Jayapura, Nirmeke.com – Bagi sebagian mahasiswa, masa studi di kampus rata-rata berlangsung empat hingga lima tahun. Namun, bagi Ayus Heluka, waktu sepuluh tahun di Universitas Cenderawasih bukan hanya soal kuliah. Ia menjadikan kampus sebagai ruang perjuangan, pendidikan, dan persatuan mahasiswa Papua.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus, Ayus tidak hanya berfokus pada bangku kuliah. Ia aktif di berbagai organisasi, baik internal seperti BEM, DPM, maupun Himpunan Mahasiswa Jurusan, hingga organisasi eksternal seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Di setiap ruang, Ayus dikenal sebagai penggerak diskusi, penggagas aksi, sekaligus mentor bagi mahasiswa baru yang tertarik menjadi aktivis.
“Banyak mahasiswa yang ia didik dengan mental dan nyali untuk melawan ketidakadilan, baik di kampus maupun di Papua secara umum,” ujar salah satu rekan seperjuangannya.
Suara Perlawanan dari Kampus
Perjalanan Ayus tidak selalu mulus. Bersama aktivis lain seperti Luky Siep, Yason Engelia, dan Samuel Wamsiwor, ia memimpin berbagai aksi protes menentang komersialisasi pendidikan, termasuk tuntutan penurunan SPP pada 2018 dan 2023.
Di bawah bimbingannya, mahasiswa diajak kritis terhadap kebijakan kampus dan berani bersuara atas ketidakadilan. Diskusi publik, aksi damai, hingga refleksi menjadi tradisi di lingkaran aktivis yang dipimpinnya.
“Mahasiswa jangan hanya kuliah, pulang, lalu diam. Aktivis harus punya peran sosial yang nyata,” kata Ayus dalam salah satu diskusinya.
Mengutamakan Persatuan dan Pendidikan
Meski banyak mahasiswa berlomba menjadi ketua himpunan atau BEM, Ayus memilih fokus membangun kesadaran kolektif. Ia meyakini persatuan mahasiswa Papua tanpa perbedaan adalah kunci untuk memperjuangkan nasib rakyat dan hak-hak dasar yang sering diabaikan.
Kini, setelah sepuluh tahun, Ayus akhirnya meraih gelar Sarjana Hukum dalam wisuda tahap III Universitas Cenderawasih, 28 Agustus 2025. Namun, jejaknya di dunia aktivisme kampus diyakini akan terus hidup di hati para mahasiswa yang pernah ia bimbing.
“Dia bukan sekadar mahasiswa, tapi guru bagi banyak generasi di kampus ini,” tutur salah satu adik tingkatnya. (*)
Pewarta: Agus Wilil
