Wamena, nirmeke.com – Di balik perbukitan kering Distrik Wolo, Kabupaten Jayawijaya, tersembunyi sebuah kampung yang kini perlahan mengubah takdirnya. Kampung Aitok, yang dulu dipersepsikan sebagai wilayah gersang dan sulit berkembang, hari ini mulai dikenal sebagai ruang harapan baru bagi masyarakat Pegunungan Papua.
Perubahan itu terlihat saat Bupati Jayawijaya, Atenius Murip, S.H., M.H., bersama rombongan menapakkan kaki di kampung tersebut, Sabtu (17/1/2026), usai menghadiri kegiatan UMKM Papua Kreatif Emas di Wamena. Di tengah hamparan alam yang sederhana, Aitok menyuguhkan cerita tentang kemauan, kerja keras, dan keyakinan masyarakat pada tanahnya sendiri.
Air terjun mengalir di sela bebatuan. Kolam ikan terbentang di lahan yang dulu kering. Kopi tumbuh di tanah yang sebelumnya hanya ditanami ubi. Semua itu lahir bukan dari proyek besar, melainkan dari inisiatif warga kampung yang menolak menyerah pada stigma “tidak bisa berkembang”.
“Tempat ini eksotik dan indah. Tinggal tergantung penghuninya, mau diapakan tanah ini,” ujar Bupati Atenius Murip sambil memandang lembah Aitok.
Menurutnya, Aitok adalah contoh nyata bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari bantuan pemerintah, melainkan dari keberanian masyarakat untuk mencoba.
“Dalam bahasa daerah, Aitok itu dianggap daerah yang tidak bisa dikembangkan. Tapi hari ini kita lihat sendiri, pemilik lahan dan masyarakat bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang menarik dan bermanfaat,” katanya.
Cerita Aitok adalah cerita tentang membalik anggapan. Lahan kering disulap menjadi kolam ikan. Kebun sederhana berkembang menjadi kebun kopi. Alam yang dulu dipandang biasa kini menjadi daya tarik wisata. Semua tumbuh dari tangan-tangan warga kampung.
Bupati menegaskan, pemerintah hadir bukan sebagai pemula, tetapi sebagai pendamping.
“Jangan menunggu bantuan proposal dari pemerintah. Ketika ada kemauan dan aksi nyata, pemerintah pasti datang melihat dan membantu sesuai kemampuan,” tegasnya.
Ia mencontohkan beberapa kelompok masyarakat di Distrik Wolo yang lebih dulu bergerak mengelola wisata alam secara mandiri. Setelah melihat hasil nyata, pemerintah kemudian hadir memberi dukungan berupa fasilitas dasar seperti listrik dan air.
Di Kampung Aitok, pesan itu terasa hidup. Alam tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai peluang. Tanah tidak lagi dianggap kering, tetapi subur oleh ide dan kemauan.
Di akhir kunjungan, Bupati Atenius Murip mengajak generasi muda Pegunungan Papua untuk belajar dari Aitok—bahwa perubahan tidak harus menunggu orang luar datang.
“Jangan menunggu orang lain mengubah kita. Dari diri kita sendiri, potensi alam yang ada kita kembangkan untuk kehidupan keluarga yang lebih baik,” ujarnya.
Kampung Aitok hari ini bukan sekadar kampung wisata. Ia adalah cermin bahwa di Pegunungan Jayawijaya, harapan bisa tumbuh bahkan dari tanah yang dulu dianggap tak bernilai.(*)
Pewarta: Grace Amelia
