Dekai, nirmeke.com — Empat aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Yahukimo akhirnya dibebaskan pada Senin, 14 Juli 2025, pukul 15.00 WIT. Namun, mereka keluar dari tahanan dalam kondisi fisik yang memprihatinkan, dengan luka-luka di tubuh mereka.
Keempat aktivis tersebut sebelumnya ditangkap di rumah masing-masing dalam keadaan sehat. Namun setelah beberapa hari dalam tahanan aparat gabungan—yang terdiri dari Kepolisian, Brimob, Marinir, dan Tim Damai Cartenz—mereka dibebaskan dalam keadaan luka fisik, yang menurut KNPB menjadi bukti nyata tindakan represif negara terhadap rakyat sipil.
“Kami melihat ini sebagai wajah nyata kolonialisme Indonesia di tanah Papua. Mereka ditangkap tanpa alasan jelas, dan disiksa selama proses penahanan,” ujar Sekretaris Umum KNPB Yahukimo, Nifal Enggalim, dalam keterangan tertulis.
KNPB menyatakan bahwa penangkapan, penyisiran, dan intimidasi terhadap warga sipil di Yahukimo semakin memperparah situasi keamanan dan menimbulkan ketakutan massal di tengah masyarakat.
Mereka menuntut agar tindakan represif aparat segera dihentikan, serta menegaskan kembali bahwa Yahukimo saat ini berada dalam situasi darurat militer yang tidak diumumkan secara resmi.
Tagar-tagar seperti #IndonesiaPenjajah, #YahukimoDaruratMiliter, dan #HentikanPenangkapanLiar ramai digunakan di media sosial sebagai bentuk solidaritas dan protes terhadap tindakan aparat.
KNPB juga menyerukan kepada organisasi HAM nasional dan internasional untuk turun tangan menginvestigasi kekerasan yang terjadi, serta memastikan perlindungan terhadap aktivis dan warga sipil di wilayah konflik seperti Yahukimo. (*)
Pewarta: Grace Amelia
