WAMENA, NIRMEKE.COM — Intelektual Jayawijaya Anton Wetipo mendorong pemerintah segera memanfaatkan kondisi air yang mulai surut untuk melakukan normalisasi Sungai Baliem di sejumlah titik rawan, sebagai langkah antisipasi banjir yang dapat mengancam pertanian masyarakat di Lembah Baliem.
Anton mengatakan normalisasi perlu dilakukan sebelum musim hujan tiba. Menurutnya, terdapat sejumlah titik aliran Sungai Baliem yang mengalami penyumbatan akibat material tanah longsor sehingga berpotensi menyebabkan air meluap dan menggenangi lahan pertanian masyarakat.
“Sambil menunggu El Niño, saya memberikan masukan agar segera lakukan normalisasi Sungai Baliem yang sering membuat tersumbat aliran air hingga menggenangi Lembah Baliem yang selalu merendam tanaman, pertanian rakyat,” kata Anton. Rabu, (23/9/2026).
Ia menyebut titik yang perlu mendapat perhatian berada di wilayah Distrik Asolokobal, Asotipo dan Maima. Material tanah longsor dari sejumlah lokasi disebut menjadi salah satu sumber penyumbatan aliran sungai.
Menurut Anton, saat ini debit air sudah mulai surut. Kondisi tersebut dinilai menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk melakukan langkah cepat sebelum memasuki musim hujan.
“Saat ini air sudah surut sehingga jika dilakukan langkah gerak cepat, jika musim hujan tiba, dampak banjir tidak terlalu besar bagi rakyat di Lembah ini,” ujarnya.
Selain persoalan banjir, Anton juga mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk tetap mengantisipasi dampak El Niño terhadap ketahanan pangan di Jayawijaya.
Ia mengatakan kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Papua Pegunungan, termasuk Kuyawage, perlu mendapat perhatian serius. Anton menyebut dirinya bersama tim telah lebih dahulu mendatangi Kuyawage untuk membawa bantuan kemanusiaan dan melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Harap agar tidak dipersoalkan. Bantuan kemanusiaan di sana lebih parah dibandingkan kita di Wamena. Kami sudah terlebih dahulu ke sana bawa bantuan dan lihat kondisi kekeringan di sana dengan mata kepala sendiri,” katanya.
Menurut Anton, kondisi Lembah Baliem saat ini masih terbantu karena tanaman pertanian masyarakat belum seluruhnya terdampak kekeringan.
“Di Lembah Baliem ini, Tuhan masih memberikan kasih kemurahan sehingga tanaman tidak mati untuk saat ini,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan kondisi tersebut tidak boleh membuat pemerintah lengah. Anton meminta langkah antisipasi dilakukan sejak sekarang karena, menurutnya, berdasarkan prediksi BMKG yang ia rujuk, kondisi El Niño diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.
“Yang perlu kita antisipasi adalah tiga bulan ke depan,” katanya.
Anton berharap pemerintah dapat menggunakan waktu sebelum musim hujan untuk melakukan normalisasi di titik-titik Sungai Baliem yang mengalami penyumbatan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko banjir sekaligus melindungi lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupan masyarakat di Lembah Baliem.(*)

