Yogonima, nirmeke.com – Suasana halaman Gereja Katolik Kapel Santo Yohanes Pembaptis Yogonima, Distrik Itlay Hisage, tampak berbeda sepanjang Januari 2026. Di tengah rangkaian Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-I, puluhan anak dan orang tua duduk melingkar, menyanyikan lagu sambil menghitung angka dengan penuh semangat.
Metode yang digunakan adalah GASING (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan), sebuah pendekatan pembelajaran matematika yang dikembangkan Prof. Yohanes Surya. Pelatihan berlangsung selama 13 hari, 18–30 Januari 2026, sebagai bagian dari festival yang digelar sejak 2 hingga 31 Januari 2026.
Sekitar 50 peserta mengikuti pelatihan secara bertahap, mulai dari anak-anak sekolah hingga orang tua yang tergabung dalam pengurus Sekolah Adat Hugulama. Sejumlah siswa dari SD Inpres Sumunikama dan SD Inpres Sekan Ganda juga turut dilibatkan.
Ketua Gasing Center Papua Pegunungan, Obeth Tabuni, mengatakan pelatihan ini bertujuan memperkuat kemampuan dasar numerasi masyarakat kampung.
“Kami ingin membuktikan bahwa anak-anak di kampung juga mampu menguasai matematika jika diajarkan dengan metode yang tepat. GASING membuat matematika tidak menakutkan lagi,” ujarnya.
Tim fasilitator yang terdiri dari Andreas Matuan, Novita Meage, serta dua tenaga administrasi mendampingi peserta selama proses belajar. Mereka tidak hanya memberikan teori, tetapi juga mendorong praktik langsung di depan peserta lain.
Sekretaris Gasing Center Papua Pegunungan, Andreas Matuan, menyebut perkembangan peserta cukup menggembirakan.
“Beberapa orang tua yang awalnya belum mengenal angka, sekarang sudah bisa menulis dan menghitung. Anak-anak pun lebih percaya diri saat maju ke depan untuk menjawab soal,” katanya.
Metode GASING menggabungkan pembelajaran berhitung dengan lagu dan gerakan tubuh, sehingga suasana belajar menjadi aktif dan menyenangkan. Pendekatan ini dinilai efektif diterapkan di kampung-kampung yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan.
Salah satu peserta pelatihan, Maria Hisage (nama disamarkan), mengaku awalnya ragu mengikuti kegiatan tersebut.
“Dulu saya takut kalau dengar matematika. Tapi sekarang saya bisa hitung sendiri. Anak-anak juga senang karena belajar sambil nyanyi,” ungkapnya sambil tersenyum.
Ketua Panitia Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-I 2026, Yeremias Hisage, berharap kolaborasi dengan Gasing Center dapat terus berlanjut.
“Ini bukan hanya soal angka, tapi soal membangun kepercayaan diri anak-anak dan orang tua. Kami ingin sekolah adat menjadi tempat lahirnya generasi yang kuat dari kampung sendiri,” ujarnya.
Panitia juga mengapresiasi para fasilitator yang dinilai menunjukkan komitmen dengan datang langsung ke Yogonima di tengah kesibukan tugas mereka.
Melalui kegiatan ini, pengurus sekolah adat berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih terhadap potensi akademik anak-anak Papua, khususnya di bidang matematika, serta mendukung inisiatif pendidikan berbasis komunitas di kampung-kampung.
Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-I menjadi momentum penting bagi masyarakat Yogonima untuk menegaskan bahwa pendidikan dasar, termasuk literasi numerasi, dapat tumbuh dari inisiatif masyarakat sendiri.(*)
Pewarta: Soleman Itlay
