TIEYOM, NIRMEKE.COM — Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua (PGBP), Stevanus Yan Wenda, menyerukan seluruh umat Baptis di Tanah Papua untuk mengakhiri perpecahan dan kembali bersatu dalam pelayanan serta pemberitaan Injil.
Seruan itu disampaikan dalam ibadah perayaan 70 tahun Yubelium Injil Masuk di Baliem Barat, yang berlangsung di Aula Norman Draiper, Tieyom, Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan, Rabu (28/10/2026). Perayaan tersebut mengusung tema “70 Tahun dalam Anugerah Tuhan, Kembali Memberitakan Injil.”
Dalam sambutannya, Yan Wenda mengatakan momentum Yubelium harus menjadi kesempatan bagi gereja-gereja Baptis untuk meninggalkan perpecahan dan memperkuat persatuan.
“Gereja-gereja telah berdoa. Ke depan, Baptis Papua tetap bersatu. Tahun 2027 saya siap turun untuk melakukan kongres. Karena itu, umat Baptis dukung dalam doa,” kata Yan Wenda.
Ia menegaskan, tidak boleh lagi ada dualisme kepemimpinan antara PGBP dan Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua (PGBWP). Menurutnya, umat Baptis perlu membangun satu kesatuan untuk mengawal pelayanan gereja sekaligus mendukung perkembangan generasi muda Papua.
“Tidak ada lagi PGBP atau PGBWP, tetapi satu Baptis Papua bersatu mengawal generasi muda menuju Papua baru. Orang tua jangan menghalangi pergerakan generasi muda. Jangan karena kepentingan tertentu lalu menghambat anak-anak muda. Biarkan mereka berkembang,” tegasnya.
Selain persatuan gereja, Yan Wenda mengajak umat Baptis menghentikan pertikaian, perang suku, serta kebiasaan membawa panah dan parang dalam konflik.
Ia meminta umat menjadikan pemberitaan Injil sebagai fokus utama pelayanan, bukan terlibat dalam kekerasan yang dapat merusak kehidupan masyarakat Papua.
“Baptis harus menjadi satu dan memberitakan Injil dari Papua keluar. Berhenti berkelahi, berhenti perang suku. Mulai hari ini, orang Baptis berhenti memegang parang dan panah. Kita perlu melihat situasi Papua hari ini,” ujarnya.
Ia juga menegaskan tidak ingin persatuan hanya menjadi seruan di atas mimbar, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan kerja bersama antargereja.
Dalam kesempatan itu, Yan Wenda mengajak umat bersyukur atas kedatangan para misionaris yang membawa Injil ke wilayah Baliem Barat. Ia mengingatkan bahwa pelayanan para misionaris dilakukan dengan pengorbanan dan semangat kemanusiaan.
“Karena ABMS datang sebagai kemanusiaan dan mempertaruhkan nyawa mereka untuk datang ke Papua. Tadi ada kesaksian Pak David, ketika mereka masih kecil, mereka menyisihkan uang jajan karena mendengar ada penginjilan di Papua, padahal uang itu untuk membeli permen,” tuturnya.
Menurut Yan Wenda, kisah tersebut menjadi pengingat bagi umat Baptis untuk menghargai perjuangan para misionaris dengan melanjutkan pekerjaan Tuhan melalui pelayanan yang bersatu.
Ia berharap perayaan 70 tahun Yubelium tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum pembaruan komitmen gereja untuk memberitakan Injil, menjaga perdamaian, serta memberi ruang bagi generasi muda untuk bertumbuh dan mengambil bagian dalam pelayanan di Tanah Papua.(*)
Pewarta: Yance Wenda

