Yogonima, nirmeke.com — Keterbatasan akses pendidikan di wilayah pegunungan kembali mendorong masyarakat mengambil inisiatif sendiri. Di Kampung Yogonima, Distrik Itlay Hisage, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, masyarakat bersama gereja dan lembaga pendidikan menghadirkan Sekolah Adat Hugulama dan Sekolah Jarak Jauh SD YPPK Santo Don Bosco Pugima.
Kedua lembaga pendidikan tersebut diberkati pada Minggu (2/8/2026), sekaligus menjadi momentum penting bagi masyarakat dalam memperluas akses pendidikan dasar bagi anak-anak di wilayah yang selama ini menghadapi hambatan geografis.
Kehadiran sekolah ini bukan sekadar membangun ruang belajar baru, tetapi menjadi jawaban atas persoalan jarak dan kondisi geografis yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan bagi anak-anak di Itlay Hisage.

Anak-anak dari sejumlah kampung harus menempuh perjalanan sekitar 5 hingga 30 kilometer untuk mencapai sekolah. Medan yang harus dilalui tidak mudah, mulai dari pegunungan terjal, perbukitan, lembah hingga menyeberangi sungai.
Kondisi tersebut membuat akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah pedalaman tidak dapat disamakan dengan daerah perkotaan.
Sekolah Adat Menjaga Identitas Hugula
Di tengah keterbatasan akses pendidikan formal, masyarakat Hugula juga membangun Sekolah Adat Hugulama sebagai ruang pendidikan berbasis budaya.
Sekolah Adat Hugulama berdiri secara independen dan bergerak dalam pendidikan informal dan nonformal. Materi pembelajarannya mencakup budaya, bahasa daerah, sejarah, nilai-nilai adat, kepemimpinan, kearifan lokal serta pembentukan karakter generasi muda Hugula.
Saat ini Sekolah Adat Hugulama telah memiliki enam titik yang tersebar di Distrik Itlay Hisage, Walelagama dan Siep Kosi.
Lembaga tersebut juga telah memperoleh izin operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya untuk mengembangkan sekolah adat melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Dukungan terhadap pengembangan pendidikan berbasis budaya juga datang dari Keuskupan Jayapura melalui Komisi Sosial dan Budaya yang mendorong kolaborasi bersama Sekolah Adat Hugulama.
Bagi masyarakat, pendidikan tidak hanya berbicara mengenai kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Pendidikan juga harus memastikan anak-anak mengenal siapa dirinya, bahasa, sejarah, adat dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
Sekolah Jarak Jauh Menjawab Persoalan Geografis
Sementara itu, Sekolah Jarak Jauh SD YPPK Santo Don Bosco Pugima hadir untuk menjawab kebutuhan pendidikan formal anak-anak di wilayah Itlay Hisage.
Secara administratif, sekolah tersebut berada di bawah SD YPPK Santo Don Bosco Pugima. Seluruh data peserta didik akan didaftarkan melalui sekolah induk tersebut.
Dalam pelaksanaannya, sejumlah guru lama dari YPPK bersama guru lokal akan membantu proses pembelajaran secara sukarela sambil menunggu proses perekrutan guru baru oleh yayasan.
Model tersebut diharapkan dapat mengurangi hambatan anak-anak dalam mengakses pendidikan dasar tanpa harus meninggalkan kampung dalam waktu lama.
Pendidikan Formal dan Adat Berjalan Berdampingan
Sekolah Adat Hugulama dan Sekolah Jarak Jauh memiliki fungsi yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi.
Sekolah Jarak Jauh menjalankan pendidikan formal dengan mengacu pada kurikulum nasional. Sementara Sekolah Adat Hugulama memberikan ruang bagi anak-anak untuk memahami budaya, bahasa, sejarah, nilai adat dan pengetahuan lokal masyarakat Hugula.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan formal tidak harus menghilangkan identitas budaya masyarakat.
Sebaliknya, pendidikan dapat menjadi ruang untuk memperkuat pengetahuan akademik sekaligus menjaga hubungan generasi muda dengan budaya dan lingkungan sosialnya.
Masyarakat Tidak Ingin Anak-Anak Terputus dari Pendidikan
Pemberkatan kedua lembaga pendidikan tersebut menjadi pesan bahwa keterbatasan geografis tidak boleh menjadi alasan bagi anak-anak Papua Pegunungan kehilangan hak atas pendidikan.
Masyarakat berharap pemerintah, gereja, yayasan pendidikan, tokoh adat, tokoh masyarakat dan orang tua memberikan dukungan berkelanjutan agar layanan pendidikan di Itlay Hisage tidak berhenti hanya pada momentum pemberkatan.
Keberadaan guru, fasilitas belajar, bahan ajar dan dukungan pembiayaan menjadi bagian penting yang harus dipastikan agar sekolah dapat berjalan secara konsisten.

Tim Kerja Pemberkatan, Soleman Itlay selaku ketua dan Manu Hisage sebagai sekretaris, menegaskan bahwa momentum tersebut diharapkan menjadi awal bagi lahirnya generasi Hugula yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kecintaan terhadap budaya.
Pendidikan di wilayah pegunungan, pada akhirnya, bukan hanya soal mendirikan sekolah. Lebih dari itu, pendidikan adalah tentang memastikan anak-anak di kampung-kampung terpencil memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, mengenal identitasnya, dan menentukan masa depannya sendiri.
Pemberkatan Sekolah Adat Hugulama dan Sekolah Jarak Jauh SD YPPK Santo Don Bosco Pugima menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan langkah tersebut benar-benar berkelanjutan dan tidak kembali membuat anak-anak Itlay Hisage berjalan puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan hak dasar mereka: pendidikan.(Red)*
