Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Tanpa Gedung, Tanpa Upah, Tapi Penuh Cinta: 17 Anak Pengungsi Lulus dari SD Kristen Duma
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Catatan Aktivis Papua > Tanpa Gedung, Tanpa Upah, Tapi Penuh Cinta: 17 Anak Pengungsi Lulus dari SD Kristen Duma
Catatan Aktivis PapuaPendidikan

Tanpa Gedung, Tanpa Upah, Tapi Penuh Cinta: 17 Anak Pengungsi Lulus dari SD Kristen Duma

admin
Last updated: June 13, 2025 20:03
By
admin
Byadmin
Follow:
283 Views
1 year ago
Share
SHARE

Ditulis oleh: Akia Wenda

Iklan Nirmeke

Di sebuah gang kecil bernama Damai, di tengah kota Wamena yang sering dikaitkan dengan konflik dan keterbatasan, sekelompok anak-anak berdiri tegap dengan seragam putih-merah. Mereka bukan sekadar siswa biasa—mereka adalah simbol harapan dari tanah yang lama terbungkam oleh kekerasan.

Untuk pertama kalinya, SD Kristen Duma, sebuah sekolah swasta kecil di bawah naungan Yayasan Alfera Papua, meluluskan 17 siswa angkatan pertamanya. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak pengungsi dari Kabupaten Nduga, yang sejak 2018 harus meninggalkan kampung halaman akibat konflik berkepanjangan antara TNI dan TPNPB.

Dari Pengungsian Menuju Bangku Sekolah

Konflik yang memanas sejak tujuh tahun lalu memaksa ribuan warga Nduga mengungsi ke Jayawijaya. Dalam pelarian itu, banyak anak kehilangan akses terhadap pendidikan. SD Kristen Duma hadir sebagai respons kemanusiaan, bukan sekadar lembaga pendidikan.

Sebagian besar anak-anak datang tanpa kemampuan dasar—tak mengenal huruf, belum memahami Bahasa Indonesia, bahkan tak terbiasa duduk tenang dalam ruang belajar. Tapi guru-guru di sekolah ini menerimanya dengan tangan terbuka dan hati lapang.

“Usia mereka bervariasi, kemampuan pun berbeda-beda. Tapi kami percaya, setiap anak bisa belajar kalau diberi kasih,” kata Kepala Sekolah Lidia Tabuni, mengenang awal mula perjuangan mereka.

Baca Juga:  Transmigrasi Sebagai Alat Kolonisasi di Melanesia Barat (Papua Barat)

Belajar di Bawah Pohon

Tanpa gedung sekolah yang layak, kegiatan belajar mengajar dilakukan di bawah naungan pohon rindang, atau di dua ruangan kecil bekas TK Kristen Duma. Tidak ada papan tulis digital, tidak ada meja belajar berderet rapi. Tapi semangat belajar begitu kuat.

Guru-guru di SD Kristen Duma adalah para relawan dan guru honorer yang tak menerima gaji. Satu-satunya bayaran yang mereka kantongi: senyum anak-anak dan secercah harapan yang mulai menyala.

Ujian Akhir, Ujian Kehidupan

Berkat ketekunan guru dan kegigihan siswa, 17 anak mengikuti ujian akhir di sekolah mitra yang diakui pemerintah. Hasilnya: semua dinyatakan lulus. Tangis haru pun pecah dalam acara pelepasan sederhana yang sarat makna.

“Mereka dulu datang tanpa bisa membaca, menulis, atau berhitung. Tapi hari ini, mereka lulus dengan air mata bahagia,” ujar Lidia dengan suara bergetar.

Puisi “Guruku Pahlawanku” dan lagu “Kini Tiba Saatnya Kita Berpisah” menggema di antara isak tangis para orang tua, guru, dan tamu undangan. Di antara keterbatasan, lahirlah satu generasi baru yang berhasil menembus batas.

Gedung Belum Rampung, Mimpi Belum Padam

Baca Juga:  Yesus Itu Sosialis, Sang Pemberontak!

Saat ini, Yayasan Alfera Papua tengah membangun gedung sekolah dua lantai dengan enam ruang kelas. Namun, proses pembangunan baru mencapai 75 persen karena keterbatasan dana.

“Kami tidak punya banyak uang. Tapi kami punya hati yang besar untuk generasi ini,” kata Dius Wenda, Penasehat Yayasan Alfera, dengan mata yang tak mampu menyembunyikan kebanggaannya.

Apresiasi Pemerintah dan Pesan untuk Masa Depan

Kalep Asso, perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya, turut hadir dan menyampaikan apresiasinya. Ia menyebut SD Kristen Duma sebagai bukti kuat bahwa peran masyarakat sipil sangat penting dalam menyelamatkan masa depan pendidikan anak-anak Papua.

Dalam khotbah perpisahan, Vero Tabuni menyampaikan pesan yang menyentuh:

“Masa depan sungguh ada. Harapanmu tidak akan hilang. Tinggalkan masa lalu. Kejarlah mimpimu demi negerimu.”

Sekolah yang Menjadi Simbol Kemanusiaan

SD Kristen Duma bukan sekadar sekolah. Ia adalah tempat pulih, tempat bangkit, dan tempat tumbuhnya cahaya dari reruntuhan luka. Dalam keterbatasan, cinta bekerja diam-diam, dan hasilnya terlihat dalam 17 senyum yang kini memandang dunia dengan penuh harapan.

“Selamat jalan anak-anak Papua. Teruslah nyalakan pelita masa depan kalian.”

 )* Ketua Departemen Pemuda Baptis West Papua & Jurnalis di Wamena

Related

You Might Also Like

Kisah Anak Rantau di Bawah Terik Mentari: Saga Youtefa Jayapura

Mahasiswa Nduga dan Lani Jaya Se Jawa Bali Minta Pemerintah Mediasi Konflik Horizontal di Wamena

Komunitas Wamena Empowerment Dan Deputi Kunjungi Paud Balim Aradoba

Rekrutmen Honorer K2 Dinilai Sarat Kepentingan, Guru Lama Dikorbankan hingga Palang SD Inpres Muliama

Fajar Dari Timur (Aurora ab Oriente) Benar-Benar Bersinar

TAGGED:17 Anak Pengungsi Lulus dari SD Kristen Duma

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article KNPI Yahukimo Pertanyakan Tujuan Kunjungan Wakil Gubernur Papua Pegunungan dan Enam Kementerian
Next Article Aparat Brutal, Hukum Dibungkam: Pendamping Hukum Diseret dan Dicekik di Tengah Aksi Damai
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

PKK Yahukimo Gelar Pelatihan Awana, Perkuat Kapasitas Guru dan Pengasuh Sekolah Minggu
Papua Pegunungan Perempuan & Anak
4 days ago
KNPI Yahukimo Gelar Diskusi Panel, Dorong Peran Pemuda Jaga Stabilitas Daerah
Papua Pegunungan
4 days ago
Wakil Bupati Esau Miram Paparkan Kinerja APBD Yahukimo 2025
Papua Pegunungan
6 days ago
Dukung Generasi Penerus, Anggota DPRP Onias Wenda Bantu Mahasiswa Lanny Jaya di Jayapura
Papua Pegunungan Pendidikan
6 days ago
Baca juga
Catatan Aktivis Papua

Aparat Brutal, Hukum Dibungkam: Pendamping Hukum Diseret dan Dicekik di Tengah Aksi Damai

1 year ago
Pendidikan

Bundha Literasi Ajak Pelajar Yahukimo Bangkitkan Semangat Membaca

1 year ago
Kabar DaerahPapua TengahPendidikan

Pemuda Pemudi GIDI Sion Nabire Perkuat Komitmen Empat Pilar MPR RI

5 months ago
Raga Kogeya Koordinator Pengungsi Nduga di Wamena - Yefta/nirmeke
Catatan Aktivis PapuaTanah Papua

Raga Kogeya: Pengungsi Nduga Masih Diabaikan Oleh Pemerintah Indonesia

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaHeadline

Stigma Mata-Mata Militer Terhadap Nakes dan Guru di Papua Semakin Menguat Pasca Revisi UU TNI

1 year ago
Catatan Aktivis PapuaPendidikan

Penting Membaca Buku Bertani dan Berkebun di Papua

2 years ago
Catatan Aktivis Papua

EMPOWERMENT SOSIALISME

3 years ago
LingkunganPendidikan

Mahasiswa Jayawijaya Kritik Proyek Cetak Sawah 2.000 Hektare di Tanah Adat Hubula

7 months ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?