Jayapura, nirmeke.com – Masyarakat adat di Kabupaten Jayapura mulai kembali menyuarakan pentingnya pelestarian pangan lokal seperti sagu dan umbi-umbian di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap beras dan ancaman alih fungsi lahan.
Hal tersebut disampaikan Tomi Ongge saat ditemui di kebun sagunya di Kampung Harapan, Kelurahan Lokla, Rabu (18/3/2026).
Menurutnya, sagu dan tanaman lokal lainnya merupakan identitas sekaligus sumber kehidupan masyarakat Orang Asli Papua (OAP) yang telah diwariskan turun-temurun.
“Dulu orang tua kami lebih mengutamakan makanan tradisional seperti sagu dan umbi-umbian. Mereka mengelola tanah secara kolektif untuk kepentingan bersama. Sekarang sudah mulai ditinggalkan,” ujarnya.
Ia menilai saat ini masyarakat cenderung menjadi konsumen beras, sementara distribusinya tidak selalu stabil di wilayah-wilayah adat. Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap ketahanan pangan masyarakat lokal.
“Kami jadi bergantung. Kalau beras tidak ada, masyarakat bingung harus konsumsi apa. Padahal pangan lokal tersedia, tinggal bagaimana kita kembali mengelola,” katanya.
Tomi menegaskan pentingnya menghidupkan kembali budaya menanam dan mengelola lahan, khususnya sagu, pisang, dan umbi-umbian sebagai upaya menjaga keberlanjutan hidup generasi mendatang.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengusulkan program penanaman sekitar 500 pohon sagu kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura melalui dinas terkait, sebagai langkah konkret penguatan pangan lokal.
“Kami berharap pemerintah bisa mendukung program ini. Kalau dikelola dengan baik, anak cucu kami tidak akan kesulitan pangan di masa depan,” ujarnya.
Selain soal ketahanan pangan, ia juga menyoroti maraknya penjualan tanah oleh masyarakat yang berujung pada hilangnya sumber penghidupan.
“Hari ini banyak orang jual tanah, akhirnya menderita. Kami memilih tetap jaga dan tanam, supaya kehidupan tetap berjalan,” tegasnya.
Tomi juga menyampaikan penolakan terhadap ekspansi perkebunan skala besar seperti kelapa sawit yang dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan pangan masyarakat lokal serta berpotensi merusak keseimbangan alam.
“Kami tidak bisa samakan sawit dengan sagu. Sagu adalah makanan pokok kami, sementara sawit bukan. Dampaknya juga besar bagi kehidupan kami,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa kebun sagu yang dikelola masyarakat di wilayah tersebut memiliki luas sekitar dua hektare dan berada di kawasan yang terhubung dengan perairan danau. Lahan tersebut menjadi sumber pangan sekaligus ruang hidup bagi masyarakat adat.
Masyarakat setempat berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan semua pihak untuk melindungi serta mengembangkan pangan lokal sebagai bagian dari kedaulatan dan identitas Orang Asli Papua.(*)
Pewarta: Agus Wilil
