Sentani, nirmeke.com — Wayuh Heluka, mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) Walter Post Jayapura sekaligus mantan Ketua BEM periode 2020–2021, resmi mempresentasikan skripsinya yang berjudul “Perlawanan Mahasiswa terhadap Praktik Rasisme di Tanah Papua”. Karya ilmiah ini lahir dari pengalamannya mengikuti dinamika sosial dan konflik kemanusiaan di Papua selama beberapa tahun terakhir.
Wayuh menyatakan bahwa penelitian tersebut dilatarbelakangi kondisi di Papua yang menurutnya tidak stabil dan sarat kekerasan. Ia menilai mahasiswa teologi memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara atas kekerasan dan diskriminasi yang dialami masyarakat.
“Kami mahasiswa teologi tidak bisa diam. Umat Tuhan dibantai, dibunuh, disiksa, dan dipenjarakan. Lalu kami berkhotbah kepada siapa?” ujar Wayuh dalam keterangannya kepada media.
Ia menyerukan agar sekolah-sekolah teologi dan pimpinan gereja di seluruh Papua mengambil sikap profetis terhadap situasi kemanusiaan yang masih terjadi di berbagai wilayah konflik seperti Nduga, Intan Jaya, Puncak, Yahukimo, Pegunungan Bintang, dan Sorong.
“Pemimpin sekolah teologi dan gereja harus terus bersuara dan menjaga umat dengan berbagai cara. Diam adalah sikap yang tidak terpuji ketika umat sedang mengalami penderitaan,” tegasnya.
Wayuh mengaku selama tiga tahun terakhir lebih banyak turun ke wilayah rawan konflik untuk melihat langsung situasi masyarakat, dan pengalaman itu turut membentuk perspektif penelitiannya.
“Skripsi ini lahir dari kondisi nyata Papua. Ini refleksi hidup saya selama berada di daerah-daerah konflik. Terima kasih kepada rekan-rekan yang terus mendorong saya dan kepada awak media yang selalu mengawal suara rakyat Papua,” tuturnya.
Sementara itu, Roniel Mirin, Ketua BEM STT Walter Post Jayapura periode 2023–2024, turut memberikan apresiasi atas penelitian tersebut.
Ia menilai skripsi Wayuh menjadi sumbangsih penting bagi dunia akademik teologi, gereja, dan masyarakat Papua.
“Rasisme adalah musuh manusia. Karya ini membantu kita melihat dinamika sosial Papua dan menjadi referensi penting untuk mahasiswa teologi agar berperan sebagai agen perubahan dan kontrol sosial,” ujar Roniel.
Ia berharap hasil pemikiran tersebut dapat memperkuat kemampuan akademik mahasiswa teologi dan mendorong kolaborasi dalam menyikapi persoalan kemanusiaan di Papua.(*)
Pewarta: Henok Giban
