Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Hilangnya Nilai Budaya Orang Papua
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Catatan Aktivis Papua > Hilangnya Nilai Budaya Orang Papua
Catatan Aktivis Papua

Hilangnya Nilai Budaya Orang Papua

admin
Last updated: August 19, 2025 16:15
By
admin
Byadmin
Follow:
2.4k Views
3 years ago
Share
SHARE

Oleh: Sepi Wanimbo

Iklan Nirmeke

Nilai – nilai budaya sebagai indentitas bagi orang asli Papua memang benar – benar sudah di lumpuhkan dan dicabut dari akar – akarnya atas dampak dari kebijakan pemerintah Indonesia yang sentralistik dengan budaya Jawa. Ada benturan budaya antara budaya Melayu dan budaya Papua. Budaya Papua yang di warisi oleh orang Papua dipandang lebih rendah dan manusia juga dipandang rendah. Papua diindentikan dengan “Koteka” baju tradisional penduduk pendalaman bagi kaum pria. Budaya Papua dianggap primitif yang harus dibarui atau di – Indonesiakan.

Pendeta Phil Karel Erari berpendapat bahwa pendekatan pembangunan, a.1. Yang meliputi kebijakan sistem hukum dan pemerintahan serta pendidikan yang diberlakukan dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi di tanah Papua praktis merupakan fotokopi dari seluruh perangkat kebijakan pembangunan di Jawa dan Provinsi lainnya di Indonesia. Dalam dunia pendidikan, seluruh kurikulum dan buku – buku panduan ditetapkan tanpa memperdulikan konteks budaya dan latar belakang sejarah yang berbeda dari provinsi lain di Indonesia. Anak – anak peserta didik di Papua “dicetak” sesuai format yang berlaku umum di Indonesia, tanpa peduli bahwa ada nilai – nilai budaya, seperti bahasa lokal, “nama adat atau nama tanah” yang harus dihormati. Semua bentuk bangunan gedung sekolah disamaratakan seperti di pulau Jawa tanpa mempertimbangkan kondisi dan suku daerah di Tanah Papua.

Seperti Ruben Benyamin Gwijangge memberikan contoh nyata. Ada pelajaran yang diajarkan di sekolah – sekolah di seluruh tanah Papua seperti: “Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi, Ini Kaka Budi, Wati Kaka Budi, Budi Pergi Ke Sawah,  dan juga ada jalan Yos Sudarso, jalan Dr. Sam Ratulangi, Jalan Pattimura, Jalan Ahmad Yanni, Jalan Tamrin, Jalan, Gunung Trikora, Stadion Mandala. Ini semua menurut Ruben adalah palsu dan itu dilaksanakan Negara dalam rangka menghancurkan, menghilangkan, dan memusnahkan semua yang dimiliki Penduduk Asli Papua”. ( Gwijangge: 2012, hal. 36 ).

Erari menyoroti pula pola pendekatan di atas telah menghasilkan suatu generasi bangsa yang orientasi berpikir yang dikuasai oleh simbol – simbol yang terdapat terutama di Jawa. Simbol – simbol seperti kereta api, sawah, sebagai bagian dari infrastruktur masyarakat kota dan desa di Jawa lebih dikenal oleh anak – anak suku – suku pendalaman dan pesisir Pantai di Papua, dari pada hutan, sagu, dan perahu sebagai bahan makanan pokok dan sarana transportasi di Papua. Akibatnya generasi muda Papua terbentuk dengan wawasan Jawa sentris.

Erari juga mengkritik kebijakan pembangunan dalam bidang pemerintahan dan hukum, mengikuti garis yang sama, di mana struktur pemerintahan pada unit terkecil seperti RT, RW, kepala kampung sampai tingkat lurah, camat dan bupati yang terdapat di Jawa, merupakan struktur pemerintahan, termasuk nama – nama asing seperti itu dan struktur pemerintahannya, tidak mencerminkan karakter pemerintahan ada yang sudah lama dikenal di Papua. Dalam bidang bidang penegakan hukum atau Iaw Inforcement, penghargaan atas hukum adat, seluruh perangkat hukum positif nasional dipakai untuk memproses semua perkara perdata dan pidana. Sampai pada upacara perkawinan pun, tidak diberi ruang yang positif kepada upacara perkawinan secara adat di Papua.( Erari: hal. 155 – 157 ).

Baca Juga:  Masyarakat Adat Agimuga Tolak Rencana Eksploitasi Migas

George Junus Aditjonfro mengemukakan: “Pada penjajah tidak bisah lagi meniadakan penduduk jajahannya secara fisik, dia kemudian mengeliminir mereka secara budaya ( kultural), dengan mengatakan bahwa mereka tidak punya kebudayaan, atau dengan dalih bahwa kebudayaan mereka lebih rendah. Jadi, mitos tentang koteka, Zaman Batu dan lain – lain itu, memang sengaja dipupuk karena mendukung cara berpikir penguasa” ( Cahaya Bintang Kejora: 2000: hal. 197 ).

Pemerintah Indonesia pernah menghancurkan dan membunuh gerakan kebangkitan indentitas, jati diri dan nilai – nilai budaya dari berbagai suku bangsa Papua adalah Mambesak ( dalam bahasa Biak Numfor berarti burung Cenderawasih/burung kuning ) yang dipimpin oleh antropolog dan budayawan kawanan Papua Arnold Clemen Ap. Ap bersama – sama kawan – kawannya seperti: Sam Kapissa, Demyanus Wariap Kurni, Edy Mofu, Marthiny Md. Sawaki, Thonny W. Krenek, Jopie Jouwe mendirikan Mambesak pada 15 Agustus 1978.

Ngurah mengambarkan: “Kembangkitan indentitas budaya Papua melalui kesenian inilah yang di curigakan oleh Pemerintah Indonesia sebagai benih – benih separatisme Papua. Aparat keamanan saat itu, Koppasandha ( kini : Kopassus ) mencurigakan gerakan kebudayaan Arnold Ap dan Mambesak adalah benih laten “nasionalisme Papua” dalam “bungkus kultural”. Arnold Ap akhirnya ditembak di Pantai Pasir Edam (Base G), sebelah timur kota Jayapura pada tanggal 26 April 1984,…..”(2012: hal. 182).

Ada dominasi dan pengambilalihan dengan penyingkir penduduk Asli Papua dalam seni ukir dan kerajinan tangan. Ukir – ukiran seperti patung – patung dari Merauke, Biak, Manokwari, Noken, Gelang tangan, Koteka yang dimiliki orang asli Papua dijual orang – orang pendatang dan mendapat hasil dengan baik secara ekonomi. Selain seni ukir – ukiran, baju – baju batik yang bermotif nilai – nilai budaya Papua juga dimonopoli dan dijual oleh pendatang. Orang Penduduk Asli Papua sebagai pemilik ditempatkan sebagai pembeli barang – barang bernilai budaya milik mereka. Tidak ada perundang – undangan seperti Peraturan Daerah (Perda) untuk memproteksi dan berpihak kepada Penduduk Asli Papua. Ini salah satu bentuk proses pemiskinan dan pemusnahan hasil karya orang Asli Papua.

Baca Juga:  Perahu Wai Ron bentuk kebangkitan budaya orang Papua

Dewan Adat Papua menyoroti: “pengembangan kebudayaan Papua selama hampir empat tahun perlakuan Otonomi Khusus pun tidak menujukan perubahan apa – apa. Tidak ada upaya yang secara sengaja dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk melindungi apalagi mengembangkan dan mempromosikan kebudayaan Papua. Tidak ada upaya untuk mengembangkan pengajaran dan pemasyarakatan bahasa – bahasa asli Papua di sekolah – sekolah, padahal pasal 58 mengamanatkan hal itu. Ini harusnya menjadi perhatian karena Undang – Undang Otonomi Khusus Nomor 21 Tahun 2001 mengatur tentang pengembangan jati diri orang Papua melalui pengembangan dan mengunakan bahasa – bahasa daerah”. (2005: hal: 34).

Bahasa juga bagian dari kebudayaan dan mencerminkan indentitas suatu bangsa. Papua terdiri dari hampir 250 suku. Dari jumlah ini mempunyai bahasa sendiri. Bahasa merupakan jati diri suatu bangsa itu dapat dimengerti oleh Pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia yang mempunyai semboyang “Bhineka Tunggal Ika” berbeda – beda tetapi tetap satu, hanya omong kosong belaka. Bahasa yang dimiliki penduduk orang Asli Papua benar – benar dihancurkan dan dimusnahkan. Terjadi diskriminasi kejam di Tanah Papua. Bahasa daerah yang seharusnya menjadi bahasa pengantar di setiap sekolah sesuai dengan tempat lembaga pendidikan itu berada tidak pernah digunakan. Sebaliknya, di pulau Jawa, Sumatra dan daerah – daerah orang Melayu, Indonesia, diajarkan di sekolah – sekolah,bahkan bahasa asli dijaga, dipelihara dan dilestarikan sebagai bahasa ibu.( Otonomi Khusus Papua Telah Gagal: 2012: hal: 254-256 ).

Budaya orang asli Papua semakin hari hilan perlahan – lahan ini bukan rekayasa tetapi bukti karena itu untuk selamatkan budaya sebagai jati diri orang Papua di setiap sekolah tingkat TK Paud SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi harus di wajibkan mengajar nilai – nilai budaya Papua sendiri seperti bahasa lokal, lagu bahasa daerah, cara buat koteka, hanyam noken, buat pagar, buat honai, biking kebun, buat pana dan busur dan lainnya.

Di setiap sekolah mengajarkan nilai – nilai budaya yang sedang hilan ni mulai dari sekarang pasti sepulu dua puluh tahun ke depan budaya orang asli Papua tidak akan pernah hilan pasti tetap terjaga dengan baik. Selamat membaca sahabat – sahabatku yang mulia dan diberkati Tuhan.

)* Penulis adalah Ketua Pemuda Baptis Di Tanah Papua dan juga Anggota Forum Pemuda Kristen Di Tanah Papua

Related

You Might Also Like

Kepahlawanan dan Patriotisme

Papua, ATM Militer: Konflik yang Dipelihara demi Proyek Keamanan

Wamena Berdarah Sulit Dilupakan

Aparat Brutal, Hukum Dibungkam: Pendamping Hukum Diseret dan Dicekik di Tengah Aksi Damai

Membaca Analisa Dr. Velix Wanggai 2017: Pemilu 2024 Penentu Eksistensi OAP Lapago Papua Pegunungan

TAGGED:Budaya MelanesiaHilangnya Nilai Budaya Orang PapuaKebangkitan Budaya Orang Papua

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Amnesty: Bebaskan Tiga Terpidana Makar di Tanah Papua
Next Article Siaran Pers: Pernyataan Sikap KNPB, Garda-P, dan GempaR P Peringati Hari Pengungsi Sedunia
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

MRP Papua Pegunungan Soroti Dugaan Tertutupnya Pengelolaan Dana Otsus, Desak Evaluasi Kabag Keuangan
MRP Papua Pegunungan Papua Pegunungan
1 day ago
Refleksi 100 Hari Kerja, Sekretaris MRP Papua Pegunungan Fokus Perbaikan Tata Kelola
MRP Papua Pegunungan Papua Pegunungan Tanah Papua
1 day ago
IKBD-KLPUW2 Gelar Ibadah Paskah Bersama di Jayapura, Tekankan Spiritualitas dan Kebersamaan
Pendidikan
1 day ago
MRP Papua Pegunungan Tegaskan Kepala Daerah Tak Berwenang Ubah Hasil Pansel DPRK
MRP Papua Pegunungan Papua Pegunungan Tanah Papua
6 days ago
Baca juga
Catatan Aktivis Papua

Nota Pembelaan (Pleidoi) Victor Yeimo

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaPendidikanSastra

Pentingnya Literasi Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Pemuda Papua

2 years ago
Catatan Aktivis Papua

KEMAJUAN YANG MENGHANCURKAN

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaTanah Papua

Peringati Rasisme dan New York Agreement, KNPB Akan Mobilisasi Rakyat Papua Turun Jalan

3 years ago
ArtikelCatatan Aktivis Papua

Strategi Wayang Kulit Jawa dalam Mengatur OAP di Tingkat Nasional

10 months ago
Catatan Aktivis PapuaPerempuan & Anak

Perempuan Papua Dalam Perjuangan

2 years ago
Catatan Aktivis Papua

Genap Satu Tahun, Indonesia Abaikan Pilot Philip Marthens Ditangan Brigjen Egianus Kogeya

2 years ago
Catatan Aktivis PapuaHeadline

Kata “Mereka” Untuk Orang Asli Papua

3 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?