Wamena, nirmeke.com – Panitia Pra Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB), yang diprakarsai Himpunan 12 Wisata Alam dan Kampung Budaya Wamena terus mematangkan berbagai persiapan menjelang pelaksanaan kegiatan pada 6 Agustus 2026 di kawasan Wisata Pasir Putih, Distrik Pisugi, Kabupaten Jayawijaya.
Ketua Panitia, Desi Mabel, mengatakan rapat koordinasi terakhir difokuskan pada kesiapan teknis pelaksanaan, mulai dari pencetakan tiket, pembagian personel dari masing-masing objek wisata, hingga pengaturan jumlah anggota yang akan terlibat selama kegiatan berlangsung.
“Kami sudah membahas kesiapan panitia, termasuk pencetakan tiket dan jumlah perwakilan dari masing-masing objek wisata. Karena kegiatan ini dilakukan secara swadaya, kami membatasi jumlah anggota yang terlibat agar pelaksanaannya tetap berjalan efektif,” ujarnya.
Selain itu, panitia juga mulai menyusun konsep detail pelaksanaan, termasuk target peserta, keterlibatan pelaku UMKM, hingga skema pelayanan kepada pengunjung.
Desyana menyebut seluruh lokasi pelaksanaan telah siap digunakan, sementara koordinasi antaranggota akan terus dilakukan melalui rapat lanjutan guna memastikan seluruh kebutuhan teknis dapat dipenuhi sebelum hari pelaksanaan.
Sementara itu, anggota Himpunan 12 Wisata, Sony, menjelaskan bahwa festival tahun ini mengusung konsep berbeda dari kegiatan budaya pada umumnya.
Menurutnya, panitia ingin menghadirkan gambaran utuh tentang kehidupan masyarakat Hubula, bukan hanya mempertontonkan perang adat seperti yang selama ini dikenal masyarakat luas.
“Kami ingin masyarakat melihat proses kehidupan orang tua dulu, mulai dari perkawinan, bakar batu, permainan anak-anak, hingga proses pembentukan karakter sebelum seseorang memasuki masa dewasa. Semua itu akan ditampilkan secara berurutan,” katanya.
Atraksi utama bertajuk Wim Luka Tok akan menjadi ikon festival. Permainan tradisional tersebut menggambarkan kehidupan anak-anak Hubula yang kemudian berkembang menjadi simbol keberanian dan kedewasaan dalam kehidupan masyarakat adat.
Sony mengatakan konsep tersebut dipilih karena selama ini belum banyak ditampilkan dalam festival budaya berskala besar.
Menurutnya, Pra Festival menjadi ruang untuk memperlihatkan sisi lain kebudayaan Hubula yang kaya akan nilai pendidikan, kebersamaan, dan filosofi hidup masyarakat pegunungan.
Selain pertunjukan budaya, festival juga menjadi media kampanye sadar wisata kepada masyarakat Jayawijaya.
Ia berharap semakin banyak warga yang mengembangkan potensi wisata berbasis budaya, pertanian, kopi, perikanan, maupun potensi lokal lainnya sebagai sumber ekonomi masyarakat.
“Yang paling penting adalah membangun kesadaran wisata. Wisata bukan hanya objek alam, tetapi juga budaya, kopi, agrowisata, hingga aktivitas masyarakat yang bisa menjadi daya tarik ekonomi,” ujarnya.
Panitia juga memastikan seluruh peserta, pelaku UMKM, hingga panitia akan menggunakan atribut budaya asli sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Melalui festival tersebut, panitia berharap masyarakat dapat melihat secara langsung keaslian pakaian adat, tarian, nyanyian tradisional, permainan rakyat, hingga nilai-nilai budaya yang masih dipertahankan masyarakat Hugulama.
Panitia menilai Pra Festival bukan sekadar kegiatan hiburan, melainkan investasi budaya bagi generasi muda agar tidak kehilangan pengetahuan mengenai identitas mereka sendiri.
“Kami ingin anak-anak kami kelak tidak hanya mengenal budaya dari foto atau video. Mereka harus melihat, merasakan, dan mempraktikkannya secara langsung. Itulah komitmen kami melalui 12 objek wisata,” kata Desyana.
Ia berharap Pra Festival mendapat dukungan penuh dari pemerintah, tokoh adat, gereja, aparat keamanan, dan seluruh masyarakat Jayawijaya agar dapat berlangsung dengan aman serta berkembang menjadi agenda wisata budaya tahunan di Papua Pegunungan.
“Kami mengajak seluruh masyarakat datang ke Wisata Pasir Putih pada 6 Agustus. Mari bersama-sama menjaga warisan budaya leluhur Lembah Baliem dan menjadikan budaya sebagai kekuatan untuk membangun pariwisata serta ekonomi masyarakat,” pungkasnya.(*)
Pewarta: Aguz Pabika
