Jayapura, Nirmeke.com – Para pemuda di Kampung Siepkosi, Distrik Siepkosi, Kabupaten Jayawijaya, berinisiatif menggelar pemutaran film dokumenter bertema Hak Tanah Adat pada Kamis malam (3/10/2025). Acara yang berlangsung sejak pukul 18.30 hingga 23.00 WIT itu dihadiri puluhan pemuda dan masyarakat setempat.
Pemutaran film ini dilanjutkan dengan diskusi singkat yang memberi ruang bagi warga untuk menyampaikan pandangan mereka mengenai isu perampasan tanah adat yang kian marak di Papua Pegunungan.
Terianus Siep, pemuda penggagas kegiatan ini, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut lahir dari keprihatinan terhadap masuknya berbagai investasi di Wamena dan distrik-distrik sekitarnya yang berpotensi mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat.
“Saya melihat situasi sekarang, banyak investasi masuk di berbagai distrik. Itu ancaman serius bagi masyarakat. Karena itu, saya memilih memutar film dokumenter agar masyarakat bisa lebih mudah memahami persoalan ini, tanpa harus selalu melalui seminar atau diskusi formal,” ujar Terianus kepada Nirmeke.com, Kamis (2/10/2025) dini hari.
Ia menegaskan pesan utama dari kegiatan ini adalah agar masyarakat tidak menjual tanah adat.
“Tanah adalah mama kita, sumber kehidupan sejak dulu hingga sekarang. Kalau kita menjual tanah, maka anak cucu kita nanti akan kehilangan masa depannya. Karena itu kita harus menjaga dan merawat tanah demi generasi mendatang,” tambahnya.
Terianus berharap langkah kecil ini dapat menginspirasi pemuda lain di Jayawijaya untuk bergerak bersama menjaga hak-hak masyarakat adat.
“Persoalan perampasan tanah adalah masalah mendesak. Saya berharap para pemuda dan intelektual di setiap distrik bisa melakukan hal yang sama: memutar film, berdiskusi, dan mengingatkan masyarakat bahwa tanah adalah sumber kehidupan yang tidak boleh dijual,” tutupnya.(*)
Pewarta: Agus Wilil
