Kalau ada satu momen di mana Papua paling dekat dengan pintu kemerdekaan, momen itu adalah 1999-2001. Dan di tengah momen itu berdiri satu nama yaitu Dortheys Hiyo Eluay.
Theys bukan orang baru dalam dunia politik Indonesia. Dia adalah ondoafi/Pemimpin dari, Sentani, dia pernah ikut Pepera pada 1969, pernah juga 21 tahun jadi anggota DPRD dari Parkindo dan Golkar. Dengan kecermatannya,dia tau betul bagaimana Jakarta bekerja.
Tapi saat reformasi 1998 mengubah segalanya. Soeharto jatuh, ruang demokrasi terbuka. Di Papua, kekecewaan puluhan tahun yang dipendam rakyat Papua meledak. Theys menangkap momen itu.
Yang dia lakukan bukan angkat senjata. Dia angkat adat.
Dia menyatukan 250 suku di bumi Cendrawasih. Dia mendirikan dan memimpin Lembaga Musyawarah Adat (LMA). Untuk pertama kalinya, Papua punya satu payung adat yang diakui Orang Gunung dan Orang Pantai .
Dia juga membuat wadah politik yang diakui negara. Bersama Presiden Abdurrahman Wahid, yang memberikan angin Otonomi Khusus, lahirlah Presidium Dewan Papua (PDP) pada tahun 2000. Ini bukan OPM di hutan Seperti Egianus Kogoya. Ini dewan yang berkantor di Jayapura, ya. gak salah baca ada kantornya
Dia menggelar Kongres RakyJuni 2000. Di at Papua II, 29 Mei – 3 GOR Cenderawasih Jayapura, Theys sebagai Ketua terpilih memimpin lebih dari 500 utusan dari seluruh Papua, Baik Gunung dan Pantai, Di sanalah dekrit 1 Desember 1999 yang dia cetuskan sebelumnya diteguhkan: menolak hasil Pepera 1969, menuntut pengakuan kemerdekaan, dan mengibarkan Bintang Kejora berdampingan dengan Merah Putih, saat itu diizinkan oleh Gus Dur.
Itulah mengapa orang bilang “hampir merdeka”. Untuk beberapa bulan, Jayapura terasa seperti ibukota negara baru. Bintang Kejora berkibar di kantor-kantor, di kampung-kampung, di depan rumah Theys sendiri. Dialog dengan Jakarta bukan lagi soal pembangunan, tapi soal sejarah dan status politik. Dunia internasional datang melihat. Delegasi dari Vanuatu, dari LSM internasional, Kamera pers Dunia ada di kongres.
Theys menjalankan strategi yang sangat cerdik, dia gak bicara pemberontakan, dia bicara pelurusan sejarah. Dia bilang, “Kita sudah merdeka 1 Desember 1961, kita hanya mau meluruskan sejarah.” Dengan bahasa itu, dia membuat gerakan Papua terlihat sangat bermartabat, non-kekerasan, dan sah secara adat di mata orang Papua,dan Dunia, tapi juga bisa diterima secara dialog oleh Jakarta yang Liberal. Jakarta saat itu goyah. Di bawah Megawati, faksi-faksi di TNI melihat PDP sebagai ancaman disintegrasi yang nyata. Karena itulah PDP harus dihentikan secepatnya.
Penculikan dan pembunuhan Theys pada 10 November 2001 di Hamadi setelah dia dijamu di Markas KOPASSUS. Theys pulang menuju Sentani, Saat perjalanan pulang terjadi penghadangan, sopirnya sempat telepon ke rumah sambil menangis bilang mereka sedang diculik di kawasan Skyline.
Keesokan paginya, mobil Kijang miliknya ditemukan terperosok ke jurang di kawasan Koya dekat perbatasan PNG. Theys ditemukan sudah tewas di dalam mobil,sedangkan sopirnya Ari Masoka hilang sampai hari ini .
Pengadilan Militer telah memvonis bersalah kepada Tujuh Oknum Anggota KOPASSUS atas pembunuhan yang terjadi pada November 2001 tersebut. Dengan meninggalnya Theys, mati pula payung besar yang menyatukan 250 Suku Bumi Cendrawasih dalam satu komando damai.
Tanpa Theys, PDP terpecah, Bintang Kejora dilarang keras lagi, dan Otonomi Khusus yang dia harapkan jadi jembatan justru berjalan tanpa pemimpin adat yang paling dihormati,kini semua saling sikut, saling mengklaim wilayah komando.
Pemerintah Pusat tetap melanjutkan implementasi kebijakan itu ,termasuk penyaluran dana Otsus dan penegasan aturan afirmatif perlindungan hak politik OAP—dengan pandangan bahwa Otsus dan pembangunan infrastruktur bertujuan mempercepat kesejahteraan serta kemajuan daerah di Tanah Papua.
Tapi kini Pandangan Intelek OAP telah bergeser.
Bandara di Sentani sekarang pakai namanya – Bandara Dortheys Hiyo Eluay. Tapi bagi banyak orang tua di Sentani, nama itu bukan hanya sekadar Bandara. Itu pengingat bahwa pernah ada satu orang yang berhasil membuat Jakarta duduk bersama tanpa ada moncong senjata meletus di Papua, dan membuat satu Pulau percaya bahwa merdeka bukan lagi mimpi di hutan, tapi sesuatu yang bisa dirapatkan di meja Kongres.(**)

