Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Ketika “Pengertian” Berganti Menjadi Pungutan — Krisis Integritas di Pemerintahan Jayawijaya
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Editorial > Ketika “Pengertian” Berganti Menjadi Pungutan — Krisis Integritas di Pemerintahan Jayawijaya
Editorial

Ketika “Pengertian” Berganti Menjadi Pungutan — Krisis Integritas di Pemerintahan Jayawijaya

admin
Last updated: October 21, 2025 09:38
By
admin
Byadmin
Follow:
4 months ago
Share
4 Min Read
Dugaan Pungutan Liar dalam Sosialisasi Penyaluran Dana Kampung di Jayawijaya - Dok Video
SHARE

Oleh: Redaksi Nirmeke

Iklan Nirmeke

Sebuah video berdurasi 33 detik yang beredar luas di media sosial beberapa hari terakhir memperlihatkan Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Jayawijaya sedang berbicara dalam forum sosialisasi penyaluran Dana Desa Tahap I.

Dalam video itu, pejabat tersebut meminta agar para kepala kampung “memahami” adanya biaya transportasi untuk pengawalan dana ke distrik dan biaya penginputan data yang diambil dari dana yang akan disalurkan ke masyarakat di 328 kampung se-Jayawijaya.

Pernyataan singkat tersebut memantik gelombang reaksi keras di ruang publik. Warga, aparat kampung, aktivis, dan tokoh masyarakat yang tergabung dalam berbagai grup WhatsApp menilai permintaan itu tidak pantas dan berpotensi menjadi pungutan liar (pungli) berkedok kebijakan administratif.

Mereka mempertanyakan dasar hukum dan transparansi dari biaya-biaya yang disebutkan, sebab dana desa seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, bukan untuk menutup biaya birokrasi pemerintah.

Hingga kini, belum ada klarifikasi tertulis dari pihak DPMK maupun Pemerintah Kabupaten Jayawijaya yang menjelaskan maksud, dasar hukum, serta mekanisme pemotongan dana tersebut.

Padahal, dalam tata kelola pemerintahan yang transparan, setiap kebijakan yang menyangkut penggunaan uang publik wajib disertai dokumen resmi, bukan sekadar “permintaan pengertian” dalam forum lisan.

Pemerintahan yang Membebani Rakyat

Baca Juga:  5 Jenis Mata Pencaharian Hidup Suku Hugula di Papua (Bagian 2)

Jika benar dana desa akan dipotong untuk alasan transportasi dan penginputan data, maka ini bukan sekadar persoalan teknis.

Ini adalah indikasi krisis integritas birokrasi — sebuah praktik di mana pejabat publik menormalkan beban biaya kepada pihak yang justru paling lemah dalam struktur pemerintahan: kepala kampung dan masyarakat desa.

Dalam logika pelayanan publik, pegawai pemerintah sudah digaji untuk melaksanakan tugasnya. Meminta tambahan biaya dari penerima manfaat bukan hanya menyalahi etika birokrasi, tetapi juga melanggar semangat Permendesa dan PMK yang menekankan pengelolaan dana desa secara transparan, akuntabel, dan partisipatif.

Pemotongan dana tanpa dasar hukum yang jelas bisa dikategorikan sebagai maladministrasi dan, dalam kondisi tertentu, pungli sebagaimana didefinisikan dalam Perpres No.87 Tahun 2016 tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar.

Citra Pemerintahan di Ujung Tanduk

Isu ini bukan hanya tentang seorang Plt. Kadis, melainkan tentang pola kepemimpinan dan pengawasan di bawah pemerintahan Bupati Atenius Murib dan Wakil Bupati Rony Elopere. Sebagai pucuk pimpinan daerah, mereka bertanggung jawab atas setiap kebijakan, termasuk integritas pejabat yang bekerja di bawahnya.

Jika pemerintah daerah tidak segera mengklarifikasi dan menertibkan praktik seperti ini, maka kredibilitas mereka akan runtuh di mata publik.

Pemerintahan yang menuntut “pengertian” dari rakyat kecil sementara abai pada tanggung jawab moral dan hukum adalah pemerintahan yang kehilangan arah. Pemerintah seharusnya melindungi dana publik, bukan mengaburkannya dengan bahasa yang menyesatkan.

Baca Juga:  Kalau Otsus dan Pemekaran Dilanjutkan di West Papua

Redaksi Berpendapat

Redaksi menilai bahwa Pemda Jayawijaya harus segera melakukan langkah korektif berikut:

  1. Menerbitkan klarifikasi resmi dan terbuka tentang isi dan konteks pernyataan Plt. Kadis DPMK, termasuk menunjukkan dasar hukum jika memang ada ketentuan biaya tertentu.
  2. Melakukan audit internal oleh Inspektorat terhadap seluruh mekanisme penyaluran dana desa dan mempublikasikan hasilnya secara transparan.
  3. Menjamin tidak ada pemotongan dana desa di luar ketentuan resmi, serta menindak oknum atau pejabat yang menyalahgunakan wewenang.
  4. Mendorong partisipasi publik dan media untuk terus mengawasi proses penyaluran dana desa agar benar-benar berpihak pada masyarakat kampung, bukan pada kepentingan birokrasi.

Editorial ini mengingatkan bahwa integritas pemerintah daerah tidak diukur dari besarnya anggaran, melainkan dari bagaimana anggaran itu dijaga dan digunakan secara jujur.

Jayawijaya tidak membutuhkan pejabat yang meminta “pengertian”, tetapi pemimpin yang berani menegakkan aturan tanpa kompromi terhadap praktik yang mencederai kepercayaan publik.

Jika video 33 detik ini tidak direspons dengan langkah serius, maka durasi singkat itu akan menjadi simbol panjang dari lemahnya tata kelola dan pudarnya moral birokrasi di Tanah Papua.(*)

Related

You Might Also Like

Populasi Suku Hugula (Wamena) Sudah Mulai Merosot?

Salibkan Lukas Enembe

Daftar Beberapa Operasi Militer yang Terjadi di Papua Dari Tahun 1961 Hingga 2023

Bangsa Ini Bangsat

Peran Utama Militer Kolonial Di Wilayah Jajahan

TAGGED:328 kampung se-JayawijayaDana Desa Kabupaten JayawijayaPlt Kadis BPMK JayawijayaPungli Dana Desa di 328 kampung se-Jayawijaya

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Panitia Perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua Resmi Terbentuk
Next Article Departemen Pemuda Baptis West Papua Gelar Seminar Pemuda di Timika
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

Unika Fajar Timur Papua Resmi Diluncurkan pada Penutupan Sinode Keuskupan Jayapura 2026
Pendidikan Tanah Papua
8 hours ago
12 Klub Resmi Lolos Screening, Liga 4 Papua Pegunungan Siap Bergulir
Olaraga
2 days ago
HMPJ Gelar Raker dan POF 2026–2027, Dorong Kualitas Mahasiswa di Era Globalisasi dan Digitalisasi
Pendidikan
2 days ago
Sekolah Adat Hugulama Diharapkan Jadi Rumah Belajar Budaya bagi Generasi Muda
Papua Pegunungan Pendidikan Seni & Budaya
2 days ago
Baca juga
Editorial

Fenomena Jual-Beli Marga Papua: Telanjangi Diri Sebelum Punah

3 years ago
Editorial

Peta Kekerasan di Papua Barat: 100 Ribu Orang Terbunuh

3 years ago
ArtikelEditorial

Sejarah Misi Katolik di Kampung Yogonima

2 years ago
EditorialHeadline

Hantu Kapitalisme Dibalik Stigma Miskin Esktrim di Wamena

3 years ago
Editorial

Gereja Bukan tempat Fashion Show

8 years ago
Editorial

Lukas Enembe Hianati Aspirasi Rakyat West Papua Dengan Mendukung Pemekaran 7 Provinsi 

4 years ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Transmigrasi Sebagai Alat Kolonisasi di Melanesia Barat (Papua Barat)

1 year ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Sejarah Hari HAM Dan Realitas Indonesia

2 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?