Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Jejak Sunyi Bruder Eligius Fenenteruma, OFM: Fransiskan Pertama dari Orang Asli Papua
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Artikel > Jejak Sunyi Bruder Eligius Fenenteruma, OFM: Fransiskan Pertama dari Orang Asli Papua
Artikel

Jejak Sunyi Bruder Eligius Fenenteruma, OFM: Fransiskan Pertama dari Orang Asli Papua

admin
Last updated: August 31, 2026 12:17
By
admin
Byadmin
Follow:
52 Views
1 month ago
Share
Fransiskan pertama orang asli Papua Almarhum Bruder Eligius Fenenteruma, OFM. Sumber foto: Dok Fr Engelberto Namsa, OFM
SHARE

Fransiskan Pertama dari Tanah Papua yang Mengabdikan Hidup bagi Sesama

Oleh: Engelberto Namsa

Daftar Isi
Fransiskan Pertama dari Tanah Papua yang Mengabdikan Hidup bagi SesamaMengabdikan Diri di Tanah PapuaKembali ke Tanah PapuaKembali Melayani di Lembah BaliemFransiskan Sejati dari Tanah Papua
Iklan Nirmeke

Bruder Eligius Fenenteruma, OFM dikenal sebagai Fransiskan pertama dari Orang Asli Papua (OAP). Perjalanan hidupnya merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan karya Fransiskan di Tanah Papua, khususnya dalam bidang pendidikan, pembinaan calon Fransiskan, dan pelayanan pastoral bagi masyarakat.

Eligius Fenenteruma lahir di sebuah desa kecil, Mabriema, Teluk Bintuni, Papua Barat, yang berada dalam wilayah Keuskupan Manokwari-Sorong, pada 17 Agustus 1945. Masa kecilnya dihabiskan bersama keluarga di kampung halaman.

Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (SR), Eligius melanjutkan pendidikan guru di Opleiding Dorps Onderwijsschool (Sekolah Guru Kampung) di Fak-Fak, Papua Barat. Ia menyelesaikan pendidikan tersebut pada tahun 1963.

Sebagai guru muda yang energik, Eligius kemudian direkrut oleh para misionaris Fransiskan untuk menjadi tenaga pengajar. Pada tahun yang sama, ia ditugaskan mengajar di Kampung Yegoukotu, Mapia, Dogiyai, Papua Tengah.

Di Dogiyai, panggilan untuk menjadi seorang Fransiskan mulai tumbuh dalam dirinya. Keinginan tersebut kemudian disampaikannya kepada Pater Huub Zwarjes, OFM, yang kala itu bertugas sebagai pastor di Timeepa.

Dari Timeepa, Eligius pindah tugas ke Argapura, Jayapura, sebagai calon Fransiskan. Di sana ia tinggal bersama Pater Misael Kammerer, OFM, di pastoran.

Selain menjalani masa persiapan sebagai calon Fransiskan, Eligius juga diberi tugas mengajar para tukang bangunan dalam karya Misi Katolik di Argapura. Pada waktu yang sama, persaudaraan Fransiskan memberinya kesempatan mengikuti Kursus Guru Bawa (KGB) hingga selesai.

Setelah menyelesaikan KGB, Eligius berangkat ke Pulau Jawa untuk menjalani masa pembinaan sebagai Fransiskan.

Pada 4 September 1966, di Cicurug, Keuskupan Bogor, ia menerima jubah pertobatan Fransiskan dan menjadi Bruder Tertiaris OFM. Masa tersebut dijalaninya hingga tahun 1968. Sebagai bruder muda, ia menjalankan tugas di sejumlah tempat karya Fransiskan di Jawa.

Pada tahun 1968, Eligius mengikuti kursus AKKI di Jakarta dan mulai mengajar sebagai guru agama. Setahun kemudian, tepatnya 8 Desember 1969, ia mengucapkan profesi pertama atau kaul pertama sebagai Fransiskan muda di Yogyakarta.

Baca Juga:  IPM Sarmi: Angka Naik, Rakyat Masih Jalan di Tempat

Perjalanan panggilannya kemudian mencapai tahap penting. Pada tahun 1973, Bruder Eligius Fenenteruma, OFM mengucapkan profesi kekal atau kaul kekal di Jayapura.

Mengabdikan Diri di Tanah Papua

Karya pelayanan Bruder Eligius berlangsung di berbagai wilayah. Pada periode 1971–1974, ia bertugas di wilayah karya Fransiskan di Jawa.

Tahun 1974, ia kembali ke Tanah Papua dan mulai berkarya di Pugima, Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Setahun kemudian, pada 1975, ia bertugas di Kampung Musatfak dan Wo’ogi, Jayawijaya. Pada tahun 1976, ia dipercaya menjadi Magister Postulan OFM di Elagaima, Jayawijaya, sebuah tugas pembinaan bagi para calon Fransiskan yang dijalaninya hingga tahun 1979.

Pada tahun yang sama, ia kembali berkarya di Musatfak dan Wo’ogi.

Setelah berkarya di Tanah Papua, Bruder Eligius berangkat ke Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Di sana ia menjadi tenaga pengajar di Kampung Tentang, Manggarai. Dari Tentang, ia kemudian bertugas sebagai Magister OFM di Pagal, Manggarai.

Karya pelayanannya di Flores berlangsung dari tahun 1979 hingga Mei 1981.

Kembali ke Tanah Papua

Pada tahun 1981, Bruder Eligius kembali ke Tanah Papua dan dipercaya menjadi Magister Postulan OFM di Deyai, Papua Tengah. Tugas tersebut dijalaninya hingga tahun 1986.

Selain menjalankan tugas sebagai magister, ia juga menjadi anggota dewan pimpinan persaudaraan Fransiskan OFM di Tanah Papua.

Pada 1 Juli 1987, ia bertugas di Hepuba, Welesi, Okilik, dan Pelebaga, wilayah yang termasuk dalam Misi Fransiskan di Lembah Baliem, Jayawijaya.

Dari Lembah Baliem, ia kemudian pindah ke Jayapura dan sejak tahun 1989 menjalankan tugas sebagai magister rumah pendidikan di Abepura.

Pada 13 Juli 1993, ia pindah dan bertugas di Army Post Office (APO), Jayapura. Di tempat tersebut, ia menjadi bagian dari tim pendidik untuk HIFRA, Postulan, Novisiat, sekaligus menjalankan pelayanan pastoral bagi masyarakat di wilayah pinggiran.

Pada tahun 1995, Bruder Eligius dipercaya menjadi Wakil Gardian di Biara Fransiskan APO Jayapura. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Gardian, atau penjaga biara Pusat Fransiskan di APO.

Baca Juga:  Strategi Wayang Kulit Jawa dalam Mengatur OAP di Tingkat Nasional

Kembali Melayani di Lembah Baliem

Setelah sekian lama berkarya di sekitar Kota Jayapura, Bruder Eligius kembali ke Lembah Baliem, Jayawijaya.

Pada tahun 2003, ia menjadi bagian dari tim pendidik bagi para calon Fransiskan di Wamena Kota.

Kemudian pada 2 Agustus 2005, ia kembali bertugas di Paroki Kimbim-Wo’ogi, Jayawijaya.

Di Kimbim-Wo’ogi, kondisi kesehatannya mulai menurun. Pada awal November 2005, untuk sementara waktu ia tinggal di Biara Santo Fransiskus Asisi Wenewolok, Pikhe, Jayawijaya, untuk menjalani perawatan dan mengurus kondisi kesehatannya.

Namun, kondisi kesehatan Bruder Eligius semakin memburuk. Ia beberapa kali harus menjalani perawatan di RSUD Jayawijaya.

Pada 29 November 2005, ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Dian Harapan, Waena, Jayapura.

Di rumah sakit tersebut, perjalanan hidupnya sebagai seorang Fransiskan akhirnya berakhir.

Dalam suasana tenang dan damai, Bruder Eligius Fenenteruma, OFM meninggal dunia pada 18 Desember 2005, dalam usia 60 tahun.

Ia telah menjalani panggilan sebagai Fransiskan selama kurang lebih 37 tahun.

Fransiskan Sejati dari Tanah Papua

Bruder Eligius Fenenteruma, OFM dikenang sebagai pribadi yang sederhana, rendah hati, tekun, dan setia menjalankan panggilannya.

Kesaksian dari para saudara Fransiskan maupun umat awam menggambarkan sosoknya sebagai seorang Fransiskan yang hidup sederhana dan sungguh mengabdikan dirinya bagi pendidikan, pembinaan calon Fransiskan, pelayanan pastoral, serta masyarakat di berbagai wilayah karya.

Jejak pengabdiannya membentang dari Papua, Jawa hingga Flores, sebelum akhirnya ia kembali dan menghabiskan bagian akhir hidupnya di Tanah Papua.

Bagi sejarah Gereja Katolik dan persaudaraan Fransiskan di Tanah Papua, nama Bruder Eligius Fenenteruma, OFM memiliki tempat tersendiri.

Ia dikenang sebagai Fransiskan pertama dari Orang Asli Papua, sekaligus sebagai salah satu tokoh yang menjadi bagian dari perjalanan panjang karya Fransiskan di Tanah Papua.

“Fransiskan sejati” adalah julukan yang melekat pada dirinya—bukan semata karena lamanya ia menjalani kehidupan religius, tetapi karena kesederhanaan dan kesetiaannya dalam menghidupi panggilan hingga akhir hayat.

Laporan | Dari berbagai sumber.

Related

You Might Also Like

Taman wisata owasi-owasika di dalam kota Wamena

Melihat 7 Buku Karya Markus Haluk Tentang Perjuangan dan Masa Depan Papua

Dana 15 Miliar Untuk Gereja Ditengah Ribuan Umat Gereja Terendam Musibah Banjir Sungai Balim

Kewajiban Pemerintah Daerah Mengakui dan Melindungi Masyarakat Adat: Amanat Konstitusi yang Tak Bisa Ditawar

Perempuan Genyem Yang Tanguh

TAGGED:Bruder Eligius FenenterumaFransiskan Pertama dari Orang Asli PapuaOFM

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article SPWP Soroti MBG di Papua, Henius: Jangan Abaikan Pendidikan dan Kesehatan
Next Article Dana Otsus Papua Besar, Pengawasan Lemah, Rakyat Masih Menunggu Kesejahteraan
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Markus Haluk Tekankan Pentingnya Budaya, Iman, dan Literasi Digital bagi Generasi Muda
Pendidikan
2 days ago
IPMPKDPT Gelar Penerimaan Anggota Baru, Perkuat Iman Katolik dan Budaya Papua
Tanah Papua
2 days ago
KPA Lanny Jaya Edukasi Mahasiswa Mapogadi, Dorong Kesadaran dan Kepedulian terhadap HIV/AIDS
Kesehatan
3 days ago
Operasi Militer Meluas di Tolikara, Warga Sekitar Gereja Moria Diduga Ditangkap
Polhukam Tanah Papua
3 days ago
Baca juga
ArtikelCatatan Aktivis PapuaPena Papua

Rasisme di Lapangan Hijau: Luka Lama Kolonialisme Indonesia atas Papua

12 months ago
Artikel

Papua Pegunungan Butuh Pemimpin Ideal

2 months ago
ArtikelCatatan Aktivis Papua

Mengenang Filep Karma Bapak Ideologis Bangsa Papua

2 years ago
Artikel

Pembangunan Lanny Jaya Dari Kampung ke Kota

2 years ago
Artikel

Mencangkul Harapan: Gerakan Manusia Hugula Dalam Menjaga Budaya dan Alam

1 year ago
ArtikelFeatures & Sosok Inspiratif

Perjalanan Wisisi Asep Nayak

5 years ago
Artikel

Hak Kesulungan Politik Sebagai Simbol Dalam Kontekstasi Politik

2 weeks ago
Artikel

Lembah Balim Selayang Pandang

5 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?