Dogiyai, nirmeke.com — Kehadiran Mas Yewen, komika nasional, di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, memberi warna baru bagi perkembangan humor, khususnya stand up comedy di kalangan generasi muda Papua. Dalam kunjungan tersebut, Mas Yewen membina dan melatih para humoris muda untuk memahami perbedaan antara tradisi Mop Papua dan format stand up comedy modern.
Selain itu, para peserta juga dibekali teknik menulis naskah, menyusun alur cerita (storyline), hingga mengedit video konten humor untuk media digital.
Hasil dari proses pembinaan tersebut ditampilkan dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Noken Sedunia yang digelar di halaman SMA Negeri 2 Dogiyai, Rabu–Kamis (3–4 Desember 2025). Kegiatan ini terselenggara atas dukungan Bupati Dogiyai Tebai Yudas dan Wakil Bupati Yuliten Anou melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Dogiyai yang dipimpin Karungga Tebai.
Pemerintah daerah juga membuka ruang bagi para humoris wilayah Mepago untuk membentuk wadah organisasi humor pertama yang secara resmi mendapatkan pembinaan pemerintah. Penampilan para humoris pun berhasil menarik perhatian dan antusiasme masyarakat.
Pertunjukan dibagi dalam tiga sesi, yakni penampilan humoris Mepago, kolaborasi humoris Mepago bersama Mas Yewen, serta penampilan tunggal Mas Yewen sebagai penutup.
Dorong Lahirnya Stand Up Indo Nabire
Sebagai tindak lanjut agenda bersama tersebut, disepakati sejumlah rencana pengembangan, antara lain:
- Pembentukan Stand Up Indo Nabire sebagai ruang belajar dan tampil bagi generasi muda pecinta humor.
- Penyelenggaraan pelatihan stand up comedy secara berkelanjutan.
- Mendorong komika muda Papua untuk berkompetisi di tingkat nasional serta tampil di berbagai ajang bersama humoris Mepago.
Koordinator Sastra Papua (Ko’Sapa), Hengky Yeimo, menegaskan bahwa di tengah pesatnya perkembangan media sosial, komunitas kreatif di ruang digital membutuhkan pembinaan yang serius agar menghasilkan karya berkualitas.
“Orang Papua harus berani melangkah lebih maju dalam konteks pemberdayaan manusia di ruang maya. Bukan sekadar mencari gaya, tetapi sebagai bentuk eksistensi dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman,” ujar Hengky.
Sastra Lisan dan Literasi Budaya
Hengky juga menjelaskan bahwa sastra lisan merupakan warisan budaya yang hidup melalui tradisi bertutur, seperti dongeng, mitos, legenda, pantun, syair, lagu rakyat, hingga peribahasa. Sastra lisan menjadi penyimpan nilai moral, sejarah, norma sosial, dan petuah hidup masyarakat.
Dalam konteks modern, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kecakapan mengolah informasi, berpikir kritis, memahami simbol, hingga berkomunikasi melalui berbagai media, termasuk literasi digital dan budaya. Sastra lisan menjadi bagian penting dari literasi budaya tersebut.
Mop Papua dan Stand Up Comedy
Salah satu bentuk sastra lisan Papua yang populer adalah Mop atau Mob, yakni cerita jenaka khas Papua yang menggunakan Bahasa Melayu Papua (BMP). Mop berfungsi sebagai hiburan, sarana kritik sosial, sekaligus perekat komunikasi antarwarga.
Menariknya, Mop memiliki titik temu dengan stand up comedy modern yang sama-sama bertumpu pada kemampuan bertutur, mengamati realitas sosial, dan kreativitas dalam mengolah bahasa. Bedanya, Mop lahir dari tradisi lokal, sementara stand up comedy berkembang melalui format panggung modern yang lebih sistematis.
Kini, Mop tidak hanya menjadi nostalgia budaya, tetapi juga sumber kreativitas yang diangkat ke panggung-panggung modern. Banyak komika Papua mulai memadukan Mop dengan stand up comedy sebagai cara memperkenalkan kekhasan humor Papua ke tingkat nasional.
Persilangan Tradisi dan Modernitas
Sastra lisan, literasi, Mop, dan stand up comedy membentuk satu ekosistem kebudayaan yang saling menguatkan. Di Papua, persilangan antara tradisi dan modernitas ini menunjukkan bahwa budaya lokal tidak tertinggal oleh zaman, melainkan mampu bertransformasi menjadi kekuatan kreatif baru bagi generasi muda.(*)
