Wamena, nirmeke.com — Departemen Pemuda Baptis West Papua menggelar hening cipta dan seminar Hak Asasi Manusia (HAM) dalam rangka memperingati Hari HAM Sedunia sekaligus merayakan HUT ke-20 organisasi tersebut. Kegiatan berlangsung pada Rabu (10/12/2025) dan menjadi bagian dari rangkaian perayaan Natal yang telah dimulai sejak 8 Desember.
Hening cipta tersebut dipersembahkan untuk menghormati para tokoh dan pejuang HAM Papua yang telah gugur dalam perjuangan membela hak-hak dasar masyarakat adat Papua. Usai prosesi hening cipta, kegiatan dilanjutkan dengan seminar yang membahas lima kebijakan utama organisasi, dengan salah satu fokus utama pada isu pelanggaran HAM.
Materi mengenai HAM dibawakan oleh pemateri Wilson Wenda. Dalam paparannya, Wilson menegaskan bahwa nilai-nilai HAM harus menjadi landasan bagi generasi muda Baptis West Papua dalam melihat realitas sosial hari ini.
“HAM berlaku bagi setiap manusia, terutama generasi muda Baptis West Papua yang harus memahami dan mempertahankannya,” ujarnya.
Wilson menyampaikan bahwa nilai-nilai HAM telah diwariskan oleh tetua gereja sejak awal berdirinya lembaga Baptis di Papua.
“Atas dasar HAM, gereja ini diterima oleh para tua-tua gereja dan dipertahankan dari generasi ke generasi,” tambahnya.
Ia juga menyoroti bahwa pelanggaran HAM masih terus terjadi di Tanah Papua, termasuk terhadap warga gereja Baptis. Karena itu, ia mengajak pemuda dan seluruh peserta seminar untuk mengambil peran aktif.
“Pelanggaran HAM di Tanah Papua masih terus terjadi. Karena itu, mari kita bersama-sama menyuarakan dan mencari solusi untuk mengatasi persoalan ini,” tegas Wilson.
Dalam sesi diskusi, peserta seminar mengusulkan beberapa langkah strategis, antara lain; menjaga keberlangsungan hidup komunitas adat, melindungi tanah, hutan, gunung, serta lembah sebagai identitas masyarakat, dan memperkuat peran gereja dalam advokasi dan pendidikan HAM.
Peringatan HUT ke-20 Pemuda Baptis West Papua, perayaan Natal 2025, dan seminar HAM digelar selama lima hari, mulai 8 hingga 12 Desember 2025, dengan melibatkan pemuda gereja dari berbagai wilayah Papua Pegunungan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penguatan kesadaran HAM bagi pemuda gereja sekaligus dorongan untuk terus memperjuangkan keadilan dan keberlangsungan hidup masyarakat Papua.(*)
