Wamena, nirmeke.com – Masyarakat dan Pemuda Jayawijaya minta Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan kembalikan nama Owasi-owasikan yang disebut juga Rumput Mei ke nama asli setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap orang Hubula yang ada di Huhulama.
Yefta Lengka, Pemuda asal Wamena menjelaskan di Wamena Papua Pegunungan ada salah satu jenis rumput yang bunganya selalu mekar di bulan Mei. Beberapa orang pendatang menyebutnya sebagai rumput Mei dalam ketidaktahuannya.
“Sebenarnya Mei bukan nama rumput. Melainkan Mei adalah nama bulan ke Lima dalam setiap tahun. Rumput yang dimaksud adalah Owasiwasika (Bahasa Hubula) atau Obwari-bwaringga (Bahasa Lanny),” menjelaskannya.
Lanjutnya, Bulan Mei tahun 2024 Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan berencana melakukan Iven pertandingan bola basket dalam rangka Festival Rumput Mei. Berhubung kegiatan ini, ada beberapa hal Perlu diperhatikan oleh Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan. Diantaranya pertama nama rumput yang rencana dibuat sebagai Iven harus dikembalikan nama aslinya yaitu Owasiwasika dalam bahasa Hubula. Bukan rumput Mei.
“Kedua; mendeklarasikan hasil pengembalian nama asli, yaitu Owasiwasika dan Iven tersebut akan dilakukan pada bulan Mei. Dan ketiga; Owasiwasika harus dijadikan sebagai komoditas wisata bagi para pengunjung setiap tahun dan perlu perhatian Pemerintah terhadap warga yang ingin melakukan pemeliharaan dan membudidayakan hal tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Soleman Itlay Pemuda Hubula asal kampung Yogonima mengatakan orang yang mereduksi identitas segala yang ada dengan bahasa tempat bukan lain, adalah penjahat terhadap segala satwa yang ada (alam semesta).
“Dia juga merupakan penjahat sekaligus musuh terhadap sejarah, filosofi, dan nilai hidup segala sesuatu yang ada. Lebih baik dia tidak dilahirkan. Lebih baik pula dia tidak disebut terpelajar. Dia tidak lain dari seorang kolonial, penjajah dan pembunuh,” tegas Itlay menanggapi pencaplokan nama Owasiwasika menjadi Rumput Mei dalam iven Festival Rumput Mei di Wemena.
Menurutnya, orang yang mengagas konsep iven dengan nama Festival Rumput Mei bukan Owasiwasika (harusnya) ini punya mentalitas pencaplokan nama atas nama iven untuk mencari perhatian, dan keuntungan merupakan suatu tindakan tak terpuji.
“Bagaimana orang lain mengakui kita sebagai manusia dan bangsa, sedangkan kita sendiri saja tidak mampu saling mengakui satu sama lain, termasuk dalam perkara-perkara kecil?
Ia berharap Pemprov Papua Pegunungan dan Penyelenggara serta pihak-pihak yang terlibat dalam iven tersebut dapat mempertimbangkan nama kegiatan yang elok, semata-mata demi mengangkat dan menghormati orang Huwula yang mendiami tanah Huwulama. (*)
