Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Opini | Egianus Kogoya, Literasi dan Makna Kebebasan
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Catatan Aktivis Papua > Opini | Egianus Kogoya, Literasi dan Makna Kebebasan
Catatan Aktivis Papua

Opini | Egianus Kogoya, Literasi dan Makna Kebebasan

admin
Last updated: June 13, 2025 18:34
By
admin
Byadmin
Follow:
308 Views
1 year ago
Share
SHARE

Oleh: Maiton Gurik (Pegiat Literasi Papua)

Daftar Isi
Literasi dan Kemampuan Mengelola IsuKebebasan yang Lebih Bernilai dari Materi
Iklan Nirmeke

Jayapura, 21 September 2024

Dalam diskursus literasi dan kemanusiaan, nama Brigadir Jenderal Egianus Kogoya—komandan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM)—selalu hadir dengan kontroversi. Namun di balik narasi kekerasan yang melekat padanya, terdapat dimensi lain yang patut dibahas: pemahamannya tentang hukum humaniter dan hak asasi manusia.

Mengacu pada prinsip hukum humaniter internasional, subjek yang wajib dilindungi dalam konflik bersenjata adalah warga sipil, tenaga medis, relawan kemanusiaan, pengungsi, tahanan, serta korban luka dan sakit. Dalam konteks ini, langkah Egianus Kogoya yang membebaskan pilot Susi Air asal Selandia Baru, Philip Mark Mehrtens, setelah ditahan selama lebih dari satu tahun, patut dicermati dari sudut pandang kemanusiaan.

Baca Juga:  Masyarakat Jadi Minoritas di Tanah Mereka Sendiri

Literasi dan Kemampuan Mengelola Isu

Egianus bukanlah sosok dengan latar pendidikan tinggi—ia disebut hanya menyelesaikan pendidikan setara SMA. Namun demikian, kemampuannya membaca situasi lokal, nasional, hingga global menunjukkan adanya literasi praktis yang hidup. Ia tampak memahami posisi simbolik dari tahanan asing dalam konflik Papua dan memanfaatkannya sebagai alat komunikasi politik dan diplomasi.

Kita dapat merujuk pada pemikiran Frederick Douglass, tokoh pembebasan kulit hitam di Amerika Serikat, yang pernah berkata: “Begitu Anda belajar membaca, Anda akan selamanya bebas.” Dalam hal ini, “membaca” bukan hanya dalam arti harfiah, tetapi juga membaca keadaan sosial, politik, dan kemanusiaan.

Kebebasan yang Lebih Bernilai dari Materi

Tindakan Egianus yang membebaskan sang pilot bukan hanya soal strategi politik, tetapi juga menjadi simbol bahwa nilai kebebasan manusia lebih tinggi daripada kepentingan material. Kebebasan adalah hak dasar yang melekat pada setiap manusia dan harus dijaga oleh siapa pun, termasuk oleh pihak yang sedang berkonflik sekalipun.

Baca Juga:  Sean Rii, Musik Melanesia dan Irama Perlawanan

Tentu saja, pembebasan itu tidak serta-merta menghapus seluruh pelanggaran hukum atau kekerasan yang terjadi sebelumnya. Namun di balik tragedi, kita bisa menengok ruang refleksi: bahwa pemahaman tentang hak hidup dan kebebasan masih hidup dalam diri seorang pemimpin gerilyawan seperti Egianus Kogoya.

Sebagai penutup, kita bisa belajar bahwa dalam setiap konflik, selalu ada ruang untuk nilai-nilai kemanusiaan. Kebebasan bukan hanya hak, tetapi juga tanggung jawab untuk menghormati kebebasan orang lain.

Salam literasi!

Related

You Might Also Like

Stigma Mata-Mata Militer Terhadap Nakes dan Guru di Papua Semakin Menguat Pasca Revisi UU TNI

Menanti Pembebasan Sandera Pilot Susi Air

Aktivis yang Idealis, Harus Mandiri

Sastra Sebagai Gerakan Politik di Papua

Tanpa Gedung, Tanpa Upah, Tapi Penuh Cinta: 17 Anak Pengungsi Lulus dari SD Kristen Duma

TAGGED:Egianus KogoyaGerakan Pro Papua MerdekaLiterasi dan Makna KebebasanPegiat Literasi Papua

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Danrem 172 PWY Gandeng Pemkab Lanny Jaya Resmikan Air Bersih dan Dorong Pembangunan Kampung
Next Article Maikel Peuki: Masyarakat Adat Tak Sadar Tanah Mereka Sudah Masuk Konsesi
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Gubernur Papua: Modal Kecil, tapi FDS XV Tampilkan Sesuatu yang Luar Biasa
Pariwisata Tanah Papua
7 hours ago
Media Jayawijaya Dorong Lahirnya Wartawan Lokal Profesional di Papua Pegunungan
Papua Pegunungan Tanah Papua
7 hours ago
Pelatihan Jurnalistik Beginner Batch 1 Dinilai Jadi Tonggak Sejarah Pers Papua Pegunungan
Papua Pegunungan Tanah Papua
7 hours ago
Ojek Pangkalan Tujuan Kalkhote Bersyukur, FDS XV Beri Tambahan Penghasilan
Ekonomi & Bisnis
1 day ago
Baca juga
Catatan Aktivis PapuaHeadline

Papua, ATM Militer: Konflik yang Dipelihara demi Proyek Keamanan

1 year ago
Catatan Aktivis Papua

KEMAJUAN YANG MENGHANCURKAN

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Orang Papua Terjebak Dalam Skenario Kolonial Dan Kapitalis Untuk Kepentingan Investasi

2 years ago
Catatan Aktivis Papua

60 Tahun Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Papua Barat (1963-2023)

3 years ago
Catatan Aktivis Papua

Pemilu 2024 Paling Buruk di Wamena-Papua Pegunungan

2 years ago
Raga Kogeya Koordinator Pengungsi Nduga di Wamena - Yefta/nirmeke
Catatan Aktivis PapuaTanah Papua

Raga Kogeya: Pengungsi Nduga Masih Diabaikan Oleh Pemerintah Indonesia

3 years ago
ArtikelCatatan Aktivis PapuaPerempuan & Anak

“Kami Bukan Sekadar Konten” Perempuan Papua Menggugat Objektifikasi di Media Sosial

1 year ago
ArtikelCatatan Aktivis Papua

Kapitalisme Kolonial dan Penjajahan Baru di Tanah Papua

1 year ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?