Tiom, nirmeke.com – Lebih dari 500 warga Kabupaten Lanny Jaya menghadiri kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang berlangsung di Terminal Kwiyawagi, Tiom Kota, Rabu (10/6/2026) malam.
Kegiatan yang diprakarsai oleh intelektual Lanny Jaya, Vincent Jigibalom, bersama sejumlah intelektual lainnya itu menjadi ruang refleksi bersama tentang situasi kemanusiaan, tanah adat, dan masa depan Papua.
Rangkaian kegiatan diawali dengan konvoi kendaraan pada pukul 15.23–16.00 WIT yang dikemas dalam suasana menyambut perhelatan Piala Dunia 2026. Setelah itu, masyarakat berkumpul di Terminal Kwiyawagi untuk mengikuti diskusi publik sebelum pemutaran film dimulai.
Dua pemantik diskusi, Yefta Lengka selaku aktivis kemanusiaan dan Angginak Sepi Wanimbo sebagai pegiat literasi Papua, menyampaikan pandangan mereka terkait berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Papua.
Dalam pemaparannya, Yefta Lengka menyoroti dampak operasi militer di sejumlah wilayah Papua, termasuk di Merauke dan Papua Pegunungan. Ia menyebut konflik bersenjata telah menyebabkan pengungsian dalam jumlah besar serta menghadirkan persoalan sosial lain seperti peredaran minuman keras, narkoba, perjudian, dan perang suku yang menurutnya mengancam masa depan generasi Papua.
“Tanah, air, batu, emas, hutan, dan seluruh kekayaan alam Papua adalah milik orang asli Papua. Kita memiliki hak untuk hidup bebas di atas tanah ini tanpa tekanan dari pihak mana pun,” ujarnya dalam pernyataan penutup.
Sementara itu, Angginak Sepi Wanimbo menyoroti penderitaan masyarakat adat Merauke yang terdampak Proyek Strategis Nasional (PSN). Ia mengingatkan pentingnya menjaga tanah sebagai warisan yang dipercayakan Tuhan kepada masyarakat adat.
Menurutnya, pemerintah di Papua harus memastikan setiap kebijakan pembangunan lahir dari kebutuhan masyarakat dan tidak memberikan persetujuan terhadap investasi tanpa sepengetahuan masyarakat adat.
Ia juga mengajak para guru, gembala jemaat, intelektual, dan generasi muda untuk aktif mendokumentasikan berbagai peristiwa yang terjadi di Papua.
“Kita harus mendidik bangsa ini dengan data, fakta, dan kejujuran agar keadilan dapat diperjuangkan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Angginak Sepi Wanimbo turut menyerahkan dua buku, yakni Tanah Kami–Masa Depan Kami karya Angginak Sepi Wanimbo dan Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Papua karya Dr. Socrates Yoman kepada tokoh agama Pdt. Nauluk Kogoya, perwakilan Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya Maikel Alom, serta Vincent Jigibalom.
Sebagai penanggung jawab kegiatan, Vincent Jigibalom mengajak masyarakat menjadikan pemutaran film tersebut sebagai ruang belajar bersama.
“Setelah pulang dari tempat ini, diskusikan kembali apa yang telah ditonton. Jaga tanah dan kampung kita masing-masing. Tidak ada orang luar yang akan datang menyelamatkan kita. Kitalah yang harus menjaga tanah kita sendiri,” ujarnya.
Pemutaran film dimulai sekitar pukul 19.32 WIT dan disambut antusias warga. Anak-anak, pemuda, orang dewasa hingga lansia memadati Terminal Kwiyawagi. Turut hadir intelektual, anggota DPRD, hamba Tuhan, aparatur sipil negara (ASN), pemuda gereja, serta para pelajar.
Di akhir kegiatan, sejumlah tokoh masyarakat turut menyampaikan refleksi mereka. Ambruwa Wanimbo, mewakili tokoh masyarakat, mengajak generasi muda meninggalkan minuman keras dan ganja serta kembali kepada nilai-nilai Injil.
“Tolong lepas panah dan parang, mari bersatu untuk mendukung pembangunan,” pesannya.
Perwakilan perempuan, Elsi Wandik, mengaku terharu menyaksikan kisah yang ditampilkan dalam film tersebut.
“Saya membayangkan jika hal yang sama terjadi di Lanny Jaya. Masyarakat sering tidak tahu apa-apa, sementara keputusan diambil tanpa melibatkan mereka. Karena itu, pemerintah perlu berkoordinasi dengan masyarakat adat,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh agama Pdt. Nauluk Kogoya berharap generasi muda mampu mengambil pelajaran dari film tersebut.
“Saya melihat anak-anak yang sudah berpendidikan inilah yang akan menyelamatkan tanah ini. Gereja-gereja juga perlu melakukan pemutaran film dokumenter Pesta Babi agar semakin banyak orang memahami situasi yang sedang dihadapi masyarakat Papua,” katanya.
Kegiatan nobar ini bukan sekadar pemutaran film, melainkan menjadi ruang konsolidasi warga untuk berdiskusi tentang tanah adat, kemanusiaan, pendidikan, serta tanggung jawab generasi Papua dalam menjaga masa depan negerinya.(*)
