Wamena, nirmeke.com – Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Provinsi Papua Pegunungan, Alpius Yigibalom, SH., M.Si, mengapresiasi peran gereja dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian. Menurutnya, pelayanan gereja tidak hanya diwujudkan melalui pemberitaan firman di mimbar, tetapi juga melalui aksi nyata yang mampu meningkatkan kesejahteraan jemaat.
Hal tersebut disampaikan Alpius saat mengunjungi sentra penggilingan padi yang dikelola secara swadaya oleh Pendeta Yop Oagai, Gembala Sidang Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Jemaat Solafide Arogolik, di Distrik Wita-Waya, Kabupaten Jayawijaya, Senin (20/7/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung aktivitas penggilingan padi sekaligus membeli dedak hasil pengolahan beras yang akan dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak dalam program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang sedang dikembangkan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan.

“Kami datang bukan hanya untuk melihat, tetapi juga membeli dedak beras yang nantinya digunakan sebagai bahan baku pakan ternak. Kalau kita ingin membangun industri peternakan lokal, maka semua potensi yang ada harus dimanfaatkan,” ujar Alpius.
Gereja Dinilai Berhasil Menggerakkan Petani
Dalam kunjungan itu, Alpius menyampaikan apresiasi kepada Pendeta Yop Oagai yang dinilai berhasil menggerakkan jemaat untuk mengembangkan sektor pertanian sekaligus membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Menurutnya, apa yang dilakukan Pendeta Yop menunjukkan bahwa pelayanan gereja tidak berhenti pada kegiatan rohani, tetapi juga hadir menjawab kebutuhan hidup masyarakat.
“Beliau bukan hanya berkhotbah setiap hari di mimbar, tetapi juga mengajak jemaat bekerja, berkebun, dan menghasilkan. Apa yang diajarkan di gereja diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang kami harapkan,” katanya.
Alpius menilai gereja merupakan mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan masyarakat, khususnya di wilayah pedalaman Papua Pegunungan.
“Pendeta adalah perpanjangan tangan pemerintah di tengah masyarakat. Ketika jemaat diajak memanfaatkan lahan yang tersedia dan bekerja bersama, maka pelayanan gereja ikut menghadirkan kesejahteraan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kawasan Wita-Waya memiliki lahan pertanian yang luas dan subur sehingga berpotensi menjadi salah satu sentra produksi pangan di Papua Pegunungan.
“Lembah ini sangat luas, tanahnya subur, dan memiliki potensi yang luar biasa. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang memiliki kemauan untuk mengelolanya,” tuturnya.
Pemerintah Bangun Rantai Produksi hingga Pasar
Alpius menegaskan, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan saat ini fokus memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan komoditas lokal seperti padi, kopi, cabai, tomat, bawang, dan hortikultura lainnya.
Selain mendorong peningkatan produksi, pemerintah juga membangun sistem pemasaran berbasis koperasi agar hasil panen petani memiliki kepastian pasar.
“Dulu masyarakat sering mengeluh hasil kebunnya tidak laku dan harus dibawa pulang. Hari ini kami ingin menjawab persoalan itu. Pemerintah hadir membuka akses pasar sehingga petani tidak lagi khawatir menjual hasil panennya,” katanya.

Ia optimistis sektor pertanian Papua Pegunungan akan terus berkembang seiring semakin banyaknya generasi muda yang mulai kembali mengelola lahan dan membangun usaha produktif.
“Saya bersyukur melihat anak-anak muda mulai aktif bekerja dan kembali ke kebun. Ini menjadi harapan baru bagi Papua Pegunungan. Kalau semangat ini terus dijaga, saya yakin kesejahteraan masyarakat akan semakin meningkat,” ujarnya.
Penggilingan Padi Dibangun Secara Swadaya
Sementara itu, Pendeta Yop Oagai menjelaskan penggilingan padi yang dikelolanya dibangun secara swadaya sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan jemaat melalui sektor pertanian.
Ia mengatakan, seluruh fasilitas awal, mulai dari pembelian mesin hingga pembangunan gudang, berasal dari hasil usaha kelompok tani bersama masyarakat.
“Semua ini kami bangun sendiri. Mesin kami beli sendiri dan gudang kami bangun sendiri. Belakangan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya membantu merehabilitasi gedung, sedangkan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan membangun gudang penampungan dan lantai jemur. Atas bantuan itu kami sangat berterima kasih,” ujarnya.
Menurutnya, kelompok tani yang dibina saat ini mengelola sekitar 80 hektare lahan sawah, dengan sekitar 50 hektare di antaranya aktif ditanami. Dari lahan tersebut mampu diproduksi sekitar 30 hingga 35 ton beras setiap tahun dengan dua kali musim panen.
Penggilingan padi tersebut juga melayani petani dari sejumlah wilayah lain, seperti Moai, Woosiala, Siepkosi, Libarek hingga Pike.
Selain menghasilkan beras, usaha tersebut memproduksi dedak yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak babi, ayam, maupun ikan.

Pendeta Yop menilai Papua Pegunungan memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri apabila seluruh lahan pertanian dimanfaatkan secara optimal.
“Cabai, tomat, bawang, bahkan beras yang datang dari luar daerah semuanya ditanam oleh petani. Tanah yang sama juga kita miliki di Jayawijaya. Mari kita kelola bersama agar kebutuhan pangan kita dipenuhi dari hasil daerah sendiri,” katanya.
Meski demikian, ia berharap pemerintah dapat membantu pembangunan jalan produksi sepanjang sekitar 80 meter menuju lokasi penggilingan agar distribusi hasil pertanian semakin lancar.
“Kami berharap pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dapat membantu pembangunan akses jalan produksi sehingga aktivitas pertanian dan penggilingan padi semakin mudah,” harapnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, gereja, koperasi, dan masyarakat terus diperkuat agar sektor pertanian menjadi fondasi ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua Pegunungan.(*)
Pewarta: Aguz Pabika
