Wamena, nirmeke.com — Di tengah hiruk-pikuk kota Wamena yang dikelilingi pegunungan hijau, ada satu sudut sederhana di lingkungan SMK Yasores yang menjadi tempat lahirnya harapan baru: kandang ayam dan ternak kecil milik Kelompok Usaha BERKAT.
Di balik pagar bambu dan suara ayam yang bersahutan, berdiri sosok pemuda tangguh bernama Nelson Kossay, alumni Fakultas Peternakan Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari.
Nelson bukan sekadar sarjana yang pulang kampung. Ia pulang dengan misi—membangun dari bawah, dari tanah sendiri. Lulus dari bangku kuliah, ia tak mencari pekerjaan di kota besar, melainkan memilih kembali ke Jayawijaya, tanah kelahirannya, untuk memulai usaha peternakan kecil-kecilan.
“Saya percaya, perubahan itu harus dimulai dari tempat kita sendiri. Saya ingin anak muda di sini punya arah, bukan hanya ikut arus,” kata Nelson sambil menabur pakan ke kandang ayam.
Kelompok usahanya diberi nama BERKAT—sebuah nama yang sederhana namun penuh makna. Dari tempat ini, Nelson memelihara ayam, bebek, itik, dan babi (wam dalam bahasa lokal). Dalam sepekan, ia bisa mengumpulkan lebih dari 100 butir telur dari ayam petelurnya. Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus.
Pernah, dari 10 ekor ayam petelur, hanya tersisa 5 ekor karena kekurangan pakan. Tapi alih-alih menyerah, Nelson menjadikan pengalaman itu sebagai pelajaran berharga. Ia belajar mengatur ulang pola makan, membuat jadwal ternak, dan memanfaatkan bahan pakan lokal untuk bertahan.
“Kami jatuh bangun. Tapi saya tahu, usaha tidak bisa instan. Butuh proses, kesabaran, dan komitmen,” ucapnya sambil tersenyum.
Yang menarik, Nelson bukan hanya dikenal sebagai peternak muda. Semasa kuliah, ia adalah petinju daerah yang sempat berlaga di kejuaraan tingkat provinsi di Papua Barat. Semangat kompetitif itulah yang kini ia bawa ke dunia usaha: pantang menyerah, fokus, dan konsisten.
Lebih dari sekadar mencari penghasilan, Nelson ingin memberi contoh bagi anak-anak muda di Jayawijaya. Ia tahu bahwa banyak pemuda terjebak dalam lingkaran pengangguran dan kehilangan arah. Maka lewat usaha kecilnya ini, ia ingin menunjukkan bahwa siapa pun bisa memulai, asal mau bekerja dan belajar.
“Anak muda Papua Pegunungan harus bangkit. Kita tidak kekurangan ide atau tenaga—yang kita butuhkan adalah keberanian untuk memulai,” tegasnya.
Kini, usaha BERKAT mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk tokoh pemuda dan pemerintah daerah. Mereka melihat model yang Nelson bangun bukan hanya berorientasi pada ekonomi, tapi juga pada pembentukan karakter dan kemandirian pemuda.
Di tengah laju perubahan yang kadang terasa terlalu cepat, kisah Nelson Kossay menjadi pengingat bahwa perubahan sejati bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dari kandang ayam yang bersahaja, dari semangat anak muda yang tak kenal lelah, dari tanah Papua yang kaya dan penuh potensi.(*)
Pewarta: (CR/AW)
