Wamena, nirmeke.com — Musim kemarau yang melanda Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mulai memunculkan ancaman serius bagi masyarakat. Kebakaran hutan dan lahan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah sekitar Wamena dan kawasan perkampungan, sementara kondisi lahan yang semakin kering membuat api lebih mudah menjalar.
Sejumlah laporan masyarakat yang beredar melalui media sosial dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan adanya kebakaran lahan di beberapa titik Jayawijaya. Informasi tersebut antara lain menyebut kebakaran di kawasan Pugima, Wouma/Welesi, Witawaya, hingga wilayah perbatasan Jayawijaya–Mamberamo Tengah.
Di media sosial Info Wamena, masyarakat juga melaporkan munculnya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik Kabupaten Jayawijaya. Dalam unggahan lainnya, asap kebakaran terlihat menyelimuti sebagian kawasan Wamena dan diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan di beberapa lokasi.
Laporan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kebakaran tidak lagi hanya terjadi di satu lokasi. Kondisi kemarau membuat vegetasi, semak dan rumput mengering sehingga api berpotensi bergerak cepat, terutama ketika disertai angin.
Pugima hingga Wouma Dilaporkan Terbakar
Pada awal Agustus, kebakaran hutan terjadi di Distrik Pugima, yang lokasinya relatif dekat dengan Kota Wamena.
Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Dinas Satpol PP Kabupaten Jayawijaya mengerahkan dua unit mobil pemadam dan delapan personel setelah menerima laporan masyarakat. Petugas bersama kepolisian kemudian menuju lokasi dan berhasil mengendalikan api sehingga tidak sampai merembet ke permukiman warga.
Kebakaran juga dilaporkan terjadi di kawasan Wouma/Welesi. Informasi mengenai kebakaran lahan di kawasan tersebut kembali muncul melalui media sosial ketika kondisi kemarau masih berlangsung.
Sementara itu, laporan lain di media sosial menyebut kebakaran terjadi di Kampung Wiligima, Distrik Witawaya. Kebakaran tersebut dilaporkan berdampak pada sejumlah bangunan tradisional milik warga, termasuk satu honai laki-laki, tiga honai perempuan, dapur dan kandang ternak. Informasi tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut oleh pihak berwenang terkait jumlah kerugian dan penyebab kebakaran.
Laporan masyarakat lainnya juga menyebut adanya kebakaran lahan di wilayah perbatasan Jayawijaya–Mamberamo Tengah.
Kemarau Panjang, Ancaman Tidak Hanya Api
Ancaman kebakaran menjadi lebih serius karena Jayawijaya saat ini masih berada dalam periode kemarau.
BMKG melalui Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena memperkirakan musim kemarau di Papua Pegunungan berlangsung hingga akhir Agustus 2026. Kemarau di wilayah Jayawijaya sendiri telah berlangsung sejak sekitar April.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Dinas Satpol PP Jayawijaya, Karman, sebelumnya mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya, suhu yang tinggi dan angin kencang pada puncak kemarau dapat memperbesar potensi kebakaran.
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah maupun melakukan pembakaran di sekitar lahan kering tanpa pengawasan karena percikan api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran luas.
Lahan Pertanian Ikut Terancam
Bagi masyarakat Jayawijaya, persoalan kebakaran lahan tidak dapat dipisahkan dari persoalan pangan.
Lahan pertanian masyarakat di sekitar Wamena dan distrik-distrik sekitarnya menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Ketika kemarau berlangsung panjang, tanah menjadi kering dan tanaman pangan berisiko mengalami gagal tumbuh maupun gagal panen.
Kondisi seperti ini bukan persoalan baru di wilayah pegunungan. Kajian mengenai kondisi kemarau di Jayawijaya pada tahun-tahun sebelumnya juga pernah mencatat dampak kekeringan terhadap lahan pertanian, sumber air dan tanaman pangan masyarakat. Pada kondisi kemarau berat, lahan pertanian menjadi sulit ditanami karena tanah mengeras dan sumber air warga ikut berkurang.
Karena itu, kebakaran lahan yang terjadi saat ini perlu dilihat lebih luas. Api bukan hanya membakar rumput atau semak, tetapi berpotensi merusak lahan produktif yang menjadi tempat masyarakat menanam ubi jalar, sayuran dan berbagai tanaman pangan lainnya.
Jika kemarau berlangsung lebih panjang dan kebakaran terus muncul, masyarakat berpotensi menghadapi persoalan berlapis: kekeringan, kebakaran lahan, kerusakan tanaman pangan dan berkurangnya sumber air.
Warga Diminta Waspada
Pemerintah daerah bersama petugas pemadam kebakaran dan aparat keamanan telah melakukan penanganan terhadap sejumlah laporan kebakaran. Namun luasnya wilayah dan kondisi geografis Jayawijaya membuat keterlibatan masyarakat menjadi sangat penting.
Masyarakat diminta segera melaporkan apabila melihat titik api atau kepulan asap dari kawasan hutan dan lahan.
Informasi yang beredar di media sosial juga perlu ditindaklanjuti dengan verifikasi lapangan agar titik-titik kebakaran dapat segera diketahui dan ditangani sebelum api mendekati permukiman.
Situasi ini sekaligus menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau, bukan hanya dengan memadamkan api setelah kebakaran terjadi, tetapi juga memastikan ketersediaan air, perlindungan lahan pertanian dan ketahanan pangan masyarakat.
Sebab bagi masyarakat kampung di sekitar Wamena, lahan bukan sekadar hamparan tanah.
Lahan adalah sumber pangan, sumber penghidupan dan salah satu penopang kehidupan keluarga. Ketika lahan terbakar dan tanaman gagal tumbuh, dampaknya akan dirasakan jauh lebih lama daripada api yang berkobar.(*)
Laporan | Redaksi Nirmeke

