Jayapura, nirmeke.com – Universitas Cenderawasih (Uncen) gelar Kuliah umum dan beda buku Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera) yang menggambarkan pergerakan mahasiswa pada tahun 1993 sampai dengan 1999 melawan kediktatoran Orde Baru dibawa kepemimpinan Presiden Soeharto dan ini di bagikan dalam kulia umum oleh aktor pergerakan di masa itu.
“Pembelajaran yang ingin kita ambil dari kuliah Umum saat ini adalah para mahasiswa bisa melihat nilai-nilai dari pergerakan demokrasi itu seperti apa,” kata Dr. Oscar O. Wambrauw, Rekor Universitas Cendrawasih di depan Auditorium Uncen, Kamis, (11/5/2023).
Ia mengatakan dalil diskusi tersebut banyak mahasiswa menanyakan pergerakan demokrasi pada saat itu dan Apa semangat yang perlu dipegang oleh mahasiswa saat ini.
“Yang disampaikan adalah komunikasi, kebersamaan dan aktifitas beliu, dan hal ini ditangkap oleh mahasiswa di samping kita menjalankan demokrasi dengan kegiatan mahasiswa untuk melakukan pembaharuan harus tetap berpacu pada nilai-nilai tatanan yang ada menghargai orang lain melakukan aksi tapi tanpa mengorbankan orang lain tidak merusak fasilitas umum tetapi dilakukan dengan cara yang baik, supaya demokrasi itu benar-benar terlihat,” katanya.
Berdirinya aliansi Demokrasi Rakyat merupakan awal tongkat reformasi perubahan yang dimulai oleh mahasiswa di era Orde Baru di era reformasi.
“Untuk itu dalam penyampaian tadi bahwa seperti perayaan-perayaan hari ulang tahun dan juga perayaan hari besar lainnya perlu kelahiran demokrasi juga menjadi perayaan yang perlu diperingati setiap tahun, jangan sampai tongkat sejarah reformasi itu tidak diingat maka dengan kegiatan beda buku ini, beliau akan berjuang pada tanggal 11 Juni menjadi perayaan reformasi dimulai di negara ini dan dapat di kenang dan diresapi dari masa ke masa,” katanya.
Sementara itu Anggota VI BPK RI Dr, Pius Lustrilanano yang juga pelaku pergerakan mahasiswa sebagai pendiri Aliansi Demokrasi rakyat (Aldera) mengatakan bahwa Pemerintah harus berpedoman pada sistem demokrasi Karena perjuangan demokrasi sejak 1993 sampai dengan 1999 diperjuangkan dengan susah payah dan banyak korban.
“Kita harus percaya kepada sistem yang demokratis dengan adanya demokrasi hari ini itu tidak terlepas dari perjuangan yang susah payah sebelumnya kurang lebih 25 Tahun,” katanya.
Dia juga mengajak mahasiswa pemerintah masyarakat seluruh Papua dan Indonesia untuk tetap menjaga tatanan demokrasi yang telah ada jangan sampai dirasuki oleh orang-orang yang masih memegang sifat otoriter di Orde Baru.
“Tetapi kita harus tetap waspada karena ada beberapa orang yang rindu terhadap peristiwa masa lalu untuk menerapkan yang rindu terhadap praktik-praktik otoriter yang muncul dengan ide-ide 3 periode,” katanya.
Dia juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga demokrasi di Papua.
“Maka kita harus waspada siaga dan kita tetap tolak 3 periode,” katanya,
Sementara itu saat disinggung soal beberapa ruang demokrasi yang masih saja tertutup di Papua yang sering dihadang lewat tindakan aparat keamanan ia mengatakan hal tersebut harus mengutamakan komunikasi yang baik sehingga dapat ada kesepakatan dari kedua belah pihak.
“Tetap bangun komunikasi berbicara yang baik untuk aksi atau seperti apa,” katanya.
Dalam kesempatan itu juga Dr, Pius Lustrilanano di dalam pingi Rektor Universitas Cendrawasih Tahun berapa pejabat daerah melakukan penanaman pohon di depan halaman gedung auditorium uncen sebagai bentuk penanaman demokrasi di kampus tersebut yang diharapkan bisa dirawat dan dijaga bagi generasi muda.
“Demokrasi kita juga sedang diserang oleh hama-hama otorialis Semoga dengan adanya tanaman ini kita terus mempertahankan demokrasi kita,” katanya. (*)
