Wamena, nirmeke.com – Deru mesin penggilingan padi memecah keheningan pagi di Distrik Wita-Waya, Kabupaten Jayawijaya. Karung-karung berisi gabah mulai berdatangan dari berbagai penjuru kampung. Sebagian dipikul di atas bahu, sebagian lagi diangkut menggunakan kendaraan sederhana. Di balik aktivitas itu berdiri seorang pendeta yang memilih melayani bukan hanya lewat khotbah, tetapi juga melalui kerja nyata di tengah sawah.
Ia adalah Pendeta Yop Oagai, Gembala Sidang Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Jemaat Solafide Arogolik.
Bagi Yop, pelayanan tidak berhenti ketika ibadah selesai. Ia percaya bahwa kesejahteraan jemaat juga merupakan bagian dari pelayanan.
“Kami ingin jemaat bukan hanya bertumbuh dalam iman, tetapi juga mampu menghidupi keluarganya melalui hasil pertanian,” ujarnya.
Berawal dari Sebuah Kegelisahan
Bertahun-tahun Yop menyaksikan para petani bekerja keras menanam padi. Namun setelah panen, mereka harus membawa gabah ke tempat yang jauh untuk digiling. Biaya tinggi, waktu lama, dan hasil panen sering kali tidak memberikan nilai tambah bagi petani.
Kondisi itulah yang mendorongnya mengambil langkah yang tidak biasa.
Tanpa menunggu bantuan pemerintah, ia bersama masyarakat mulai mengumpulkan dana secara swadaya. Mesin penggilingan dibeli sedikit demi sedikit. Gudang dibangun dengan kemampuan sendiri.
Tidak mudah. Setiap rupiah dikumpulkan dari hasil kerja bersama. Setiap bagian bangunan berdiri dari semangat gotong royong warga.
“Semua ini kami bangun sendiri. Mesin kami beli sendiri, gudang juga kami bangun sendiri. Kami percaya kalau menunggu terus, masyarakat tidak akan pernah maju,” kenangnya.
Perjuangan panjang itu perlahan membuahkan hasil.
Kini, penggilingan padi tersebut menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat Wita-Waya.
Bukan Hanya untuk Kampung Sendiri
Keberadaan penggilingan itu kini melayani petani dari berbagai wilayah di Jayawijaya, seperti Moai, Woosiala, Siepkosi, Libarek hingga Pike.
Setiap musim panen, puluhan ton gabah masuk untuk diolah menjadi beras.
Kelompok tani yang dibina Pendeta Yop mengelola sekitar 80 hektare lahan sawah. Sekitar 50 hektare di antaranya aktif ditanami dan mampu menghasilkan 30–35 ton beras setiap tahun dengan dua kali musim panen.
Tidak hanya menghasilkan beras.
Dedak yang sebelumnya dianggap limbah kini diolah menjadi bahan baku pakan ternak babi, ayam, dan ikan sehingga menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Bagi Yop, tidak ada bagian hasil panen yang boleh terbuang.
Ketika Pemerintah Datang Melihat
Perjuangan masyarakat Wita-Waya akhirnya mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Papua Pegunungan, Alpius Yigibalom, datang langsung meninjau lokasi sekaligus membeli dedak hasil penggilingan untuk mendukung pengembangan pakan ternak.
“Kami datang bukan hanya melihat, tetapi juga membeli dedak beras. Kalau kita ingin membangun industri peternakan lokal, semua potensi yang ada harus dimanfaatkan,” kata Alpius.
Baginya, apa yang dilakukan Pendeta Yop merupakan contoh bahwa gereja mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.
“Beliau bukan hanya berkhotbah setiap hari di mimbar, tetapi juga mengajak jemaat bekerja, berkebun, dan menghasilkan. Apa yang diajarkan di gereja diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang kami harapkan,” ujarnya.
Menurut Alpius, pembangunan Papua Pegunungan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
Pemerintah membutuhkan gereja, petani, koperasi, dan generasi muda untuk bergerak bersama.
Menjawab Keluhan Lama Petani
Selama bertahun-tahun, persoalan terbesar petani Papua Pegunungan bukan hanya soal produksi, tetapi juga pemasaran.
Banyak hasil panen yang akhirnya membusuk atau dibawa pulang karena tidak memiliki pembeli.
Kini pemerintah mulai membangun jaringan koperasi agar hasil pertanian memiliki pasar yang lebih pasti.
“Dulu masyarakat sering mengatakan hasil kebun susah dijual. Hari ini kami ingin menjawab persoalan itu. Pemerintah hadir membuka akses pasar sehingga petani tidak lagi khawatir,” kata Alpius.
Pemerintah juga mendorong masyarakat mengembangkan komoditas lokal seperti kopi, cabai, bawang, tomat, padi, dan berbagai tanaman hortikultura yang sesuai dengan kondisi alam Papua Pegunungan.
Mimpi yang Belum Selesai
Meski penggilingan padi telah berdiri dan produksi terus berjalan, perjuangan Pendeta Yop belum selesai.
Masih ada satu harapan sederhana.
Ia membutuhkan jalan produksi sepanjang sekitar 80 meter menuju lokasi penggilingan agar kendaraan pengangkut hasil panen dapat keluar masuk dengan mudah.
“Kami berharap pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dapat membantu pembangunan akses jalan produksi sehingga aktivitas pertanian semakin lancar,” harapnya.
Selain itu dengan alat mesin dan tempat yang memadai kedepan ia berkeinginan ingin punya label beras sendiri yang ia produksi.
Dari Sawah Menuju Masa Depan
Di tengah derasnya arus modernisasi, Wita-Waya memperlihatkan wajah lain Papua Pegunungan.
Di sini, pembangunan tidak dimulai dari gedung-gedung tinggi.
Ia dimulai dari sawah. Dari tangan petani, dari semangat gotong royong.
Dan dari seorang pendeta yang memilih menjadikan pelayanan sebagai gerakan membangun kehidupan.
Apa yang dilakukan masyarakat Wita-Waya menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar program pemerintah, melainkan gerakan bersama yang lahir dari kampung.
Jika semangat seperti ini terus tumbuh dan mendapat dukungan yang konsisten, bukan mustahil Papua Pegunungan kelak tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, tetapi juga menjadi salah satu lumbung pangan di Tanah Papua.(*)
Laporan | Aguz Pabika
