Yahukimo, nirmeke.com — Manajemen Markas Pusat Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (KOMNAS TPNPB) mengeluarkan imbauan kepada warga sipil, baik orang Papua maupun warga pendatang, untuk menjaga jarak dari aparat keamanan Indonesia di wilayah yang mereka sebut sebagai zona konflik bersenjata.
Imbauan tersebut disampaikan dalam Siaran Pers Ke-IV Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB yang dikeluarkan Jumat (21/8/2026) dan ditandatangani juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom.
Dalam siaran pers tersebut, TPNPB juga mengklaim bertanggung jawab atas tewasnya seorang warga yang mereka tuduh sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia di wilayah Kali Bonto, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Kamis (20/8/2026).
Menurut klaim TPNPB, korban disebut telah menjadi target operasi karena diduga memberikan informasi kepada aparat keamanan terkait keberadaan pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo.
TPNPB menyebut operasi tersebut dilakukan oleh pasukan Batalyon Yallenang yang dipimpin Kombi Yemberenge sekitar pukul 06.23 hingga 07.00 WIT.
TPNPB Keluarkan Imbauan kepada Warga Sipil
Dalam pernyataannya, TPNPB meminta warga Papua maupun warga pendatang yang berada di wilayah konflik untuk tidak berada dekat dengan aparat militer Indonesia.
“Warga imigran Indonesia dan orang Papua segera jaga jarak dengan aparat militer Indonesia di wilayah perang,” demikian salah satu poin imbauan dalam siaran pers tersebut.
TPNPB juga meminta warga yang menjalankan aktivitas sebagai ASN, anggota legislatif, anggota MRP, tukang ojek, pedagang maupun pelaku usaha lainnya untuk mempertimbangkan aktivitas mereka apabila berada dekat dengan aparat keamanan.
Namun, pernyataan tersebut juga memuat ancaman terhadap kelompok warga tertentu apabila dianggap mendukung pemerintah Indonesia.
Minta Intelijen Keluar dari Wilayah Konflik
TPNPB selanjutnya meminta orang-orang yang mereka klaim sebagai agen intelijen pemerintah Indonesia untuk meninggalkan wilayah konflik bersenjata di Tanah Papua.
Menurut mereka, langkah tersebut dimaksudkan untuk mengurangi potensi jatuhnya korban jiwa dalam konflik bersenjata.
Pernyataan TPNPB tersebut muncul di tengah situasi keamanan di sejumlah wilayah Papua yang masih diwarnai konflik bersenjata antara kelompok bersenjata Papua dan aparat keamanan.
Sementara itu, seluruh klaim mengenai identitas korban, status sebagai agen intelijen, serta kronologi kejadian di Kali Bonto masih memerlukan verifikasi dari pihak berwenang dan sumber independen.
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB dalam siaran pers tersebut mencantumkan Jenderal Goliath Tabuni sebagai Panglima Tinggi TPNPB-OPM, Letnan Jenderal Melkisedek Awom sebagai Wakil Panglima, Mayor Jenderal Terianus Satto sebagai Kepala Staf Umum, dan Mayor Jenderal Lekagak Telenggen sebagai Komandan Operasi Umum. [Red]

