Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Nahindah Wari,  Home Industry Sagu kering Papua 
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Kabar Daerah > Ekonomi & Bisnis > Nahindah Wari,  Home Industry Sagu kering Papua 
Ekonomi & BisnisFeatures & Sosok Inspiratif

Nahindah Wari,  Home Industry Sagu kering Papua 

admin
Last updated: September 21, 2026 17:51
By
admin
Byadmin
Follow:
601 Views
8 years ago
Share
SHARE

Jayapura, nirmeke.com – Rumah pangung di atas laut di pesisir Kampung Nelayan Hamadi, Kota Jayapura, Papua itu terlihat bersih dan apik.

Iklan Nirmeke

Di depan teras ala kadarnya terlihat sebuah meja panjang dengan tumpukan sagu kering dalam kemasan plastik 1 Kg.

Ide awalnya bermula saat menjual sagu basah di Pasar Youtefa Abepura sering ditanyai pelanggan yang hendak bepergian keluar Papua, namun kesulitan karena bobot sagu basah yang lumayan berat, bermodal coba – coba, kini ingin serius mengembangkan sagu agar bisa jadi menu tetap di semua keluarga yang ada di Papua. Hingga akhirnya berdirilah PIRT. Nahindah Wary, home industry pertama yang produksi sagu kering di Papua.

“ini hasil produksi sebulan lalu, biasa ada yang datang kemari untuk beli langsung, biasa juga kalau ada pesanan baru kami antar, kami produksi lagi kalau produksi yang ini sudah habis, karena saat ini belum berani produksi banyak karena belum mampu terserap pasar semuanya”, kata Magdalena Toto, anak dari Ondoafi Gustaf Rudolf Toto yang menjadi penanggung jawab P. IRT Nahindah Wari, home industry yang memproduksi sagu kering Papua dengan brand Nahindah Wari.

“Nahindah Wary itu maknanya sagu kita punya hidup, artinya bagi kami orang Papua sagu adalah sumber kehidupan kami, jadi bukan sekedar bahan konsumsi semata, tapi bermakna lebih dalam dan luas bagi kami orang Papua”, kata Gustaf Rudolf Toto.

Untuk itu ia sangat mendukung usaha yang tengah di rintis oleh anaknya walau terseok – seok, karena baginya apa yang di lakukan oleh putrinya adalah bentuk nyata bagaimana menjadikan sagu sebagai kehidupan, di tengah arus mondernitas yang mulai menyingkirkan sagu dari keseharian hidup orang Papua.

“saya tra pernah ikut pelatihan, saya juga tra tahu apa itu tepung sagu, tepung tapioca dan lainnya, ide awalnya ini karena saya dulu biasa jualan sagu basah di pasar Youtefa, sering orang dari luar Papua itu mau beli dan bawa untuk oleh – oleh tapi mereka bilang terlalu berat, dan sering ada yang tanya tidak ada sagu yang kering kah, makanya saya coba – coba jemur dan buat seperti yang ada saat ini, rupanya ada yang minat, sampai sekarang ini”, kata Magdalena Toto sambil tersenyum.

Baca Juga:  Menahan serangan malaria dengan kelambu

Awal produksi sekitar bulan Juni 2018, dan ia pasarkan pertama kali di lokasi Festival Danau Sentani.

“saya tidak tahu apa itu tepung sagu, makanya saya sebut ini papeda sagu kering, jadi memang bagaimana bisa di bawa jalan jauh dan tahan lama, tapi tetap masih bisa di olah jadi papeda seperti pake sagu basah”, katanya lagi sumringah.

sagu kering Nahi ndah Wary kemasan 1 Kg. 

Proses pengolahan sagu kering ala Magdalena Toto juga menggunakan peralatan sederhana, belum ada sentuhan teknologi sama sekali.

“semuanya pake peralatan di rumah yang ada saja, pake loyang, ayakan santan, sama ada yang kita buat sendiri pake kayu biar agak lebar dan bisa lebih cepat ayaknya, semua masih alami”, kata Magdalena Toto.

Untuk saat ini untuk produksi ia masih memilih membeli sagu dari pasar, ketimbang mengolah dusun sagunya sendiri.

Biasa per tumang sagu atau 1 sak terigu ia beli dari pasar seharga Rp. 200.000 – Rp. 350.000, dan bila di olah bisa jadi 25 Kg sagu kering, yang ia banderol dengan harga Rp. 25.000 / Kg kalau pembelian borongan dan eceran per Kg Rp. 30.000.

“saya belum pernah timbang satu tumang itu beratnya berapa, tapi jadinya itu bisa 25 Kg kalau sagu kering, untuk tahan lama sejauh ini sagu kering itu lebih tahan lama dibanding dengan sagu basah, tapi saya belum pernah lakukan uji berapa lama bisa bertahan”, katanya lagi.

Selama ini setiap sekali produksi ia bisa menghasilkan 200 bungkus – 500 bungkus sagu kering, yang terjual bisa 1 bulan – 3 bulan baru habis terjual.

“saya ingin produksi setiap hari, tapi kan sampai saat ini belum ada yang siap tampung setiap produksi kami, jadi masih musiman, tergantung orderan, atau setelah produksi habis barulah kami buat baru lagi”, kata Magdalena.

Untuk pemasaran saat ini ia sudah berani menitip jualakn (konsinyasi) sagu kering Nahindah wari ke beberapa toko besar dan bersaing dengan beberapa tepung lainnya buatan pabrik dari luar Jawa.

“ada beberapa toko, di Saga Abe juga ada titip, di Toko Cahaya 45, juga ada di kantin di Bandara Sentani, dan biasa ada orderan dari Wamena juga yang kami layani, tapi jumlahnya maish terbatas”, katanya lagi.

Baca Juga:  Noken buah tangan Mama; yang dibanggakan, yang dilarang

Untuk menjaga kualitas sagu kering hasil produksinya, sagu – sagu yang di beli dari pasar, selalu di lakukan proses pencucian dan pembersihan ulang oleh Magdalena Toto yang saat memproduksi di bantu juga oleh ipar dan sodara – sodara lainnya.

“jadi sagu yang di beli dari pasar itu kadang ada kotor sedikit, makanya kami cuci ulang, ada penanganan khusus sedikit yang jadi rahasia keluarga, agar sagu bisa awet dan bersih, setelah itu di peram dulu semalaman sebelum di jemur, dan setelah kering kami lakukan penyaringan sampai 3 tahap barulah di kemas”, jelas Magdalena Toto.

Sagu kering Nahindah Wari yang di produksinya sudah pernah ia uji cobakan ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Papua dan sudah ada hasil uji labnya.

“kalau merujuk ke standar tepung sagu, memang masih ada beberapa kekurangan misalnya kadar airnya masih cukup tinggi, yakni 14%, sedangkan sesuai standar maksimal 13 %, juga ukuran ayakannya juga masih harus lebih halus lagi, makanya untuk produksi selanjutnya akan kita benahi”, katanya lagi.

Dari pengamatan beberapa pembenahan yang perlu di lakukan untuk lebih memperbaiki produk sagu kering Nahindah wari buatam Magdalena Toto ini adalah di aspek packaging (kemasan-Red), control quality, jaringan distribusi dan pemasaran.

“itu sudah, untuk kemasan ini kami masih pake print kertas HVS biasa saja, terus kami lakban pake plastic bening di bagian luar plastic kemasan, untuk mengurangi kadar air juga memang kami butuh mesin pengering, supaya ada keseragaman standar”, kata Magdalena curhat beberapa kendala yang masih menghambat kemajuan usahanya.

Ia mengaku hingga saat ini belum ada satupun perhatian ataupun bantuan yang ia terima dari Pemerintah, namun hal itu tidak membuatnya patah semangat dan tetap berproduksi walau harus berjalan terseok – seok dengan kondisi yang serba kekurangan.

“kami sangat berharap adanya pendampingan agar bisa kami benahi apa – apa yang kurang dan bisa berproduksi secara massal dan rutin”, kata Magdalena lagi.(*)

 

Editor        : Admin

Sumber    : TIFAOnline

 

Related

You Might Also Like

Panen Raya Kacang Tanah di Mamberamo Tengah, Pemprov Papua Pegunungan Dorong Ekonomi Berbasis Potensi Lokal

Papua Pegunungan Mulai Datangkan Ikan Segar dari Biak, Alpius: Hasil Bumi Kami Juga Akan Dipasarkan ke Pesisir

Bekerja Keras Menekan Angka Penderita HIV/AIDS

Kaya Potensi Perikanan Dan Pariwisata, Distrik Depapre Harus Jadi Perhatian Serius Pemerintah

Ratusan Mama-Mama Pedagang Papua Audiensi dengan Gubernur Papua Barat Daya

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Perekrutan Relawan KPA provinsi Papua Dipending, Ini Alasannya?
Next Article Dua warga sipil tertembak di Lani Jaya oleh timah panas Polisi
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Markus Haluk Tekankan Pentingnya Budaya, Iman, dan Literasi Digital bagi Generasi Muda
Pendidikan
5 hours ago
IPMPKDPT Gelar Penerimaan Anggota Baru, Perkuat Iman Katolik dan Budaya Papua
Tanah Papua
16 hours ago
KPA Lanny Jaya Edukasi Mahasiswa Mapogadi, Dorong Kesadaran dan Kepedulian terhadap HIV/AIDS
Kesehatan
1 day ago
Operasi Militer Meluas di Tolikara, Warga Sekitar Gereja Moria Diduga Ditangkap
Polhukam Tanah Papua
1 day ago
Baca juga
Ekonomi & BisnisPariwisataTanah Papua

Bupati Wonda: FDS XV Diserbu 147 Ribu Pengunjung, Perputaran Uang Tembus Rp1,2 Miliar

1 month ago
Ekonomi & BisnisPapua PegununganPariwisata

Apa Itu “Wim Luka Tok”? Atraksi Langka Ini Akan Tampil di Pra-FBLB Pasir Putih

2 months ago

KAPP Lanny Jaya Klaim Kualitas Terbaik Batu Bata Merah Wilayah Lapago Ada Di Lanny Jaya

4 years ago
Features & Sosok Inspiratif

Cinta di Balik Rambut Panjang Lelaki Papua

4 years ago
Features & Sosok InspiratifSastra

Mengajar ala Gerakan Papua Mengajar

9 years ago
Ekonomi & Bisnis

Kelompok Tani Lilarima Gelar Panen Bersama di Jayawijaya, Dinas Pertanian dan Kampus Yapis Hadir Beri Dukungan

1 year ago
Ekonomi & BisnisLingkungan

Banjir Rendam Kebun Warga di Empat Kampung Jayawijaya, Masyarakat Terancam Krisis Pangan

7 months ago
Ekonomi & Bisnis

Produk Unggulan Anak Tolikara Tampil di Musda I KADIN, Kopi hingga Es Krim Buah Merah Curi Perhatian

3 months ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?