Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Politik Owasi-owasika
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Artikel > Politik Owasi-owasika
ArtikelPariwisata

Politik Owasi-owasika

admin
Last updated: May 11, 2024 03:45
By
admin
Byadmin
Follow:
1.2k Views
2 years ago
Share
Rumput Owasi-owasika di Wamena mekar pada bulan Mei - Dok
SHARE

Oleh: Soleman Itlay

Iklan Nirmeke

Pada 1881, Inggris masuk di Afrika dan mulai merubah nama-nama dari segala sesuatu yang ada disitu. Mulai dari rumput, telaga, kali, danau, teluk, bukit, pegunungan dan lainnya.

Pada tahun 1787, sekitar 750 orang dari Inggris mulai masuk di Australia. Tidak lama kemudian datang lagi gelombang berikutnya. Begitu terus hingga mereka semakin banyak.

Setelah berkuasa, mereka menekan ruang gerak orang Aborigin. Orang pribumi setempat tidak berdaya dan semakin termarjinalkan. Pihak yang berkuasa, hingga saat ini mengubah identitas dari segala sesuatu yang ada.

Pada 1853, Kaledonia Baru dianeksasi oleh Prancis. Sejak Prancis berkuasa di negara itu, ia mengubah segala identitas dan entitas, yang menjadi simbol dari orang pribumi. Hingga saat ini banyak tumbuhan, tempat dan lainnya kehilangan roh, jiwa, filosofi, arti dan maknanya.

Sejak 1996, Belanda mulai memasuki wilayah Indonesia (Ambon-Sabang). Kemudian menyusul ke Papua yang berada di bagian timur Indonesia pada abad ke-19. Sejak dia berkuasa, banyak mengubah identitas yang ada dan dibangun oleh para leluhur, orang tua dan generasi penerus masa lalu.

Di Papua, Belanda mengubah sejumlah nama pegunungan, kali, sungai danau lainnya. Misalnya, pegunungan Bogenville di batas Skouw-Yambe, pegunungan Dafonsoro, Pegunungan Wilhelmina dan lainnya.

Setelah Indonesia menganeksasi Papua pada 1 Mei 1963, dan PEPERA 96 yang didahului dengan operasi militer yang menjijikkan dan paling banyak memakan korban, yakni “Operasi Militer Trikora,” ia mulai mengubah nama telaga, kali, sungai, bukit, gunung, jembatan, bandara, jalan darat, kompleks dan lainnya.

Misalnya, dari pegunungan Hiriakup diberi nama Trikora; Irimuliak disebut Jayawijaya; Wilhelmina yang diberikan nama oleh Beranda di Pegunungan Bintang, kemudian Indonesia ganti dengan pegunungan Mandala dll.

Baca Juga:  Sa Pu Kaka Adalah Sa Pu Guru

Dalam kota banyak kasus. Sebuah tempat yang memiliki nama berdasarkan peristiwa, filosofi, makna dan arti sejak ribuan tahun masa lalu, dimusnahkan dengan cara menggantikan nama dan identitasnya.

Pendekatan macam ini, diantaranya dapat kita lihat dari [misalnya] jalan Irian, Soekarno, Soeharto, Ahmad Yani, Sudirman, Syarir, Sulawesi, Sumatera, Maluku, Ambon, Ternate dan lainnya.

Pertanyaannya: apakah orang-orang ini memiliki hubungan dengan leluhur dan nenek moyang orang Papua? Apakah orang-orang ini pernah menumpahkan darah untuk mencapai sebuah hakekat kedamaian?

Apa relevansi nama-nama kota, pulau dan lainnya dari luar Papua, Indonesia wilayah lain ditanam dan diabadikan di Tanah Papua, termasuk di Lembah Hugulama?

***
Bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia merupakan ancaman terhadap seluruh entitas segala satwa yang hidup di Tanah. Bahasa baru pada daerah koloni merupakan jalan transformasi [depopulasi] ilmu pengetahuan, termasuk terhadap identitas serta tatanan hidup masyarakat adat komunal.

Depopulasi bukan semata-mata terhadap keberadaan entitas penduduk lokal, melainkan juga terhadap identitas pada segala sesuatu yang terdapat pada sebuah tempat yang relatif mengalami degradasi moral, sistem dan tatanan hidup, bahasa, kebudayaan dll.

Sebutan Owasi-owasika menggunakan bahasa asing ini juga menjadi jalan masuk depopulasi pada ilmu pengetahuan yang pernah dikonstruksikan Tuhan melalui berkat kehadiran para leluhur dan nenek moyang masyarakat adat setempat.

Sekaligus membuka jalan alienasi baru dari eksistensi hidup yang sesungguhnya menuju pada penghilangan identitas Owasi-owasika.

Manusia yang terlibat di dalam proses perubahan tersebut menjadi subjek bermata dua. Pada satu sisi menjadi sarana yang paling penting untuk membunuh entitas rumput ini secara sistematis atas nama apapun. Tetapi juga di lain sisi, membangun entitas transformasi dengan dalil tertentu.

Baca Juga:  Apa kesanmu pada owasi-owasika yang akan gugur bulan Juni besok?

Kita adalah kawan sekaligus lawan untuk segala sesuatu. Kadang bisa bersahabat dengan alam, bahkan dengan alam sekitar, tetapi kadang bisa menjadi musuh dari segala sesuatu.

Kita semakin bersahabat ketika mampu membuka diri, berdialog dan saling menghargai, mengakui dan menghormati satu sama lain. Bukan hanya pada manusia, tetapi juga pada hewan, dan binatang serta rumput dan pepohonan sekaligus.

Sekarang tergantung dari kita: apakah kita ingin menjadi musuh terhadap entitas dan identitas hidup kita? Atau menjadi kawan pada segala sesuatu yang ada dengan cara sederhananya adalah saling merawat identitas yang ada menurut apa yang Tuhan kehendaki melalui peran para orang tua kita pada masa lalu?

Kadang orang bisa meminjam tangan kita untuk membunuh diri kita [identitas]. Jika membunuh kemanusiaan adalah jalan terakhir, maka mengubah identitas pada Owasi-owasika menjadi salah satu jalan awal menuju pemusnahan.

Saya lebih suka seorang pribumi India datang ke honai adat saya dengan bahasa, budaya dan identitasnya, ketimbang datang meminjam identitas dari seorang Yahudi yang baru datang pula.

Adalah sebuah metonimia kota amoralis yang cukup menjijikkan. Bagaimana tidak, sebab bahasa kolonisasi adalah alat alienasi yang paling lunak untuk mengupas entitas hidup. Setelah membuka kebun, selanjutnya membangun entitas baru guna menghilangkan yang asli, yang telah ada dan seterusnya.

Semoga pada momen kebangkitan Yesus ini kita bangun dari tidur panjang. Bangunkan kesadaran yang tengah dilahap arus modernisme yang sarat dengan kolonisasi. Bangkit. Bangkitkan jiwa dekolonisasi dalam realitas penghisapan yang panjang ini.

Noth!
PN|Kamis, 9 Mei 2024

Related

You Might Also Like

Kaya Potensi Perikanan Dan Pariwisata, Distrik Depapre Harus Jadi Perhatian Serius Pemerintah

Sistem Noken dan Konflik Pemilu di Papua: Antara Kearifan Lokal dan Ancaman Demokrasi

Mayat Turis Jepang di Biak Berdarah

Pesona Wisata “Kali Kaca” Ayamaru Cocok Bagi Traveler

Musim Owasi-owasika Sudah Dekat, Siap-siap Ajak Pasanganmu Berkunjung ke Wamena

TAGGED:Hilangnya Identitas Orang PapuaOwasiwasikaWisata Wamena

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Ini Sikap KNPB Pusat Terkait Rencana Pemindahan Makan Alm Theys Eluay di Sentani
Next Article Pasifik Selatan: Kelemahan, Peluang dan Tantangan ke Depan
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Pemprov Papua Pegunungan Ajak Warga Lanny Jaya Kembali ke Kebun, Siapkan Skema Serap Hasil Petani
Ekonomi & Bisnis Papua Pegunungan Tanah Papua
2 days ago
Keluarga Korban Bersama 9 Kepala Distrik Dan 2  DPRK Laporkan Kasus Penembakan Yemis Yohame ke Polres Yahukimo
Polhukam Tanah Papua
2 days ago
Korban Terus Berjatuhan, DPD RI Kritik Ketiadaan Arah Penyelesaian Konflik Papua
Nasional Polhukam Tanah Papua
2 days ago
Pemprov Papua Pegunungan Salurkan Bantuan Rp100 Juta untuk Pembangunan Kantor Jemaat Gereja Baptis Kondena
Papua Pegunungan Tanah Papua
2 days ago
Baca juga
ArtikelPariwisata

Taman wisata owasi-owasika di dalam kota Wamena

5 years ago
Artikel

Pembangunan Lanny Jaya Dari Kampung ke Kota

1 year ago
Pariwisata

Wisata Sejarah Mumi di Aikima

3 years ago
Ekonomi & BisnisPariwisata

Dari Tanah Kering Menjadi Kampung Harapan: Cerita Kampung Wisata Aitok di Pegunungan Jayawijaya

3 months ago
Artikel

Memaknai Tujuan Otsus Papua di Usia 80 Tahun RI

8 months ago
Artikel

Sang Sejarawan Gereja Katolik Dan Martir Bagi Generasi Manusia Papua

2 years ago
ArtikelEditorial

5 Jenis Mata Pencaharian Hidup Suku Hugula di Papua (Bagian 2)

2 years ago
Artikel

Perjalanan Wisisi Asep Nayak

5 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?