Oleh: Agus A. Wilil
Di tengah derasnya arus modernisasi, sekelompok pemuda Papua Pegunungan menunjukkan jalan berbeda. Mereka adalah mahasiswa dan intelektual muda yang, alih-alih mengejar kenyamanan hidup kota setelah menyelesaikan studi, justru kembali ke desa, ke ladang, ke akar budayanya—bersama rakyat biasa.
Salah satu contohnya adalah Darnol Hubi, mahasiswa Teknik Geologi Universitas Cenderawasih angkatan 2019. Bersama Apner Holago, alumni perguruan tinggi di Ambon, dan Agus Hubi, pemuda desa, mereka secara kolektif terlibat dalam kerja fisik, mencangkul tanah, membuka lahan ladang di Dusun Sikhewulik, Kampung Elabukama, Distrik Musatfak, Kabupaten Jayawijaya. Bagi mereka, mencangkul tanah bukan sekadar kegiatan ekonomi, tapi bentuk perlawanan sunyi untuk mempertahankan warisan budaya dan kelangsungan hidup masyarakat adat.
Menjaga Kehidupan, Merawat Warisan
Ladang yang mereka garap bukan sekadar hamparan tanah subur, tetapi juga ruang hidup, tempat bertemunya pengetahuan leluhur dan semangat generasi baru. Perkebunan dan pertanian telah menjadi sumber kehidupan masyarakat suku Hubula sejak zaman dahulu—dan akan terus demikian jika generasi muda mengambil peran di dalamnya.
Agus Hubi, salah satu tokoh pemuda desa, tetap aktif melestarikan seni dan budaya lokal, sambil bertani dan menjaga ketahanan pangan berbasis hasil bumi. Di ladangnya, ia membuktikan bahwa pengetahuan akademik bisa hidup berdampingan dengan kearifan lokal. Bahwa kemajuan tidak harus menanggalkan akar, dan kesejahteraan bisa dibangun dari kebun sendiri, bukan dari kantor megah di kota.
“Belas kasih tak akan mati. Akar akan selalu kembali tumbuh,” ungkapnya dengan penuh semangat.
Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan
Mahasiswa dan kaum intelektual sesungguhnya bukan hanya pemburu ijazah. Mereka adalah agen perubahan (agent of change) sekaligus penyambung lidah rakyat (mouthpiece of the people). Dengan kapasitas intelektual yang dimiliki, mereka seharusnya mampu menganalisis situasi sosial, ekonomi, politik, dan budaya, lalu menyuarakan kepentingan publik serta menjadi bagian dari solusi.
Namun realitasnya, tak sedikit yang tercerabut dari masyarakat setelah menyandang gelar sarjana. Di sinilah pentingnya kembali ke rakyat, menjadikan ilmu sebagai alat pemberdayaan, bukan sekadar untuk mengejar status sosial.
Pelestarian Seni dan Budaya: Pilar Ketahanan Komunitas
Kembali ke kampung bukan langkah mundur, tapi justru bentuk keberanian. Sebab dari sanalah gerakan pelestarian budaya bisa dimulai. Dalam konteks masyarakat suku Hubula, seni, budaya, pertanian, dan kehidupan spiritual tidak bisa dipisahkan. Semua saling menopang dan membentuk identitas kolektif yang kuat.
Melestarikan tarian, lagu, ritual adat, serta sistem pertanian lokal, adalah bentuk perlawanan terhadap arus homogenisasi global, sekaligus menjaga kestabilan sosial dan ekologis.
Harmoni antara Alam dan Manusia
Kehidupan manusia akan berkelanjutan jika mampu menjaga harmoni dengan alam. Oleh karena itu, generasi muda harus terlibat aktif dalam pelestarian seni, budaya, serta pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) secara bijak. Kolaborasi antara manusia dan lingkungan adalah fondasi masa depan yang tangguh.
Merawat Masa Depan dari Akar
Mahasiswa dan intelektual memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk membangun masyarakatnya. Dengan kembali berpihak kepada rakyat, melestarikan budaya lokal, serta menjaga lingkungan, mereka menjadi jembatan antara tradisi dan kemajuan. Perpaduan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai lokal adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang adil dan berkelanjutan.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa dan kaum intelektual harus lebih dari sekadar pintar di ruang kuliah. Mereka perlu hadir di tengah masyarakat, ikut menanam, ikut mencangkul, ikut menjaga budaya. Sudah saatnya idealisme dan pengetahuan bersatu dalam pengabdian nyata, demi masa depan Papua yang mandiri, bermartabat, dan berkeadilan.(*)
