Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Dua Cahaya Musik dari Pulau Biak Numfor, Papua Arnold Clemens Ap dan Sam Kapissa
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Catatan Aktivis Papua > Dua Cahaya Musik dari Pulau Biak Numfor, Papua Arnold Clemens Ap dan Sam Kapissa
Catatan Aktivis PapuaSeni & Budaya

Dua Cahaya Musik dari Pulau Biak Numfor, Papua Arnold Clemens Ap dan Sam Kapissa

admin
Last updated: September 28, 2026 16:45
By
admin
Byadmin
Follow:
5 Views
1 hour ago
Share
Dua Cahaya Musik dari Pulau Biak Numfor, Papua Arnold Clemens Ap dan Sam Kapissa - Dok Pribadi
SHARE

I. Arnold. C. Ap

Iklan Nirmeke
Arnold Clemens Ap lahir di pulau Numfor, Biak, pada tanggal 1 Juli 1945 Ia tumbuh menjadi seorang antropolog, budayawan, sekaligus musisi yang memahami bahwa musik adalah bahasa yang mampu menyatukan hati dari ujung Sorong hingga Merauke.

Pada tahun 1972, bersama teman-temannya termasuk Sam Kapissa, ia mendirikan grup musik Manyori nama yang berarti “Burung Nuri” dalam bahasa Biak Ini adalah langkah awal mereka menjadi kelompok pertama yang memainkan musik rakyat Papua di ruang gereja, memadukan suara tifa, gitar, dan ukulele .

Kemudian, pada tanggal 5 Agustus 1978, di lingkungan Universitas Cenderawasih, Jayapura, Arnold bersama Sam Kapissa, Eddy Mofu, Yoel Kafiar, dan Martiny Sawaki mendirikan grup Mambesak nama yang berarti “Burung Cenderawasih” dalam bahasa Biak. Arnold menjadi ketua sekaligus kurator Museum Universitas Cenderawasih. Melalui Mambesak, ia tidak sekadar menyanyikan lagu, melainkan menghidupkan kembali nyanyian-nyanyian rakyat yang mulai terlupakan, merekamnya dalam kaset, dan menyebarkannya ke seluruh pelosok tanah Papua .

Ia juga mengelola siaran radio mingguan “Pelangi Budaya Irian Jaya” di RRI Jayapura mengisahkan legenda, menyanyikan lagu-lagu daerah, dan mengangkat cerita dari setiap suku Acara ini disambut luar biasa, didengar dan dicintai banyak orang selama lima tahun .

Namun, kekuatan persatuan yang tumbuh dari lagu-lagu itu dianggap mengancam Pada November 1983, Arnold dipenjara tanpa dakwaan yang sah, Di dalam sel, ia menciptakan lagu terakhirnya “Hidup Ini Suatu Misteri” yang dikirimkannya kepada istrinya. Pada tanggal 26 April 1984, Arnold Clemens meninggal secara Misterius Ia berpulang, namun lagunya tetap hidup, bergema dari mulut ke mulut, dari pulau ke pulau, menjadi warisan tak terhapuskan.

II. Isaac Samuel Kapissa, Penjaga Nada Tanah Air

Isaac Samuel Kapissa, atau dikenal sebagai Sam Kapissa, lahir pada 1 Desember 1947 di Yoka, Jayapura, dari keluarga berdarah Biak . Sejak muda, ia menunjukkan bakat luar biasa bukan hanya musisi, melainkan pengukir kayu, peneliti musik rakyat, dan pelestari budaya.

Awalnya ia berniat menjadi pengajar matematika, namun panggilan jiwa membawanya beralih mempelajari musik etnik. Ia menelusuri lagu-lagu lama dari kampung ke kampung, mengumpulkan nada-nada yang hampir hilang, lalu mengaransemennya kembali agar dapat didengar generasi muda.

Bersama Arnold Ap, Sam adalah pendiri sekaligus pengatur musik utama grup Manyori (1972) dan kemudian Mambesak (1978) Ia mengaransemen banyak lagu paling terkenal, menyatukan bunyi tifa dengan melodi yang menyentuh hati,Karya-karyanya yang abadi antara lain.
“Sup Yenaiwa”, “Marandan Bebye”, “Meos Befondi”, dan “Rumuri Swano Wampasi” lagu yang diciptakannya untuk saudara perempuannya yang merantau jauh ke Suriname .

Sam terus berkarya setelah kepergian sahabatnya Arnold Ap, Ia tetap mengukir kayu, menciptakan lagu, dan membimbing seniman muda hingga akhir hayatnya Ia berpulang di Biak pada 18 Agustus 2000 .
Hingga kini, namanya dihormati sebagai bapak musik rakyat Biak; Pemerintah Kabupaten Biak Numfor pun menggelar penghormatan “Tribute to Sam Kapissa” pada Festival Budaya Biak tahun 2024 sebagai pengakuan atas jasa-jasanya .

III. Warisan yang Tetap Terbang

Ada sebuah lagu yang diciptakan untuk mengenang persahabatan dan perjuangan mereka berdua berjudul “Mambruk ma Manyouri”, yang berarti “Burung Mambruk dan Burung Nuri”, Lagu itu menyebutkan dua orang putra Biak Numfor, yang berusaha menyatukan rakyat Papua lewat nyanyian, tarian, dan musik,Mereka berdua pergi, namun pesannya tetap ada di setiap nada yang terdengar di tanah ini.

Arnold Clemens Ap dan Sam Kapissa dua nama yang tak akan pernah pudar dari sejarah musik dan budaya Papua. Mereka mengajarkan bahwa lagu bukan sekadar bunyi, melainkan jiwa sebuah bangsa yang tak dapat dipadamkan.(**)

Baca Juga:  Kedunguan Ismail Asso Dkk Dalam Penempatan Sepihak Kantor Pusat Pemerintahan PPP Di Wamena

Sumber: Biak-Supiori Tempo Dulu

Related

You Might Also Like

Tanpa Gedung, Tanpa Upah, Tapi Penuh Cinta: 17 Anak Pengungsi Lulus dari SD Kristen Duma

Berganti-ganti Presiden di Indonesia, Papua Barat Tetap Jadi Bangsa Terjajah

Genap Satu Tahun, Indonesia Abaikan Pilot Philip Marthens Ditangan Brigjen Egianus Kogeya

HUT ke-62 Bangsa Papua : Ormas Reaksioner NTT dan Polisi serang Massa Aksi AMP dan FRI-WP di Kupang

Penting Membaca Buku Bertani dan Berkebun di Papua

TAGGED:Arnold. C. ApIsaac Samuel KapissaMambesak

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article 24 Pemain Lolos Seleksi, Wamena United Putri Bidik Juara Liga Pertiwi 2026
Next Article LMA Jayawijaya Sosialisasikan Buku Peradilan dan Sanksi Hukum Adat
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

LMA Jayawijaya Sosialisasikan Buku Peradilan dan Sanksi Hukum Adat
Papua Pegunungan
57 minutes ago
24 Pemain Lolos Seleksi, Wamena United Putri Bidik Juara Liga Pertiwi 2026
Olaraga
3 days ago
Hak Kesulungan Politik Sebagai Simbol Dalam Kontekstasi Politik
Artikel
3 days ago
HIPMAS Papua Pegunungan Dorong Pengusaha Muda OAP Jadi Penggerak Ekonomi
Ekonomi & Bisnis Papua Pegunungan Tanah Papua
3 days ago
Baca juga
Seni & BudayaTanah Papua

Libarek Menjadi Pelopor Penetapan Hukum Adat di Jayawijaya

11 months ago
Catatan Aktivis Papua

Ketika Kita Berkata Jujur Tentang Papua, Maka Papua Sesungguhnya Bukan Indonesia

2 years ago
Catatan Aktivis PapuaTanah Papua

Peringati Rasisme dan New York Agreement, KNPB Akan Mobilisasi Rakyat Papua Turun Jalan

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaEkonomi & Bisnis

Satukan Para Sarjana, Bangun Kampung

4 years ago
Catatan Aktivis Papua

60 Tahun Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Papua Barat (1963-2023)

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaHeadline

Waspada, Sorong-Manokwari-Nabire-Jayapura dan Merauke Jadi Pintu Masuk Pencaker Non Papua

2 years ago
Seni & BudayaTanah Papua

Festival Budaya Lanny Jaya ke-4 Digelar, Bupati Aletinus: Mari Jaga Budaya dan Bahasa Daerah

1 year ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Umur itu pendek di Papua. Sementara penderitaan itu panjang

7 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?