Oleh: Mahasiswa Kedokteran Uncen Asal Jayawijaya
Sebanyak 21 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (Uncen) asal Kabupaten Jayawijaya kini menghadapi ketidakpastian serius. Bantuan studi yang dijanjikan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya melalui Dinas Kesehatan tak kunjung terealisasi, membuat mereka terancam cuti kuliah karena keterbatasan biaya.
Para mahasiswa ini sebelumnya diterima melalui jalur mandiri, berbeda dengan jalur Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang telah mendapat dukungan resmi pemerintah daerah. Padahal, kebutuhan tenaga dokter di Jayawijaya begitu mendesak untuk mengisi puskesmas-puskesmas yang sudah dibangun di berbagai distrik.
Janji yang Belum Terealisasi
Menurut penuturan mahasiswa, dua bulan lalu Kepala Dinas Kesehatan Jayawijaya beserta staf sempat bertemu mereka di Kampus Fakultas Kedokteran Uncen. Dalam pertemuan itu, pejabat Dinas Kesehatan berjanji akan membantu biaya pendidikan 21 mahasiswa jalur mandiri tersebut.
Namun, hingga pertengahan Agustus, bantuan yang dijanjikan tak juga kunjung cair.
“Kami sudah menunggu dengan sabar, bahkan mencoba berkomunikasi dengan pihak dinas. Tapi jawabannya selalu sama: SK pencairan belum ditandatangani Bupati,” ujar salah satu mahasiswa kepada media, Kamis (14/8/2025).
Bahkan, menurut mahasiswa, ada ancaman dari oknum staf dinas bahwa bantuan bisa dihentikan bila mereka terus menanyakan perkembangan proses pencairan dana.
Pelayanan Publik yang Dipertanyakan
Kondisi ini memunculkan kekecewaan mendalam. Para mahasiswa menilai pelayanan Dinas Kesehatan Jayawijaya sangat buruk dan tidak transparan. Mereka menduga ada sesuatu yang disembunyikan terkait bantuan pendidikan ini.
“Kami anak-anak asli Jayawijaya, kami hanya ingin diperlakukan adil. Setelah jadi dokter nanti, kami akan kembali melayani masyarakat di kampung-kampung. Tapi kenapa proses bantuan ini diperlambat?” ungkap mahasiswa lainnya dengan nada kesal.
Mereka khawatir citra pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati saat ini akan tercoreng bila janji yang disampaikan di awal masa jabatan hanya berhenti di ucapan.
Harapan ke Bupati dan Wakil Bupati
Melalui surat terbuka yang diterima media, para mahasiswa meminta Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya turun tangan langsung agar Dinas Kesehatan segera merealisasikan bantuan tersebut.
“Jangan sampai janji manis saat kampanye atau program 100 Hari Kerja hanya menjadi retorika. Ini menyangkut masa depan tenaga kesehatan di Jayawijaya,” tulis mereka dalam surat terbuka itu.
Latar Belakang: Janji 100 Hari Kerja
Dalam program 100 Hari Kerja, Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya sempat menyampaikan komitmen untuk meningkatkan kualitas SDM, termasuk mendorong anak-anak asli daerah menempuh pendidikan di bidang kesehatan.
Namun, kondisi yang dihadapi 21 mahasiswa kedokteran Uncen ini justru berbanding terbalik dengan semangat awal program tersebut.
Desakan Publik
Pengamat pendidikan dan kesehatan di Papua menilai, pemerintah daerah harus segera mengambil langkah tegas. Keterlambatan pencairan dana beasiswa bisa mengancam masa studi mahasiswa, bahkan berpotensi mengurangi jumlah tenaga medis di Jayawijaya di masa depan.
“Jangan sampai karena birokrasi yang berbelit, masa depan dokter-dokter muda ini dikorbankan. Pemerintah harus bergerak cepat,” ujar seorang pemerhati pendidikan di Wamena.
Tuntutan Mahasiswa
- Para mahasiswa menegaskan mereka hanya meminta keadilan dan kejelasan. Mereka mendesak agar:
- Bantuan pendidikan segera dicairkan tanpa syarat yang berbelit.
- Dinas Kesehatan bersikap transparan dalam pengelolaan anggaran beasiswa.
- Bupati dan Wakil Bupati mengawasi langsung realisasi janji yang telah disampaikan.
“Ini bukan sekadar soal bantuan. Ini tentang masa depan pelayanan kesehatan di Jayawijaya,” pungkas mahasiswa tersebut.(*)
Holandia, 14 Agustus 2025
