Intan Jaya, nirmeke.com — Forum Rakyat Bergerak dan Bersuara menggelar aksi di Kabupaten Intan Jaya untuk mendesak pemerintah Indonesia segera mengusut tuntas kasus dugaan pembunuhan terhadap 15 orang dalam peristiwa yang disebut sebagai “Soanggama Berdarah”, 15 Oktober 2025 lalu.
Koordinator Lapangan Umum, Sandrak Bagau, menyebut aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan rakyat terhadap maraknya kekerasan dan pembunuhan di luar hukum di wilayah Intan Jaya. Ia menilai, operasi militer yang berlangsung telah menciptakan ketakutan dan mengorbankan masa depan anak-anak di daerah konflik.
“Rakyat sudah resah. Konflik berkepanjangan ini membunuh masa depan anak-anak sekolah dan menghancurkan ruang hidup masyarakat suku Moni–Migani di Intan Jaya,” ujar Bagau.
Wakil Koordinator Lapangan, Aprianus Sondegau, menambahkan bahwa rakyat dan keluarga korban menuntut pemerintahan Prabowo–Gibran untuk bertanggung jawab atas pembunuhan 15 orang tersebut. Ia menyebut peristiwa Soanggama Berdarah sebagai tragedi kemanusiaan yang harus diusut secara independen.
“Kami menetapkan 15 Oktober sebagai Hari Soanggama Berdarah, untuk mengenang para korban. Ini pelanggaran HAM serius yang terus diabaikan tanpa penyelesaian,” ujar Sondegau.
Dalam pernyataan sikapnya, Forum Rakyat Bergerak dan Bersuara menyampaikan sepuluh tuntutan utama, di antaranya:
- Mengusut tuntas kasus Soanggama Berdarah;
- Menarik pasukan non-organik dari Intan Jaya dan wilayah Papua lainnya;
- Melakukan investigasi independen atas tragedi tersebut;
- Menghentikan praktik militerisasi untuk kepentingan korporasi;
- Mengecam kegagalan Majelis Rakyat Papua (MRP) dalam melindungi masyarakat adat;
- Menolak eksploitasi tambang di wilayah Intan Jaya;
- Menetapkan pembunuhan warga sipil sebagai pelanggaran HAM berat dan menuntut pelaku diadili;
- Menetapkan 15 Oktober sebagai hari peringatan Soanggama Berdarah;
- Menarik seluruh pos militer dari wilayah Intan Jaya;
- Meminta agar militer Indonesia dan TPNPB menghormati prinsip-prinsip kemanusiaan dan tidak melibatkan warga sipil dalam konflik bersenjata.
Forum tersebut juga menyampaikan kronologi dugaan operasi militer di Kampung Soanggama, Distrik Hitadipa, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Berdasarkan keterangan sejumlah warga, aparat keamanan diduga melakukan penyisiran dan penembakan terhadap warga yang dicurigai sebagai anggota TPNPB.
Peristiwa itu dilaporkan menewaskan 15 orang, termasuk warga sipil dan satu ibu hamil yang diduga meninggal saat melarikan diri akibat panik. Hingga kini, sebagian korban belum dapat dievakuasi karena warga masih trauma dan situasi keamanan belum kondusif.
Forum Rakyat Bergerak dan Bersuara menyerukan agar negara segera mengambil langkah hukum dan kemanusiaan yang konkret untuk mengakhiri kekerasan di Intan Jaya dan memulihkan kehidupan masyarakat sipil yang terdampak.(*)
