Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Antropologi Uncen, Kisah di Usia 40 Tahun
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Jendela Papua > Features & Sosok Inspiratif > Antropologi Uncen, Kisah di Usia 40 Tahun
Features & Sosok InspiratifSeni & Budaya

Antropologi Uncen, Kisah di Usia 40 Tahun

admin
Last updated: September 21, 2026 17:37
By
admin
Byadmin
Follow:
750 Views
9 years ago
Share
SHARE

Jayapura, nirmeke.com – Johz Manzoben adalah dosen generasi awal di Jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih (Uncen) yang sudah pensiun mengajar. Pada era 1970-an, ia salah seorang pemuda Papua yang ‘dipersiapkan’ menjadi dosen sebelum jurusan ini didirikan dengan mengirimnya belajar ke Universitas Indonesia.

Iklan Nirmeke

Menerima Jubi untuk wawancara khusus pada Selasa (16/1) siang di teras rumahnya yang nyaman, Johz terlihat masih segar dan enerjik. Ia menceritakan tentang awal pendirikan Jurusan Antropologi Uncen yang 9 Januari kemarin genap 40 tahun.

“Rencana pendirian Jurusan Antropologi di Uncen diawali dengan pembentukan sebuah lembaga yang mengurus penelitian, museum, dan pendidikan antropologi di Uncen, langsung di-SK-kan oleh menteri pada 1 Mei 1963, setahun setelah Uncen berdiri dengan menunjuk Profesor Koentjaraningrat,” katanya.

Koentjaraningrat adalah antropolog terkemuka Indonesia yang mengajar di Jurusan Antropologi Universitas Indonesia (UI). Setelah mengaktifkan lembaga ini dengan kegiatan penelitian tentang kebudayaan Papua dan pembuatan museum antropologi Papua, tinggal kegiatan pendidikan yang belum terlaksana karena belum ada jurusan antropologi, karena minimnya tenaga dosen.

“Mereka yang mengelola lembaga tersebut adalah dosen dari UI dan peneliti dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dari Jakarta, tentu untuk mengelola dan mengajar sebuah jurusan di Uncen tidak bisa,” katanya.

Karena itu Koentraningrat meminta dan mengirimkan sejumlah pemuda ke UI untuk menjadi mahasiswa Jurusan Antropologi dengan perjanjian setelah tamat bersedia menjadi dosen di Uncen.

Diawali dengan mengirimkan Oscar Siregar pada 1970, kemudian empat orang lainnya pada 1976, Johz Manzoben pada 1977, serta Dumatubun dan Sanggenafa pada 1979.

Ketika Koentjaraningrat mendirikan Jurusan Antropologi Uncen pada 9 Januari 1978, para mahasiswa tersebut belum ada yang selesai. Baru kemudian Oscar Siregar kembali dan menjadi staf pengajar.

Baca Juga:  Musisi, Komunitas, dan Jurnalis Bersatu Galang Dana untuk Siswa Pengungsi Nduga

“Saya setelah selesai di UI kemudian melanjutkan S2 ke Universitas Leiden di Belanda, selesai langsung mengajar di Uncen pada 1986 bersama Sanggenafa, sedangkan yang lain sudah kembali dan mengajar pada 1982 dan 1983,” kenang Johz.

Sebelum para dosen baru dari Papua ini datang, jurusan diajar oleh sejumlah ‘dosen terbang’ dari UI yang kadang kala dalam satu semester datang satu kali.

“Di awal jurusan ini kebanyakan teman-teman yang mengajar melakukannya dengan susah, karena sulit menerapkan kurikulum seperti di UI, di sinilah suka dukanya,” ujar penulis buku tentang politik lokal masyarakat Papua ini.

KEUNGGULAN PENELITIAN

Peran penting lembaga antropologi di Uncen adalah melakukan penelitian awal tentang kebudayaan Papua yang akhirnya menjadi rujukan banyak penelitian berikutnya. Era 1960-an hingga 1970-an adalah medan yang tentu saja sangat berat untuk melakukan penelitian di pedalaman Papua.

Johz menceritakan, sejak didirikan pada 1963 penelitian antropologi tentang budaya Papua terus digencarkan oleh lembaga yang dipimpin Profesor Koentjaraningrat.

“Penelitian ini menjadi keunggulan tersendiri bagi lembaga antropologi Uncen, karena dari penelitian kami banyak peneliti dari berbagai negara di bidang antropologi, linguistik, pendidikan, kesehatan, arkeologi, dan botani melanjutkan penelitian,” ujarnya.

Penelitian yang telah dipublikasikan di antaranya oleh Profesor Koentaraningrat tentang kebudyaan orang Bonggo, terutama sistem kekerabatannya yang dipublikasikan dalam jurnal internasional BKIA.

Prof. Dr. Parsudi Suparlan meneliti tentang kebudayaan orang Arso yang dipublikasikan melalui Buletin of Irian Jaya Development. Kemudian Drs. Anwas Iskandar melakukan penelitian yang dibukukan tentang orang Mukoku.

Penelitian yang paling berkesan bagi Joshz yang juga dilibatkan sebagai peneliti lokal adalah bersama Prof. Dr. M.T Walker pada 1972 hingga1974. Penelitian tersebut tentang Fishing Industry in Jayapura: Market Resources In Jayapura; Copra Industri in Raja Ampat, Sorong; Economic and Sosial Change Among the Asmats.

Baca Juga:  Festival Budaya Lanny Jaya ke-4 Digelar, Bupati Aletinus: Mari Jaga Budaya dan Bahasa Daerah

“Ketika Prof Walker melakukan penelitian di Asmat selama setahun, kami diikutkan tinggal selama setahun hidup bersama dengan masyarakat di sana,” kenangnya.

Lembaga antropologi Uncen waktu itu terkenal juga dengan penerbitan jurnal ilmiah antropologi bernama “Buletin of Irian Jaya Development” yang terbit dari 1972 hingga 1955, kemudian 1998. Jurnal ini memuat berbagai hasil penelitian tentang Papua

“Majalah ini memiliki pelanggan dari berbagai lembaga internasional dan pribadi berjumlah 800 eksemplar, para pelanggan dari berbagai negara di dunia,” kata Johz.

Sedangkan untuk museum telah dikoleksi etnografi dari berbagai tempat di Tanah Papua yang dilengkapi inventaris, katalogisasi, dan display.

Kini Jurusan Antropologi Uncen beraktivitas seperti umumnya Jurusan Antropologi di perguruan tinggi provinsi lainnya di Indonesia. Termasuk di bidang penelitian, dengan keluhan yang mirip.

Ketua Jurusan Antropologi Uncen Marlina Falssy kepada Jubi mengatakan, sebenarnya saat ini banyak penelitian yang telah dilakukan dosen, alumni, dan mahasiswa, namun tidak terpublikasikan.

“Kami mempunyai jurnal yang dikerjakan Pak Jack Morin, tidak rutin juga karena terkendala keuangan, banyak hal yang kami lakukan tetapi hari ini kami akan refleksi semua yang terjadi agar memajukan jurusan ini ke depan,” katanya.

Meski jurusan ini sekarang memiliki 300 mahasiswa aktif dari angkatan 2013 hingga 2017, Marlina mengatakan peminat selalu naik dengan pada 2017 diterima 150 orang. Namun ini menurutnya tidak sebanding dengan jumlah dosen yang hanya 21 dengan dua orang masih pegawai kontrak dan tujuh orang sedang studi S3.

“Jadi dosen yang aktif tinggal 12, rationya tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa,” ujarnya. (*)

Related

You Might Also Like

Pengurus Sekolah Adat Siap Gelar Festival Sekolah Adat Hugulama I Tahun 2026

Nikolaus Haluk, Perintis Seni Pahat di Jayawijaya

Minumnya usaha Bengkel otomotif permanen milik OAP

Asrama Samuel Danowage, Korowai Batu

Lis Tabuni Sosialisasikan Empat Pilar MPR RI kepada Komunitas Papua Kreatif di Nabire

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Bekerja Keras Menekan Angka Penderita HIV/AIDS
Next Article Gubernur Papua tidak Ingin PON Jawa Barat Terulang Pada PON 2020 di Papua. Ini Alasannya!
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

GAMKI Lanny Jaya Gelar Rakercab dan Mahaperta, Pemuda Diajak Berperan dalam Pembangunan
Papua Pegunungan
5 days ago
Panitia PAB Serahkan 24 Anggota Baru kepada Pengurus IPMPKDPT
Pendidikan
5 days ago
Hamka Yelipele Dilantik sebagai Anggota MRP Papua Pegunungan, Keluarga Gelar Syukuran
MRP Papua Pegunungan
6 days ago
Markus Haluk Tekankan Pentingnya Budaya, Iman, dan Literasi Digital bagi Generasi Muda
Pendidikan
1 week ago
Baca juga
Features & Sosok Inspiratif

Menjual sayur dari kebun sendiri

9 years ago
Features & Sosok Inspiratif

Mengenal Rein Foreman Ansanay, Pemuda Gigih yang Membiayai Kuliahnya Dari Hasil Odong – odong

6 years ago
Seni & Budaya

Di Wamena, Noken Sambut Bayi Baru Lahir

8 years ago
Features & Sosok Inspiratif

Fredy Degei, Barista asal Papua yang peduli kopi Papua 

8 years ago
Features & Sosok InspiratifKesehatan

Bekerja Keras Menekan Angka Penderita HIV/AIDS

9 years ago
ArtikelSeni & Budaya

Mengapa Saya Tidak Suka Disebut Suku Dani?

4 years ago
Seni & Budaya

RAMBUT DI MATA ORANG HUGULA

2 years ago
Features & Sosok Inspiratif

Jimmy Weyato, guru perintis di Korowai Batu

9 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?