I. Arnold. C. Ap
Arnold Clemens Ap lahir di pulau Numfor, Biak, pada tanggal 1 Juli 1945 Ia tumbuh menjadi seorang antropolog, budayawan, sekaligus musisi yang memahami bahwa musik adalah bahasa yang mampu menyatukan hati dari ujung Sorong hingga Merauke.
Pada tahun 1972, bersama teman-temannya termasuk Sam Kapissa, ia mendirikan grup musik Manyori nama yang berarti “Burung Nuri” dalam bahasa Biak Ini adalah langkah awal mereka menjadi kelompok pertama yang memainkan musik rakyat Papua di ruang gereja, memadukan suara tifa, gitar, dan ukulele .
Kemudian, pada tanggal 5 Agustus 1978, di lingkungan Universitas Cenderawasih, Jayapura, Arnold bersama Sam Kapissa, Eddy Mofu, Yoel Kafiar, dan Martiny Sawaki mendirikan grup Mambesak nama yang berarti “Burung Cenderawasih” dalam bahasa Biak. Arnold menjadi ketua sekaligus kurator Museum Universitas Cenderawasih. Melalui Mambesak, ia tidak sekadar menyanyikan lagu, melainkan menghidupkan kembali nyanyian-nyanyian rakyat yang mulai terlupakan, merekamnya dalam kaset, dan menyebarkannya ke seluruh pelosok tanah Papua .
Ia juga mengelola siaran radio mingguan “Pelangi Budaya Irian Jaya” di RRI Jayapura mengisahkan legenda, menyanyikan lagu-lagu daerah, dan mengangkat cerita dari setiap suku Acara ini disambut luar biasa, didengar dan dicintai banyak orang selama lima tahun .
Namun, kekuatan persatuan yang tumbuh dari lagu-lagu itu dianggap mengancam Pada November 1983, Arnold dipenjara tanpa dakwaan yang sah, Di dalam sel, ia menciptakan lagu terakhirnya “Hidup Ini Suatu Misteri” yang dikirimkannya kepada istrinya. Pada tanggal 26 April 1984, Arnold Clemens meninggal secara Misterius Ia berpulang, namun lagunya tetap hidup, bergema dari mulut ke mulut, dari pulau ke pulau, menjadi warisan tak terhapuskan.
II. Isaac Samuel Kapissa, Penjaga Nada Tanah Air
Isaac Samuel Kapissa, atau dikenal sebagai Sam Kapissa, lahir pada 1 Desember 1947 di Yoka, Jayapura, dari keluarga berdarah Biak . Sejak muda, ia menunjukkan bakat luar biasa bukan hanya musisi, melainkan pengukir kayu, peneliti musik rakyat, dan pelestari budaya.
Awalnya ia berniat menjadi pengajar matematika, namun panggilan jiwa membawanya beralih mempelajari musik etnik. Ia menelusuri lagu-lagu lama dari kampung ke kampung, mengumpulkan nada-nada yang hampir hilang, lalu mengaransemennya kembali agar dapat didengar generasi muda.
Bersama Arnold Ap, Sam adalah pendiri sekaligus pengatur musik utama grup Manyori (1972) dan kemudian Mambesak (1978) Ia mengaransemen banyak lagu paling terkenal, menyatukan bunyi tifa dengan melodi yang menyentuh hati,Karya-karyanya yang abadi antara lain.
“Sup Yenaiwa”, “Marandan Bebye”, “Meos Befondi”, dan “Rumuri Swano Wampasi” lagu yang diciptakannya untuk saudara perempuannya yang merantau jauh ke Suriname .
Sam terus berkarya setelah kepergian sahabatnya Arnold Ap, Ia tetap mengukir kayu, menciptakan lagu, dan membimbing seniman muda hingga akhir hayatnya Ia berpulang di Biak pada 18 Agustus 2000 .
Hingga kini, namanya dihormati sebagai bapak musik rakyat Biak; Pemerintah Kabupaten Biak Numfor pun menggelar penghormatan “Tribute to Sam Kapissa” pada Festival Budaya Biak tahun 2024 sebagai pengakuan atas jasa-jasanya .
III. Warisan yang Tetap Terbang
Ada sebuah lagu yang diciptakan untuk mengenang persahabatan dan perjuangan mereka berdua berjudul “Mambruk ma Manyouri”, yang berarti “Burung Mambruk dan Burung Nuri”, Lagu itu menyebutkan dua orang putra Biak Numfor, yang berusaha menyatukan rakyat Papua lewat nyanyian, tarian, dan musik,Mereka berdua pergi, namun pesannya tetap ada di setiap nada yang terdengar di tanah ini.
Arnold Clemens Ap dan Sam Kapissa dua nama yang tak akan pernah pudar dari sejarah musik dan budaya Papua. Mereka mengajarkan bahwa lagu bukan sekadar bunyi, melainkan jiwa sebuah bangsa yang tak dapat dipadamkan.(**)
Sumber: Biak-Supiori Tempo Dulu

