SENTANI, NIRMEKE.COM — Di tengah kemeriahan Festival Danau Sentani (FDS) XV di Kalkhote, Kabupaten Jayapura, tidak semua orang membawa pulang hasil dari keramaian. Bagi Yohana Keya, 36 tahun, hari pertama festival justru berakhir tanpa satu pun noken terjual.
Mama Yohana, ibu lima anak asal Nabire, Papua Tengah, datang bersama rombongannya menggunakan kapal laut. Mereka membawa berbagai kerajinan tangan berupa noken hasil rajutan sendiri untuk dijual selama pelaksanaan FDS XV.
Bagi Yohana, perjalanan dari Nabire ke Kabupaten Jayapura bukan sekadar mengikuti festival. Berjualan noken dari satu daerah ke daerah lain saat ada kegiatan merupakan cara yang selama ini ia lakukan untuk menghidupi keluarganya.
“Kalau saya kemarin pra-festival tidak berjualan. Saya baru mulai di pembukaan FDS kemarin. Namun masih kurang pengunjung yang berbelanja noken kerajinan yang kami buat,” kata Yohana kepada wartawan Nirmeke.com di Kalkhote, Sentani, Jumat (4/9/2026).
Di lapak sederhana miliknya, berbagai jenis noken telah disiapkan. Ada noken berbahan benang, kulit kayu hingga noken anggrek dengan harga yang bervariasi.
Noken rajutan berbahan benang dijual mulai sekitar Rp50 ribu. Sementara noken berbahan kulit kayu memiliki harga hingga sekitar Rp500 ribu. Untuk noken anggrek, harganya berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta, tergantung jenis dan ukurannya.
Yohana mengatakan, mama-mama penjual noken yang mengikuti kegiatan seperti FDS biasanya membawa stok dalam jumlah tertentu.
“Noken rajutan dari benang itu kami bawa 50, kulit kayu 50 lebih, dan kalau anggrek itu untuk satu ibu dia bawa lebih dari 30 potong,” ucapnya.
Namun banyaknya kerajinan yang dibawa tidak sebanding dengan pembeli yang datang.
Menurut Yohana, kondisi FDS XV kali ini berbeda dengan festival sebelumnya. Pengunjung memang datang dan melihat-lihat, tetapi sebagian besar hanya bertanya mengenai harga kemudian berlalu.
Yohana mengaku kondisi tersebut membuat pendapatan mereka jauh berbeda dibandingkan ketika mengikuti kegiatan serupa sebelumnya.
“Kalau FDS sebelumnya itu karena orang jalan kaki dari depan banyak, jadi pembeli ada. Kami pulang juga ada berkat sedikit di tangan. Kalau sekarang ini mereka cuma tanya saja tapi lewat-lewat, karena pengunjung langsung masuk semua ke dalam tempat kegiatan FDS,” jelasnya.
Padahal, dalam satu hari ketika kondisi ramai, penjualan noken bisa menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
“Dalam satu hari kami bisa dapat Rp500 ribu sampai Rp1 juta, tergantung pengunjung yang datang beli. Tapi sekarang ini kemarin hari pertama saja kami pulang kosong. Kami sewa tempat untuk berjualan Rp300 ribu, belum bayar kos Rp1 juta, jadi beda sekali dengan event sebelumnya,” tutur perempuan 36 tahun tersebut.
Karena itu, Yohana berharap pengunjung FDS tidak hanya menikmati rangkaian acara utama, tetapi juga menyempatkan diri mendatangi dan membeli produk kerajinan mama-mama Papua yang ikut berjualan.
“Setidaknya para tamu yang berdatangan itu diarahkan untuk mengunjungi setiap stan milik kami, mama-mama Papua, sesuai dengan tema tahun ini,” ujarnya.
Bagi Yohana, menjual noken bukan sekadar aktivitas ekonomi. Hasil penjualan menjadi sumber untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk biaya sekolah anak-anaknya.
Sehari-hari ia berjualan noken di Nabire. Ketika ada festival atau kegiatan besar di daerah lain, ia bersama rombongan berpindah dari satu kota ke kota lainnya untuk mencari pembeli.
“Saya biasa berjualan di Nabire dan kalau ada kegiatan seperti ini kami rombongan biasa jalan dari kota ke kota lain. Hasil dari jualan ini saya pakai untuk makan, minum dan biaya sekolah anak,” ucapnya.
Di balik ramainya Festival Danau Sentani XV, kisah Mama Yohana menjadi gambaran lain tentang perjuangan mama-mama Papua. Mereka datang membawa hasil kerajinan tangan dan harapan sederhana: agar produk mereka dilihat, dihargai dan dibeli.
Bagi mereka, satu noken yang terjual bukan hanya sebuah transaksi. Di dalamnya ada biaya makan keluarga, kebutuhan rumah tangga dan harapan agar anak-anak mereka tetap bisa bersekolah.(*)
Pewarta: Yance Wenda

