Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Cerita Singkat Awal Kehadiran Gereja Katolik di Wilayah Asmat – Agats
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Artikel > Cerita Singkat Awal Kehadiran Gereja Katolik di Wilayah Asmat – Agats
ArtikelEditorial

Cerita Singkat Awal Kehadiran Gereja Katolik di Wilayah Asmat – Agats

Soleman Itlay
Last updated: September 12, 2025 21:54
By
Soleman Itlay
BySoleman Itlay
Follow:
376 Views
1 year ago
Share
Cerita Singkat Awal Kehadiran Gereja Katolik di Wilayah Asmat – Agats - Dok
SHARE

Oleh: Engwlberto Namsa

Iklan Nirmeke

Sekilas Kehadiran Misi Awal Katolik di Papua

Kehadiran misi Katolik di Papua berawal dari karya seorang misionaris Yesuit, Pater Le Cocq d’Armandville, SJ. Saat masih bertugas di Pulau Geser, Pater Le Cocq mendengar cerita-cerita tentang Pulau Papua dari pemerintah Belanda dan warga setempat.

Sebagai seorang misionaris yang tangguh dan pemberani—sering disamakan dengan Rasul Paulus—Pater Le Cocq memutuskan untuk melaksanakan misi ke Tanah Papua. Ia berangkat dari Geser menggunakan kapal laut dan pada 22 Mei 1894 untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Kampung Sekeru, Fak-Fak.

Setelah tiba, ia berusaha menjalin kontak dengan penduduk setempat. Sekeru saat itu bukanlah kampung besar; rumah-rumah warga berdiri jauh satu sama lain. Pater Le Cocq bahkan mendaki pegunungan untuk mencari penduduk, namun jarang bertemu orang. Malam harinya ia kembali ke pantai dan berjumpa dengan beberapa warga. Di situlah ia mulai berbicara tentang Tuhan dan karya keselamatan-Nya.

Hanya sehari di Sekeru, Pater Le Cocq sudah membaptis delapan anak, dan dalam sembilan hari berikutnya jumlah baptisan bertambah menjadi 65 orang. Selain di Sekeru, ia juga berkarya di Bomfia.

Sayangnya, karya misi Pater Le Cocq tidak berlangsung lama. Pada 27 Mei 1896, ia meninggal dunia setelah perahunya diterpa ombak besar di Pantai Kipia dan Mapar, Mimika. Saat itu ia memaksa pergi ke pantai untuk membayar utang kepada warga serta menjemput anak-anak yang akan dibawa ke Kapaur untuk sekolah.

Misionaris MSC dan Suster PBHK

Selama Perang Dunia II, orang Asmat mengalami pendudukan tentara Jepang. Perjumpaan dengan dunia luar membuat mereka mulai menuntut agar pemerintah membuka pos di wilayah mereka.

Baca Juga:  Mengapa Saya Tidak Suka Disebut Suku Dani?

Sejak 1928, banyak orang Asmat muncul di pantai Mimika, menyebabkan keresahan di kalangan penduduk setempat. Pemerintah akhirnya menampung mereka di Yapero, di perbatasan Agats dan Timika, sekaligus membuka sekolah untuk anak-anak.

Tahun 1940, pemerintah mengutus pegawai Felix Maturbongs untuk menyiapkan tempat pembukaan pos pemerintah di Asmat. Namun karena perang dunia berkecamuk, tiga sekolah yang sempat dibuka ditutup kembali.

Pada 1950, Pastor G. Zegwaard, MSC, melakukan peninjauan ke Asmat, disusul Pastor A. Weling setahun kemudian. Mereka menempatkan katekis dari Mimika untuk membantu. Perjalanan mereka mengelilingi wilayah Asmat memakan waktu tujuh minggu dengan perahu dayung.

Tanggal 3 Februari 1953, Pastor Zegwaard dan Pastor Weling menetap di Kampung Syuru dan memulai karya pastoral. Jumlah penduduk Asmat saat itu diperkirakan sekitar 40.000 jiwa, menggunakan bahasa yang sama dengan beberapa dialek.

Pada 1 Februari 1954, baptisan pertama diadakan di Syuru dengan 54 orang muda menerima sakramen. Pada periode ini pula pemerintah membuka kantor KPS (Kepala Pemerintah Setempat) di Agats. Namun konflik antarsuku (perang saudara) masih sering terjadi, bahkan pada 1956 terjadi pembunuhan besar di Ayam yang menewaskan 30 orang Yipaier.

Misi Katolik terus berkembang dengan pembukaan tiga pusat misi:

  1. Syuru (Agats) pada 1953 oleh Pastor Zegwaard.
  2. Ayam dan Yamasy oleh Pastor Weling (1953 & 1956).
  3. Atsy pada 1956.

Pada tahun yang sama, tiga suster tiba untuk membantu karya pastoral.

Baca Juga:  Cadangan Minyak Indonesia 3,95 Miliar Barel, Terbanyak di Papua

Kehadiran Misionaris OSC dan Suster TMM

Tahun 1956, jumlah umat Katolik di Asmat telah mencapai 2.000 orang, sebagian besar anak-anak dan kaum muda. Ayam menjadi kampung pertama yang memiliki sekolah dasar bersubsidi. Para suster membuka asrama untuk anak perempuan dan poliklinik untuk merawat orang sakit.

Pada 15 Desember 1958, Ordo Salib Suci (OSC) datang menggantikan MSC dalam karya pastoral di Asmat. Sejak 1 November 1961, OSC mengambil alih seluruh wilayah secara penuh, meskipun MSC masih membantu khususnya di pantai Kasuari.

Para pastor OSC kemudian menyusun program kerja baru agar orang Asmat tidak tertinggal dari kemajuan zaman. Mereka membuka penggergajian kayu, mendirikan koperasi di 11 kampung, dan menjadikan paroki-paroki sebagai pusat pembinaan masyarakat.

Pada masa peralihan dari pemerintah Belanda ke Indonesia, terjadi tragedi: Pastor Yan Smit, OSC, ditembak mati oleh KPS W. Fimbay pada 28 Februari 1965 ketika sedang mengurus sekolah.

Tahun 1966, Suster TMM dari Ambon datang menggantikan Suster PBHK dari Merauke.

Akhirnya, pada 21 Agustus 1969, diumumkan bahwa Asmat menjadi keuskupan sendiri dengan uskup pertamanya Mgr. Alphons Sowada, OSC, yang telah berkarya di Asmat sejak 1961 dan membuka Paroki Saowa-Erma pada 1962.

Sumber:

  1. Keuskupan Agung Merauke, Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan, Merauke, 1995.
  2. Ikhtisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat, Jilid II.
  3. P. Treunschuh, OSC, Mengenal Daerah Asmat: An Asmat Sketch Book, Jilid I & II, 1970.
  4. R. Kuris, SJ, Sang Jago Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Related

You Might Also Like

Perempuan Genyem Yang Tanguh

Mengenal Pos Misi Katolik Pertama di Papua

Papua Pegunungan Butuh Pemimpin Ideal

Lukas Enembe Hianati Aspirasi Rakyat West Papua Dengan Mendukung Pemekaran 7 Provinsi 

Sa Pu Kaka Adalah Sa Pu Guru

TAGGED:Awal Kehadiran Gereja Katolik di Wilayah Asmat – AgatsKehadiran Misionaris OSC dan Suster TMMMisionaris MSCSekilas Kehadiran Misi Awal Katolik di PapuaSuster PBHK

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Oknum TNI Non Organik Aniaya Karyawan Bakery, Warga Wamena Kian Resah
Next Article Pilot Muda Papua Aben Salak Disambut Syukuran Tiga Gereja dan Delapan Kampung di Waniok
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Markus Haluk Tekankan Pentingnya Budaya, Iman, dan Literasi Digital bagi Generasi Muda
Pendidikan
1 day ago
IPMPKDPT Gelar Penerimaan Anggota Baru, Perkuat Iman Katolik dan Budaya Papua
Tanah Papua
2 days ago
KPA Lanny Jaya Edukasi Mahasiswa Mapogadi, Dorong Kesadaran dan Kepedulian terhadap HIV/AIDS
Kesehatan
2 days ago
Operasi Militer Meluas di Tolikara, Warga Sekitar Gereja Moria Diduga Ditangkap
Polhukam Tanah Papua
2 days ago
Baca juga
Artikel

Melihat 7 Buku Karya Markus Haluk Tentang Perjuangan dan Masa Depan Papua

3 years ago
Editorial

Nakes dan Guru di Papua Terancam Stigma Mata-Mata Militer Pasca Revisi UU TNI

2 years ago
Artikel

Pembangunan Lanny Jaya Dari Kampung ke Kota

2 years ago
ArtikelLingkungan

Air Kali Uweima Sumber Kehidupan Masyarakat Balim Huwula

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Orang Papua Terjebak Dalam Skenario Kolonial Dan Kapitalis Untuk Kepentingan Investasi

2 years ago
EditorialHeadlineTanah Papua

Indonesia Hadir “Tanpa Diundang” di MACFest 2023

3 years ago
ArtikelOlaraga

Norfince Boma, Mutiara Dari Papua

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Daftar Beberapa Operasi Militer yang Terjadi di Papua Dari Tahun 1961 Hingga 2023

3 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?