Wamena, Nirmeke.com – Masyarakat adat Distrik Walelagama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, kini resmi memiliki Sekolah Adat. Peresmian sekolah adat tersebut dilakukan pada Rabu, 7 Mei 2025, dan disaksikan oleh tokoh adat, perwakilan pemerintah daerah, serta masyarakat setempat.
Sekolah adat ini merupakan bagian dari pendidikan informal dan nonformal yang bertujuan untuk menjaga eksistensi masyarakat adat, khususnya suku Hugula, serta mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Program yang ditawarkan mencakup Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)/TK, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), sekolah minggu, lapak baca, seni tari, seni lukis, kerajinan tangan, serta pengajaran bahasa daerah dan bahasa asing. Sekolah ini juga membuka peluang kerja sama dengan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, dan Pariwisata untuk memperkuat muatan lokal di wilayah tersebut.
“Kehadiran sekolah adat ini sangat penting untuk menjaga identitas masyarakat adat agar tidak hilang di tengah derasnya arus globalisasi,” ujar Ambrosius Haluk, Kepala Sekolah Adat Walelagama.
Pembentukan sekolah adat ini juga sejalan dengan berbagai regulasi nasional dan konvensi internasional, seperti Konvensi ILO 169 tentang hak ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat adat, serta Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Pemerintah Indonesia, melalui kebijakan Otonomi Khusus Papua, juga memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian budaya masyarakat adat. Salah satunya dengan membentuk Majelis Rakyat Papua (MRP) sebagai lembaga kultural representatif.
Sekolah Adat Walelagama menjadi salah satu bentuk nyata implementasi dari komitmen internasional dan kebijakan nasional dalam melestarikan budaya masyarakat adat di Papua Pegunungan.
Dalam sambutannya, para tokoh masyarakat menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, gereja, dan lembaga swadaya masyarakat untuk memperkuat pendidikan adat, termasuk pengembangan sekolah adat berpola asrama.
“Pendidikan adat bukan segalanya, tetapi di tengah perubahan zaman, ini sangat dibutuhkan untuk menjaga jati diri masyarakat,” ujar salah satu tokoh adat yang hadir.
Acara peresmian turut dihadiri oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala Distrik Walelagama, serta Kepala Satpol PP Provinsi Papua. Juga hadir pastor Paroki Pugima dan Yiwika, Lembaga Masyarakat Adat (LMA), dan Dewan Adat Papua (DAP). Sementara Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Pegunungan berhalangan hadir karena agenda di Jakarta.
Sekolah adat ini diharapkan dapat menjadi basis penguatan budaya yang berkelanjutan, termasuk menjadi bagian penting dalam berbagai event daerah, nasional, hingga internasional, seperti Festival Lembah Baliem.
“Kami berharap pemerintah terus mendorong pengembangan sekolah adat. Ini adalah satu-satunya jalan untuk mempertahankan bahasa, budaya, dan identitas masyarakat adat di Papua Pegunungan,” tutup Feliks Itlay, Sekretaris Sekolah Adat Walelagama.(*)
Pewarta: Soleman Itlay
