Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Menjual sayur dari kebun sendiri
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Jendela Papua > Features & Sosok Inspiratif > Menjual sayur dari kebun sendiri
Features & Sosok Inspiratif

Menjual sayur dari kebun sendiri

admin
Last updated: September 21, 2026 17:41
By
admin
Byadmin
Follow:
454 Views
9 years ago
Share
SHARE

Jayapura, nirmeke.com – Pada pukul 5 pagi ia sudah bangun dari tempat tidurnya dan bergegas keluar rumah membawa karung sak ukuran besar ke halaman rumahnya.

Iklan Nirmeke

Di halaman depan dan samping rumahnya terdapat beberapa bedeng kebun sayur daun petatas dan kangkung potong yang ditanamnya tiap sebulan sekali seusai panen.

Ia adalah Mama Ani Haluk, 47 tahun, pedagang sayur daun petatas di Pasar Youtefa, Abepura.

Kesehariannya mencangkul tanah, membersihkan bedeng, dan memanen hasil kebun kemudian dibawa ke pasar untuk dijual, baik pagi maupun sore hari.

Dua bedeng kebun sayur daun petatas di halaman rumahnya dan tiga bedeng kebun daun petatas di pingir halaman rumah, serta satu bedeng sayur kangkung menjadi mata pencahariannya selama empat tahun lebih bersama suaminya.

“Setiap pagi saya membawa jualan ke Pasar Youtefa, biasanya daun sayur petatas, kangkung, dan bayam merah atau bayam biasa,” ujar Ani.

Jubi menemuinya di rumahnya. Ia sedang membersihkan sayur daun petatas dan kangkung yang baru dipanennya sore dan dibersihkan di kolam kangkung, Minggu, 4 Maret 2018.

Ani menanam sayur daun petatas dan kangkung di kebun miliknya. Sedangkan sayur bayam biasa, bayam merah, dan kangkung cabut biasanya diberikan petani sayur dari Bugis dan Buton yang berkebun di pinggir rumahnya. Mereka lebih banyak memiliki bedeng daripada dirinya, karena bedeng yang mereka olah disewakan oleh pemilik tanahnya dengan bayaran per bedeng tiap bulan.

Baca Juga:  Baju rajutan khas Papua di Elisabet Salon Jayapura

“Kadang sayur kangkung cabut dan bayam dari sisa panen yang ditinggalkan di bedeng kebun, saya diizinkan untuk ambil oleh mereka, mungkin saya berteman baik dengan mereka jadi mas-mas itu kasih saya,” ujar Ani sambil tersenyum.

Perempuan dua anak ini menjual hasil panennya hanya ke Pasar Youtefa. Selain itu terkadang juga ada langganan atau acara besar seperti bakar batu, pembeli langsung membeli per bedeng, terutama sayur daun petatas.

Harga sayur per ikat Rp10 ribu untuk sayur daun petatas. Sedangkan harga bayam dan kangkung Rp5 ribu per ikat.
Untuk harga per bedeng bisa Rp500 ribu hingga Rp2 juta, tergantung ukuran bedeng. Biasanya dalam sehari hasil penjualan Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung banyaknya pembeli dan seberapa banyak pedagang sayur lainnya berjualan dekatnya.

Dengan penghasilan seperti itu, Ani mengaku bisa membiayai dan mencukupi kebutuhan rumah tangganya sehari-hari.

“Kalau kesulitan berkebun hanya membersihkan rumput kecil di sekitar tanaman sayur, beri pupuk tiap pagi dan sore seminggu sekali, itupun kalau hama sayur atau ulat mulai makan tanaman dan kemudahanya tidak harus menunggu waktu lama untuk panen hasil kebun,” ujarnya.

Kata Ani, keahlian berkebun sudah menjadi budaya orang Hubula, Wamena sejak nenek moyang sehingga sulit terlepas dari kehidupan sehari-hari.
Jika kebun sayurnya belum musim panen, ia mengisinya dengan menjadi pedagang jual beli di Pasar Youtefa. Mama Ani sering membeli pinang dan sayur dari pedagang yang turun membawa jualan dari Koya, Arso, Keerom, dan perbatasan PNG (Mosso).

Baca Juga:  Dua Pilot Muda Papua Ramaikan Dunia Penerbangan Nasional

Natalia Tabuni, 24 tahun, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Jayapura ketika ditemui Jubi saat berbelanja di Pasar Youtefa Sabtu, 3 Maret 2018 mengatakan, ia tertarik berbelanja hasil kebun mama-mama Papua karena menurutnya lebih aman dikonsumsi.

“Mau bilang mahal juga tidak karena mereka jual dari hasil kebun mereka, jadi pantas dihargai seperti harga yang mereka sepakati, biasanya Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per ikat sayur, baik daun petatas, kangkung, maupun bayam,” ujarnya.

Kata Lia, untuk keunggulan dari hasil kebun mama-mama Papua lebih aman, karena beredar isu bahwa ada oknum-oknum tertentu penjual yang menjual sayur dicampur bahan-bahan berbahaya untuk kesehatan.

“Jadi kami lebih memilih hasil kebun mama-mama kami yang berjualan di pasar,” katanya.

Meski terkadang mereka juga sering seenaknya menaikkan harga jualan mereka sendiri, tapi bukan masalah buat Lia.

“Agar hasil kebun bisa berkembang, Mama-mama Papua harus pandai mengatur waktu, mencuri hati pelanggan dan selalu utamakan kualitas serta kebersihan dari hasil kebun mereka dan punya pelangan sendiri,” katanya.

Menurut Lia, hasil kebun mama-mama Papua biasanya ada yang dijual kembali. Ada juga diolah menjadi keripik seperti singkong, ubi (petatas), pisang, dan lainnya. (*)

Reporter  : Agus Pabika

Editor     : Apwakha

 

Related

You Might Also Like

Baju rajutan khas Papua di Elisabet Salon Jayapura

Minumnya usaha Bengkel otomotif permanen milik OAP

Kisah Mariana Ibo Pulanda, Pengrajin Batik Asal Papua

Antropologi Uncen, Kisah di Usia 40 Tahun

Jimmy Weyato, guru perintis di Korowai Batu

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Kehadiran Media Jubi akan membantu masyarakat asli
Next Article Air mata haru mama-mama Papua di pasar baru
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

KPA Lanny Jaya Edukasi Mahasiswa Mapogadi, Dorong Kesadaran dan Kepedulian terhadap HIV/AIDS
Kesehatan
5 hours ago
Operasi Militer Meluas di Tolikara, Warga Sekitar Gereja Moria Diduga Ditangkap
Polhukam Tanah Papua
5 hours ago
KONI Lanny Jaya Dukung Pemuda Baptis Cup 2026, Serahkan Kostum dan Bola
Olaraga Papua Pegunungan Papua Tengah
9 hours ago
DPRK Otsus Belum Dilantik, Yos Elopere: Jangan Tuding DPR, SK dan Anggaran Belum Ada
Papua Pegunungan
12 hours ago
Baca juga
Features & Sosok Inspiratif

Alex Tiris, Tukang Parkir yang Sukses Antar Anaknya Jadi Perwira AL

7 years ago
ArtikelEkonomi & BisnisFeatures & Sosok Inspiratif

Dinan Adii, Mekanik Otodidak Asal Meepago

5 years ago
Features & Sosok Inspiratif

Mengangkat potensi lokal Kopi Aluama Hubulama

7 years ago
Features & Sosok Inspiratif

Dua Pilot Muda Papua Ramaikan Dunia Penerbangan Nasional

9 years ago
Ekonomi & BisnisFeatures & Sosok Inspiratif

Noken buah tangan Mama; yang dibanggakan, yang dilarang

8 years ago
Features & Sosok Inspiratif

Kopi ‘Aluama Hubulama’ dari Lokal menuju mancanegara

7 years ago
Features & Sosok InspiratifKesehatan

Menahan serangan malaria dengan kelambu

9 years ago
Catatan Aktivis PapuaFeatures & Sosok Inspiratif

Mungguar, Pejuang Kharismatik nan Pemberani itu Telah Pergi

6 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?