Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Kebudayaan Dan Kekuasaan
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Catatan Aktivis Papua > Kebudayaan Dan Kekuasaan
Catatan Aktivis PapuaSeni & Budaya

Kebudayaan Dan Kekuasaan

admin
Last updated: July 20, 2024 02:59
By
admin
Byadmin
Follow:
865 Views
2 years ago
Share
Frantz Fanon, dalam karyanya yang membahas hubungan antara kebudayaan dan kekuasaan - Dok
SHARE

Oleh: Sosialis Papua

Iklan Nirmeke

Frantz Fanon, dalam karyanya yang membahas hubungan antara kebudayaan dan kekuasaan, mengeksplorasi bagaimana kekuasaan kolonial memanipulasi dan mendistorsi kebudayaan masyarakat yang dijajah. Menurut Fanon, kolonialisme tidak hanya menaklukkan wilayah fisik tetapi juga berusaha untuk mendominasi pikiran dan identitas budaya masyarakat yang mereka jajah.

Kolonialisme melakukan ini dengan memperkenalkan dan memaksakan nilai-nilai dan budaya kolonial sebagai yang superior, sementara merendahkan dan memarginalkan kebudayaan asli. Fanon menyoroti bagaimana ini menciptakan rasa rendah diri di antara masyarakat yang dijajah, yang kemudian berusaha meniru kebudayaan penjajah sebagai cara untuk mendapatkan pengakuan dan status.

Baca Juga:  Perempuan Papua Dalam Perjuangan

Selanjutnya, Fanon membahas bagaimana kekuasaan kolonial menggunakan kebudayaan sebagai alat untuk mempertahankan dominasinya. Dengan mengendalikan sistem pendidikan, media, dan institusi budaya lainnya, kekuasaan kolonial memastikan bahwa nilai-nilai dan pandangan dunia kolonial diteruskan dan diterima sebagai norma. Ini menciptakan siklus di mana masyarakat yang dijajah terus-menerus melihat kebudayaan mereka sendiri sebagai inferior dan tidak berharga.

Fanon mengkritik bagaimana kolonialisme berusaha menghapus identitas budaya yang asli dan menggantinya dengan identitas yang sesuai dengan kepentingan kolonial. Ini menciptakan hambatan besar bagi masyarakat yang dijajah untuk menyadari potensi penuh mereka dan untuk memperjuangkan kemerdekaan sejati.

Baca Juga:  Mengenang 12 Tahun Kepergian Agus Alua (1960-2011)

Pada akhirnya, Fanon menekankan pentingnya kebudayaan dalam perjuangan melawan kekuasaan kolonial. Ia berargumen bahwa untuk mencapai kemerdekaan sejati, masyarakat yang dijajah harus merebut kembali dan merayakan kebudayaan mereka sendiri.

Fanon percaya bahwa kebudayaan memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat dan membangkitkan kesadaran kolektif tentang identitas dan nilai-nilai mereka. Kebudayaan yang asli dan tidak tercemar oleh pengaruh kolonial dapat menjadi sumber kekuatan dan inspirasi dalam perjuangan melawan penindasan. Dengan demikian, Fanon mengajak masyarakat yang dijajah untuk menggali dan menghidupkan kembali tradisi dan kebudayaan mereka sebagai langkah penting menuju pembebasan dan kemerdekaan sejati. (*)

Related

You Might Also Like

Strategi Wayang Kulit Jawa dalam Mengatur OAP di Tingkat Nasional

Simbol Sakral Bukan Kostum Politik

Kepala Daerah Harus Orang Asli Papua Bukan Solusi

“Kita Cinta Papua”: Slogan Memusnahkan Orang Asli Papua

Perempuan Papua Dalam Perjuangan

TAGGED:Eksploitasi Budaya PapuaPendidikan Sosialis Papua

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article 32 Provinsi Dipastikan Ikuti Porwanas XIV Kalsel
Next Article Tulus Untuk Orang Yang Salah
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

KNPB Yahukimo Sebut Penangkapan Aktivis Kemanusiaan Cederai Hukum, Kone Kobak Akhirnya Dibebaskan
Tanah Papua
5 days ago
Mahasiswa Papua Demo soal Kasus Dogiyai di Kementerian HAM
Berita Foto Nasional Papua Tengah Polhukam
2 weeks ago
Mahasiswa Papua di Makassar Aksi 63 Tahun Aneksasi, Dihadang Aparat dan Ormas di Monumen Mandala
Polhukam Tanah Papua
3 weeks ago
Komisi C DPRK Jayawijaya Soroti Krisis Layanan Kesehatan, Pendidikan, hingga Masalah Sosial dalam Rekomendasi LKPJ
Papua Pegunungan Tanah Papua
3 weeks ago
Baca juga
Seni & Budaya

Noken Simbol dan Identitas Orang Papua

3 years ago
Seni & Budaya

RAMBUT DI MATA ORANG HUGULA

2 years ago
Catatan Aktivis PapuaPendidikan

Penting Membaca Buku Bertani dan Berkebun di Papua

2 years ago
Catatan Aktivis Papua

Masyarakat Jadi Minoritas di Tanah Mereka Sendiri

1 year ago
Catatan Aktivis Papua

Aktivis Kemanusiaan Bukan Predator Asusila

3 years ago
Catatan Aktivis Papua

Wamena Seperti Anak Kehilangan Induk

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaHeadline

Alasan Pelajar di Papua Pegunungan Tolak Makan Bergizi Gratis

1 year ago
Catatan Aktivis PapuaLingkungan

Dampak Legitimasi Uskup Mandagi Dan Wajah Baru Gereja Katolik Papua

2 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?