Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Nikolaus Haluk, Perintis Seni Pahat di Jayawijaya
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Kabar Daerah > Ekonomi & Bisnis > Nikolaus Haluk, Perintis Seni Pahat di Jayawijaya
Ekonomi & BisnisSeni & Budaya

Nikolaus Haluk, Perintis Seni Pahat di Jayawijaya

admin
Last updated: January 21, 2026 14:50
By
admin
Byadmin
Follow:
428 Views
7 years ago
Share
Nikolaus Haluk, perintis seni pahat di Jayawijaya - Dok
SHARE

Wamena, nirmeke.com – Kebanyakan orang mungkin mengira, seniman pahat atau pematung di Papua hanya ada di sekitar wilayah pesisir atau pun di Asmat yang karya ukirnya sangat terkenal.

Iklan Nirmeke

Namun, di Pegunungan Tengah Papua tepatnya di Kabupaten Jayawijaya, ada sesosok Nikolaus Haluk yang merupakan seniman pahat dan telah menghasilkan karya yang luar biasa dan telah tembus pasar nasional.

Ya, mungkin banyak orang yang belum mengenal siapa sosok Nikolaus Haluk yang bisa dibilang sebagai pematung pertama di wilayah Pegunungan Papua.

Namun ketika saya tiba di sanggar miliknya, Sabtu (9/3/2019) siang di kampung Siepkosi. Distrik ini  kurang lebih berjarak 10 km dari Wamena. Sosok Nikolaus sangat bersahaja dan ramah  menyambut saya bersama teman-teman jurnalis lainnya.

Setiba di sanggar miliknya yang berukuran sekitar 6×7 meter persegi itu, Niko,begitu sapaan akrabnya, langsung menunjukkan karya patung yang masih ia kerjakan.

Di sanggarnya yang sederhana itu, semangat pak Niko terus terpompa untuk memahat. Hasilnya tidak kalah saing dengan ukiran di Asmat maupun daerah lainya serta kental akan budaya lokal Wamena.

Dia mengaku mempelajari seni pahat ini sejak 1981, berawal dari rasa kegundahannya akibat tidak dapat melanjutkan pendidikan, sehingga ia pun diangkat menjadi tenaga pengajar pembantu misionaris Katolik atau Katekis.

Apalagi Niko melihat teman dekatnya dapat melanjutkan pendidikan dan mendapat gelar, sementara dia tidak bisa lanjutkan pendidikan. Akhirnya dia memutuskan menjadi Wene Wolok (pewarta gereja) di salah gereja Katolik di Siepkosi.

“Saya akhirnya diberhentikan sebagai tenaga honorer dari Keuskupan Jayapura, lalu saya sempat berpikir bagaimana caranya bisa menghidupi keluarga. Di suatu saat, saya sempat melihat suatu batang pohon yang kayunya berbentuk wujud manusia, lalu saya ambil pisau baru korek-korek sedikit sehingga berubah menjadi bentuk patung,” kata pria kelahiran 9 September 1959 itu.

Baca Juga:  Pj Gubernur Kondomo Lantik Pengurus Himpunan Pengusaha OAP Papua Pegunungan 

Sejak saat itu, ia terus menggali bakatnya itu dengan hanya menggunakan parang dan pisau. Tanpa alat pahat memadai. Karya pertamanya dihasilkan pada 1992.

“Karya patung pertama saya ini kecil saja berukuran 50 cm, dan saya berikan kepada Bupati Jayawijaya saat itu, JB Wenas. Bupati pun memberikan penghargaan Rp.600 ribu, dan langsung dijadikan binaan pemerintah daerah Jayawijaya,” katanya.

Dari kecil kini menjadi besar. Ketekunan yang dilakukan itu, kini ia dapat membuat patung sehari dua karya dengan patung berukur 60 cm. Jenis kayu yang dipilihnya pun menggunakan kayu yang biasa dibuat perahu atau ukulele.

Ia pun pernah membuat patung setinggi orang dewasa dan menara pengintai. Bahkan, di 1997 saat Presiden Soeharto saat itu kegiatan di Buper Waena, Jayapura, ia diundang untuk memamerkan hasil karyanya itu.

Dan akhirnya, undangan itu pun membuahkan hasil dimana presiden Soeharto memerintahkan Bupati Jayawijaya untuk membawanya ke Subang, Jawa Barat untuk mendalami seni pahatnya.

“Karya yang saya buat selalu identik dengan budaya di Jayawijaya, tidak pernah membuat karya dari budaya daerah lain, karena itu sama sama seperti ‘memperkosa’ budaya daerah itu,” kata bapak empat orang anak ini.

Pasar bagi hasil karyanya itu, pertama dilakukan dengan rutin mengikuti kegiatan Expo di Waena sejak 1992-1997 di anjungan Jayawijaya.

Kini karyanya juga bisa dijumpai di Yayasan Oikonomos Wamena, dimana dari hasil karyanya itu ia bisa menghasilkan uang mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

“Saya pernah membuat patung Mumi yang sempat juga dipamerkan di Jayapura, dan ada orang yang beli patung Mumi itu dengan harga Rp50 juta,” katanya.

Baca Juga:  Pemerintah Kampung Usilimo Salurkan Bibit Babi dari Dana BUMKAM

Tak lupa ia pun memperlihatkan berbagai kegiatan pamerannya dalam skala nasional dalam satu album foto, bahkan ada sebuah foto ia tunjukan dimana ia membuat suatu karya patung yang bercerita.

“Ini karya yang saya buat dalam satu batang pohon dibuat patung, namun bercerita salah satunya tentang suasana perang masyarakat pegunungan lengkap dengan menara pengintainya,” katanya.

Meski keempat anaknya semuanya mengikuti jejak sang ayah mahir dalam mengukir patung, tetapi khusus bagi anak sulung (tertuanya) hingga kini masih mencari pekerjaan setelah selesai kuliah, dan anak kedua dan ketiganya sempat putus sekolah, dan yang paling bunggu masih duduk di SMP.

“Saya bersyukur hingga kini perhatian pemerintah masih ada, di bawah binaan dinas pariwisata dan kebudayaan serta dinas tenaga kerja, perindustrian dan perdagangan Jayawijaya, dengan mempromosikan karya saya,” katanya.

Cucu Nikolaus Haluk, Siska Isaba yang dijumpai di sanggar itu menceritakan jika karya yang dihasilkan Tetenya (kakek) itu ia pun ikut membantu menjualnya di Yayasan Oikonomos.

“Di mata keluarga, Tete ini orangnya baik dan perhatian. Meski saya tidak pernah belajar memahat seperti kakek, tetapi orang tua saya bisa,” ujar Siska yang hari-harinya menemani sang kakek.

Dalam kesempatan itu juga, kebetulan Titus Meaga selaku kepala bidang kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jayawijaya sedang mengunjungi rumah/sanggar Niko Haluk.

“Seniman untuk ukir-ukiran memang hanya di bagian wilayah Siepkosi saja, yang menjadi pelopor seniman pahat ini memang beliau perintisnya,” kata Titus Meaga.

Ia mengklaim, sejauh ini pemerintah terus memberikan bantuan pembinaan kepada seniman pahat yang ada di Jayawijaya, dimana hingga kini terdapat tiga orang seniman pahat di Jayawijaya. (*)

Sumber: Jubi.co.id

Related

You Might Also Like

Mengapa Begitu Banyak Musisi Besar Adalah Orang Kulit Hitam?

Setahun Tanpa Kepastian, Mama-Mama Papua Desak Gubernur Papua Selatan Segera Bangun Pasar

Pemprov Papua Pegunungan Luncurkan Program “Habis Apel, Minum Kopi Kita” untuk Dukung UMKM Lokal

Kadis Perindagkop Papua Pegunungan Kunjungi Kebun Kopi Nirmeke di Umpakalo, Dukung Usaha Petani Lokal

Kampung Tua Krisi Bokoi Tabelanusu Akan Dijadikan Objek Wisata Rohani

TAGGED:Nikolaus HalukPerintis seni pahat di Jayawijaya

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Festival Film Papua III akan digelar di Sorong pada 6-9 Agustus
Next Article Gapensi Jayawijaya mengelar sosialisasi tentang perpajakan
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Mahasiswa Papua di Makassar Aksi 63 Tahun Aneksasi, Dihadang Aparat dan Ormas di Monumen Mandala
Polhukam Tanah Papua
2 days ago
Komisi C DPRK Jayawijaya Soroti Krisis Layanan Kesehatan, Pendidikan, hingga Masalah Sosial dalam Rekomendasi LKPJ
Papua Pegunungan Tanah Papua
2 days ago
Pegiat Literasi Salurkan Buku Bacaan untuk Pemuda Gereja Baptis Onggeme, Dorong Generasi Muda Cintai Pendidikan
Pendidikan Sastra
2 days ago
Komisi B DPRK Jayawijaya Soroti Sektor Pertanian, Koperasi, dan Pasar dalam Rekomendasi LKPJ 2026
Papua Pegunungan Tanah Papua
2 days ago
Baca juga
Catatan Aktivis PapuaSeni & Budaya

Sean Rii, Musik Melanesia dan Irama Perlawanan

2 years ago
Ekonomi & Bisnis

Ratusan Mama-Mama Pedagang Papua Audiensi dengan Gubernur Papua Barat Daya

1 year ago
Ekonomi & BisnisTanah Papua

Festival Budaya 12 Suku Yahukimo, HIPMI Dorong Pemerintah Perhatikan UMKM Lokal

9 months ago
Ekonomi & Bisnis

Agus Logo Anggota DPRD Jayawijaya Ajak Masyarakat Untuk Kembali Berkebun

1 year ago
Seni & Budaya

Perahu Wai Ron bentuk kebangkitan budaya orang Papua

8 years ago
Ekonomi & BisnisPendidikan

Mahasiswa KKN Gandeng Dinas Terkait Tingkatkan Produksi Daun Bawang di Kampung Walelagama

11 months ago
Ekonomi & BisnisPapua PegununganTanah Papua

Pemprov Papua Pegunungan Ajak Warga Lanny Jaya Kembali ke Kebun, Siapkan Skema Serap Hasil Petani

2 weeks ago
Seni & BudayaTanah Papua

Festival Budaya Lanny Jaya ke-4 Digelar, Bupati Aletinus: Mari Jaga Budaya dan Bahasa Daerah

9 months ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?