pada Sekolah Pendidikan Guru Jemaat Gereja Kristen Indonesia (SPGJ GKI) Lahai Roi di Manokwari, Papua Barat.
Artikel ini sebelumnya di publikasikan oleh : Konde.co
Sumber foto : www.kibrispdr.org

Related

You Might Also Like

IPM Sarmi: Angka Naik, Rakyat Masih Jalan di Tempat

Mungguar, Pejuang Kharismatik nan Pemberani itu Telah Pergi

Aktivis Kemanusiaan Bukan Predator Asusila

TP PKK Yahukimo dan Dinas Kesehatan Salurkan Bantuan Gizi di Kampung Sokamo

Berganti-ganti Presiden di Indonesia, Papua Barat Tetap Jadi Bangsa Terjajah

TAGGED:Media SosialPerempuan PapuaWanita Papua

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Kepala Kampung Gruduk Kantor Bupati Jayawijaya, Ini Tanggapan Tegas Bupati
Next Article Cycloop Bukan untuk Digali: Menolak Tambang demi Masa Depan Papua
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

KNPB Yahukimo Sebut Penangkapan Aktivis Kemanusiaan Cederai Hukum, Kone Kobak Akhirnya Dibebaskan
Tanah Papua
20 hours ago
Mahasiswa Papua Demo soal Kasus Dogiyai di Kementerian HAM
Berita Foto Nasional Papua Tengah Polhukam
1 week ago
Mahasiswa Papua di Makassar Aksi 63 Tahun Aneksasi, Dihadang Aparat dan Ormas di Monumen Mandala
Polhukam Tanah Papua
3 weeks ago
Komisi C DPRK Jayawijaya Soroti Krisis Layanan Kesehatan, Pendidikan, hingga Masalah Sosial dalam Rekomendasi LKPJ
Papua Pegunungan Tanah Papua
3 weeks ago
Baca juga
Catatan Aktivis Papua

Wamena Seperti Anak Kehilangan Induk

3 years ago
Artikel

Sang Sejarawan Gereja Katolik Dan Martir Bagi Generasi Manusia Papua

2 years ago
Catatan Aktivis Papua

ULMWP Milik Rakyat Papua Bukan Milik Kelompok

3 years ago
Artikel

Mencangkul Harapan: Gerakan Manusia Hugula Dalam Menjaga Budaya dan Alam

10 months ago
Catatan Aktivis PapuaPendidikan

Pemuda Pendobrak Perubahan

2 years ago
Ekonomi & BisnisPerempuan & Anak

Dari Rumah Sederhana di Wamena, Noken Rasta Menjelajah Indonesia hingga PNG

3 months ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Peran Utama Militer Kolonial Di Wilayah Jajahan

2 years ago
Catatan Aktivis Papua

Diskriminasi Rasial di Indonesia Takkan Pernah Hilang Cepat

3 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?