WAMENA, NIRMEKE.COM — Kekhawatiran warga sipil di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, kembali mencuat setelah aparat militer non-organik disebut melakukan operasi hingga ke permukiman, kebun dan kawasan hutan di sejumlah distrik.
Intelektual Distrik Kembu, Sonny Wanimbo, mengatakan aparat militer non-organik disebut telah didrop ke Tolikara sejak 5 hingga 7 Oktober 2026.
Menurut Sonny, setelah tiba di wilayah tersebut, aparat mendirikan sejumlah kamp militer di Distrik Kembu, Gundagi dan Telenggeme.
Ia mengatakan keberadaan aparat kemudian diikuti operasi ke rumah-rumah warga, kebun hingga kawasan hutan. Dalam operasi tersebut, menurut Sonny, sejumlah warga sipil diduga ditangkap.
Warga Sekitar Gereja Moria Disebut Ditangkap
Situasi yang disebut paling mengkhawatirkan terjadi di Kampung Woraga dan Kampung Wamili, Distrik Gundagi.
Sonny mengatakan pada Kamis (8/10/2026) sekitar pukul 04.00 WIT, sejumlah warga yang berada di sekitar halaman Gereja Moria, Klasis Gundagi, disebut ditangkap dan dibawa untuk menjalani interogasi.
Hingga informasi tersebut disampaikan, kata Sonny, keluarga warga yang disebut ditahan belum mengetahui secara pasti kondisi maupun keberadaan mereka.
“Warga sipil yang berada di sekitar Gereja Moria sejak pagi subuh masih diinterogasi hingga siang menjelang sore,” kata Sonny.
Menurut Sonny, interogasi tersebut disebut berkaitan dengan dugaan keberadaan pasukan TPNPB yang menurut informasi yang diterimanya berada di bawah pimpinan Botak Wanimbo.
Ia mengatakan warga diminta memberikan informasi mengenai lokasi pasukan tersebut. Sonny juga mengklaim warga yang tidak memberikan informasi mendapat ancaman dari aparat.
Informasi Diterima dari Keluarga
Sonny mengatakan informasi mengenai kondisi warga tersebut diperolehnya langsung dari anggota keluarga yang berada di lapangan melalui komunikasi telepon seluler.
Namun, informasi mengenai dugaan penangkapan dan interogasi tersebut masih merupakan keterangan dari Sonny dan belum disertai penjelasan dari pihak aparat terkait.
Sonny mendesak Pemerintah Kabupaten Tolikara tidak tinggal diam dan segera melakukan intervensi untuk memastikan keselamatan warga sipil.
Ia juga meminta pemerintah mencegah situasi keamanan berkembang menjadi ketakutan berkepanjangan di tengah masyarakat.
“Pemerintah Kabupaten Tolikara jangan tinggal diam soal kejadian ini. Masyarakat sudah trauma dan ketakutan karena diancam. Selain itu, mereka sudah tidak bebas lagi beraktivitas dan berkebun di kampung halaman mereka,” ujarnya.
Minta Pasukan Dievaluasi dan Ditarik
Sonny juga meminta Panglima TNI mengevaluasi keberadaan pasukan di wilayah tersebut dan menariknya apabila terbukti menimbulkan keresahan serta membatasi aktivitas masyarakat.
Ia menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena Tolikara, menurut dia, selama ini relatif damai dan tidak dikenal sebagai salah satu wilayah konflik bersenjata.
“Selama ini Tolikara berada dalam kondisi damai dan tidak menjadi bagian dari daerah konflik. Jangan sampai kehadiran pasukan justru membuat masyarakat hidup dalam ketakutan,” katanya.
Sonny berharap pemerintah dan aparat keamanan memastikan keselamatan masyarakat sipil serta memberikan kejelasan mengenai operasi yang disebut berlangsung di tiga distrik tersebut.
Bagi masyarakat setempat, kebun dan kawasan hutan merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari sekaligus sumber pangan keluarga. Karena itu, setiap aktivitas keamanan di wilayah tersebut dinilai perlu memperhatikan dampaknya terhadap ruang hidup dan aktivitas warga sipil.(**)

