Jayapura, nirmeke.com — Badan Pengurus Sektor Komite Nasional Papua Barat (BPS-KNPB) Ninmin Wilayah Numbay memperingati 25 tahun Tragedi Abepura Berdarah, Minggu (7/12/2025), melalui renungan bersama dan jumpa pers yang digelar di Asrama Ninmin, Jalan Biak, Abepura, Kota Jayapura, Papua.
Peringatan ini dilakukan bersama mahasiswa serta masyarakat asal Nduga sebagai bentuk mengenang para korban kekerasan yang terjadi pada 7 Desember 2000, serta sebagai pengingat bahwa hingga kini kasus tersebut belum diselesaikan secara tuntas oleh negara.
Tragedi Abepura Berdarah merupakan salah satu peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat di Papua, yang ditandai dengan operasi aparat keamanan secara masif terhadap mahasiswa dan warga sipil. Hingga 25 tahun berlalu, keluarga korban masih menunggu keadilan dan pertanggungjawaban hukum negara.
Kronologi Singkat Tragedi Abepura Berdarah
Peristiwa bermula pada 7 Desember 2000 sekitar pukul 01.30 WIT, saat terjadi penyerangan oleh orang tak dikenal terhadap Kapolsek Abepura. Dalam insiden tersebut, Bripka Petrus Eppa tewas, bersama tiga warga sipil. Tidak jauh dari lokasi, sejumlah ruko dibakar, serta seorang satpam di Kantor Dinas Otonom Kotaraja dibunuh.
Sekitar pukul 02.30 WIT, aparat melakukan penyisiran terhadap tiga asrama mahasiswa, yakni: Asrama Ninmin, Asrama Yapen Waropen dan Asrama Mahasiswa Ilaga.
Penyisiran juga dilakukan di pemukiman warga sipil di Abe Pantai, Kotaraja, dan Skyline. Dalam operasi tersebut, Elkius Suhuniap tewas, sementara Jhon Karunggu dan Orry Doronggi meninggal dunia di dalam sel Polres Jayapura akibat penyiksaan. Saat itu, Kapolres Jayapura dijabat AKBP Drs. Daud Sihombing, SH.
Menurut KNPB, jumlah korban dalam tragedi ini mencapai 105 orang, dengan rincian: 2 orang meninggal dalam tahanan akibat penyiksaan, 1 orang ditembak mati, 22 orang ditangkap dan disiksa dan Puluhan lainnya mengalami trauma fisik dan psikologis.
Pernyataan Sikap KNPB dan Keluarga Korban
Dalam pernyataan sikapnya, KNPB menegaskan bahwa tindakan penyiksaan, pembunuhan kilat, penganiayaan, perampasan kemerdekaan, serta penahanan sewenang-wenang terhadap warga sipil merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan termasuk kategori pelanggaran HAM berat.
KNPB juga menilai bahwa selama lebih dari dua dekade, negara gagal menghadirkan kebenaran dan keadilan bagi para korban.
“Tidak satu pun pelanggaran HAM berat di Papua, termasuk Abepura Berdarah, yang diselesaikan secara transparan dan bermartabat,” tegas pernyataan KNPB.
Tuntutan Resmi KNPB
Dalam momentum 25 tahun tragedi ini, KNPB Sektor Ninmin Wilayah Numbay bersama keluarga korban menyatakan sikap sebagai berikut:
- Mendesak Pemerintah RI membuka kembali penyelidikan seluruh kasus pelanggaran HAM di Papua, khususnya Tragedi Abepura Berdarah.
- Menuntut penarikan pasukan militer non-organik dari seluruh wilayah Papua.
- Menegaskan bahwa hingga kini negara gagal menyelesaikan kasus-kasus besar, seperti Wamena Berdarah, Biak Berdarah, Paniai Berdarah, Nduga Berdarah, Yahukimo Berdarah, Intan Jaya Berdarah, dan lainnya.
- Menuntut pertanggungjawaban negara atas korban sipil di Intan Jaya dan wilayah konflik lainnya.
- Mendesak negara menjamin keselamatan, pemulihan, dan perlindungan pengungsi internal di Yahukimo, Nduga, Maybrat, Lanny Jaya, Pegunungan Bintang, dan wilayah terdampak lainnya.
- Menuntut dibukanya akses penuh bagi Komnas HAM, LSM kemanusiaan, dan media nasional maupun internasional.
- Mendesak dibukanya ruang dialog bermartabat dan setara dengan melibatkan rakyat Papua, tokoh adat, gereja, dan keluarga korban.
- Menyatakan bahwa kegagalan negara menyelesaikan pelanggaran HAM membuka ruang bagi tuntutan hak penentuan nasib sendiri secara demokratis dan bermartabat.
KNPB: 7 Desember Adalah Hari Sejarah bagi Orang Nduga
Ketua Umum KNPB Wilayah Numbay Sektor Ninmin, Nason Kelnea, mengatakan bahwa peringatan 7 Desember akan terus dilakukan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan bagi para korban.
“Hari ini kami kembali mengenang dan menyalakan lilin untuk Abepura Berdarah. Setiap tahun kami akan terus melakukan ini, karena 7 Desember adalah hari sejarah bagi kami orang Nduga dan rakyat Papua,” ujarnya.
Peringatan 25 Tahun Tragedi Abepura Berdarah ditutup dengan doa bersama dan penyalaan lilin, sebagai simbol ingatan, duka, serta tuntutan keadilan yang terus hidup di tanah Papua.
Pewarta: Henok Giban
