Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Mencangkul Harapan: Gerakan Manusia Hugula Dalam Menjaga Budaya dan Alam
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Artikel > Mencangkul Harapan: Gerakan Manusia Hugula Dalam Menjaga Budaya dan Alam
Artikel

Mencangkul Harapan: Gerakan Manusia Hugula Dalam Menjaga Budaya dan Alam

Agus Wilil
Last updated: August 27, 2025 03:42
By
Agus Wilil
ByAgus Wilil
Follow:
357 Views
10 months ago
Share
Para pemuda sedang mengarap kebun di wilayah hugulama - Dok Pribadi
SHARE

Oleh: Agus A. Wilil

Iklan Nirmeke

 Di tengah derasnya arus modernisasi, sekelompok pemuda Papua Pegunungan menunjukkan jalan berbeda. Mereka adalah mahasiswa dan intelektual muda yang, alih-alih mengejar kenyamanan hidup kota setelah menyelesaikan studi, justru kembali ke desa, ke ladang, ke akar budayanya—bersama rakyat biasa.

Salah satu contohnya adalah Darnol Hubi, mahasiswa Teknik Geologi Universitas Cenderawasih angkatan 2019. Bersama Apner Holago, alumni perguruan tinggi di Ambon, dan Agus Hubi, pemuda desa, mereka secara kolektif terlibat dalam kerja fisik, mencangkul tanah, membuka lahan ladang di Dusun Sikhewulik, Kampung Elabukama, Distrik Musatfak, Kabupaten Jayawijaya. Bagi mereka, mencangkul tanah bukan sekadar kegiatan ekonomi, tapi bentuk perlawanan sunyi untuk mempertahankan warisan budaya dan kelangsungan hidup masyarakat adat.

Menjaga Kehidupan, Merawat Warisan

Ladang yang mereka garap bukan sekadar hamparan tanah subur, tetapi juga ruang hidup, tempat bertemunya pengetahuan leluhur dan semangat generasi baru. Perkebunan dan pertanian telah menjadi sumber kehidupan masyarakat suku Hubula sejak zaman dahulu—dan akan terus demikian jika generasi muda mengambil peran di dalamnya.

Agus Hubi, salah satu tokoh pemuda desa, tetap aktif melestarikan seni dan budaya lokal, sambil bertani dan menjaga ketahanan pangan berbasis hasil bumi. Di ladangnya, ia membuktikan bahwa pengetahuan akademik bisa hidup berdampingan dengan kearifan lokal. Bahwa kemajuan tidak harus menanggalkan akar, dan kesejahteraan bisa dibangun dari kebun sendiri, bukan dari kantor megah di kota.

Baca Juga:  Film “The Women King” Kisah Nyata Dalam Perjuangan Perempuan Afrika

“Belas kasih tak akan mati. Akar akan selalu kembali tumbuh,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan

Mahasiswa dan kaum intelektual sesungguhnya bukan hanya pemburu ijazah. Mereka adalah agen perubahan (agent of change) sekaligus penyambung lidah rakyat (mouthpiece of the people). Dengan kapasitas intelektual yang dimiliki, mereka seharusnya mampu menganalisis situasi sosial, ekonomi, politik, dan budaya, lalu menyuarakan kepentingan publik serta menjadi bagian dari solusi.

Namun realitasnya, tak sedikit yang tercerabut dari masyarakat setelah menyandang gelar sarjana. Di sinilah pentingnya kembali ke rakyat, menjadikan ilmu sebagai alat pemberdayaan, bukan sekadar untuk mengejar status sosial.

Pelestarian Seni dan Budaya: Pilar Ketahanan Komunitas

Kembali ke kampung bukan langkah mundur, tapi justru bentuk keberanian. Sebab dari sanalah gerakan pelestarian budaya bisa dimulai. Dalam konteks masyarakat suku Hubula, seni, budaya, pertanian, dan kehidupan spiritual tidak bisa dipisahkan. Semua saling menopang dan membentuk identitas kolektif yang kuat.

Baca Juga:  IKBD-KLPUW2 Bentuk Generasi Muda Berkualitas Lewat Penerimaan Anggota Baru

Melestarikan tarian, lagu, ritual adat, serta sistem pertanian lokal, adalah bentuk perlawanan terhadap arus homogenisasi global, sekaligus menjaga kestabilan sosial dan ekologis.

Harmoni antara Alam dan Manusia

Kehidupan manusia akan berkelanjutan jika mampu menjaga harmoni dengan alam. Oleh karena itu, generasi muda harus terlibat aktif dalam pelestarian seni, budaya, serta pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) secara bijak. Kolaborasi antara manusia dan lingkungan adalah fondasi masa depan yang tangguh.

Merawat Masa Depan dari Akar

Mahasiswa dan intelektual memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk membangun masyarakatnya. Dengan kembali berpihak kepada rakyat, melestarikan budaya lokal, serta menjaga lingkungan, mereka menjadi jembatan antara tradisi dan kemajuan. Perpaduan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai lokal adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang adil dan berkelanjutan.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa dan kaum intelektual harus lebih dari sekadar pintar di ruang kuliah. Mereka perlu hadir di tengah masyarakat, ikut menanam, ikut mencangkul, ikut menjaga budaya. Sudah saatnya idealisme dan pengetahuan bersatu dalam pengabdian nyata, demi masa depan Papua yang mandiri, bermartabat, dan berkeadilan.(*)

Related

You Might Also Like

Ulasan Film Maria Gadis Ambaidiru

Politik Owasi-owasika

Kewajiban Pemerintah Daerah Mengakui dan Melindungi Masyarakat Adat: Amanat Konstitusi yang Tak Bisa Ditawar

Mengenang 12 Tahun Kepergian Agus Alua (1960-2011)

Norfince Boma, Mutiara Dari Papua

TAGGED:Mahasiswa PapuaMasyarakat Adat Wilayah HugulamaMerawat Warisan Suku Hugula

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Bupati Lanny Jaya Serahkan Bantuan Beras 61 Ton untuk 5 Distrik
Next Article Warga Distrik Kuli Lanny Sampaikan Tiga Aspirasi Pembangunan ke DPR Papua Pegunungan
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Mahasiswa Papua di Makassar Aksi 63 Tahun Aneksasi, Dihadang Aparat dan Ormas di Monumen Mandala
Polhukam Tanah Papua
7 days ago
Komisi C DPRK Jayawijaya Soroti Krisis Layanan Kesehatan, Pendidikan, hingga Masalah Sosial dalam Rekomendasi LKPJ
Papua Pegunungan Tanah Papua
7 days ago
Pegiat Literasi Salurkan Buku Bacaan untuk Pemuda Gereja Baptis Onggeme, Dorong Generasi Muda Cintai Pendidikan
Pendidikan Sastra
1 week ago
Komisi B DPRK Jayawijaya Soroti Sektor Pertanian, Koperasi, dan Pasar dalam Rekomendasi LKPJ 2026
Papua Pegunungan Tanah Papua
1 week ago
Baca juga
ArtikelPariwisata

SEBUT SAJA OWASI-OWASIKA

2 years ago
Artikel

Melihat 7 Buku Karya Markus Haluk Tentang Perjuangan dan Masa Depan Papua

3 years ago
ArtikelPendidikan

Sejarah ODO: Jejak Sekolah Guru Katolik Pertama di Tanah Papua

9 months ago
ArtikelSeni & Budaya

Menguak Simbolisme Kuno Noken dalam Tradisi Pernikahan Adat Lembah Baliem

1 year ago
ArtikelCatatan Aktivis PapuaPerempuan & Anak

“Kami Bukan Sekadar Konten” Perempuan Papua Menggugat Objektifikasi di Media Sosial

10 months ago
Artikel

Kapan Orang Hugula Menetap Dan Menganut Agama Lokal di Wilayah Hugulama?

3 years ago
Artikel

IPM Sarmi: Angka Naik, Rakyat Masih Jalan di Tempat

1 month ago
ArtikelPendidikan

Pulang Kampung Menjalankan Kelas Literasi Demi SDM Lanny Jaya

1 year ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?