Oleh: Victor Yeimo
Kita bangsa Papua sedang berdiri di persimpangan sejarah, di bawah bayang-bayang pemilu kolonial yang tidak lebih dari sandiwara yang mengaburkan hak-hak kita. Pemilu hanyalah ilusi kebebasan yang diatur oleh penjajah untuk menutupi kenyataan penjajahan yang masih terus berlangsung.
Demokrasi kolonial dalam pemilu bagi rakyat jajahan bukanlah ekspresi kehendak rakyat, melainkan instrumen yang digunakan penjajah untuk mengekang suara dan mengendalikan takdir bangsa jajahan.
Pemilu bagi kita adalah panggung sandiwara kolonial untuk membatasi pilihan kita dan terus memelihara dominasi penjajah. Pemilu dalam konteks penjajahan bukanlah cermin demokrasi sejati, tetapi lebih kepada legitimasi penjajahan yang diterapkan melalui ilusi partisipasi rakyat.
Demokrasi kolonial melalui pemilu bukanlah bentuk pemberdayaan rakyat, melainkan alat untuk menjaga hegemoni ekonomi dan politik penjajah di atas segalanya. Pemilu dalam penjajahan adalah cara licik penjajah untuk memanipulasi jalannya pemerintahan demi memenuhi hasrat ekonomi dan politik mereka sendiri, tanpa memperhitungkan kesejahteraan rakyat.
Referendum adalah panggilan untuk menentukan nasib kita sendiri, bukan diatur oleh pihak asing. Pemilu kolonial hanya menggiring kita dalam arus sistem yang memanfaatkan kita. Bangsa terjajah harus bisa melepaskan diri dari permainan itu dan tunjukkan bahwa kita berdiri bersama dalam kebebasan sejati.
Dalam referendum, kita tidak hanya memilih, tetapi menyuarakan keinginan untuk kemerdekaan yang sesungguhnya. Referendum bukan hanya solusi demokratis, tetapi juga tindakan yang sesuai dengan moral dan hukum internasional
Hukum internasional memberikan pengakuan bahwa setiap bangsa berhak menentukan status politiknya tanpa campur tangan eksternal yang merugikan. Referendum menjadi alat yang diperbolehkan dan diakui dalam perspektif hukum internasional untuk mengungkapkan keinginan rakyat akan bentuk pemerintahan dan status politik mereka.
Referendum bukan hanya hak kita, tetapi juga kewajiban untuk membuktikan bahwa kita dapat menjadi arsitek masa depan kita sendiri. Mari bersama-sama, rakyat yang terjajah, bangunlah kebebasan kita.
Lampu Merah, Waena
